Minggu 20 Oktober 2019, 08:37 WIB

Dua Desa di Nagekeo Alami Kekeringan Terparah

Palce Amalo | Nusantara
Dua Desa di Nagekeo Alami Kekeringan Terparah

MI/Palce Amalo
Kekeringan menyebabkan pohon tidak memiliki daun dan rumput menguning di dekat ruas jalan di Kota Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo, NTT

 

BUPATI Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) Johanes Don Bosco Do mengatakan dua desa di wilayahnya mengalami kekeringan terparah sejak September 2019. Dua desa itu ialah Tedakesa di Kecamatan Aesesa dan Rindu Wawo di Kecamatan Aesesa Selatan. Kondisi itu terjadi karena sumber air di dua desa itu terletak di lokasi yang lebih rendah dari permukiman penduduk.

"Kita butuh teknologi untuk menaikan air dari tempat yang rendah ke permukiman," katanya kepada wartawan di sela-sela kegiatan Jelajah Timur-Run for Equality yang digelar Plan Indonesia, Minggu (20/10).

Lari maraton untuk amal (charity run) ini diikuti 28 pelari menempuh jarak 57 kilometer dari Kabupaten Ende ke Nagekeo dengan target mengumpulkan hingga Rp300 juta untuk membangun fasilitas air bersih di 153 dusun di NTT. Termasuk dusun-dusun di dua desa tersebut yang mengalami kekeringan terparah di Nagekeo.

Masalah lain yang dihadapi kabupaten tersebut tambah Johanes, banyak daerah resapan air berubah fungsi menjadi ladang pertanian. Termasuk kebakaran padang yang terjadi setiap tahun. Akibatnya pada musim kemarau, penyusutan sumber air lebih cepat dari biasanya.

"Akhir Mei masih ada air, tetapi memasuki Agustus hingga September, sumber-sumber air mulai kering," ujarnya.

Untuk itu, pemerintah daerah setempat terus memberikan edukasi kepada warga tidak menebang hutan agar sumber air tidak terganggu. Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah ialah membangun terasering untuk mengurangi perambahan hutan.  

"Tujuannya daerah-daerah yang gundul, atau tidak punya harapan sama sekali, bisa digarap oleh masyarakat," ujarnya.

Menurutnya dari tujuh kecamatan di Nagekeo, kecamatan yang mengalami kekeringan terbanyak ialah Aesesa Selatan. Kekeringan juga terjadi di sebagian besar Kecamatan Aesesa, Wolowae, Nangaroro, Maupongo dan Boawae

"Rata-rata desa-desa di daerah tengah dan selatan, sumber airnya ada pada tempat yang lebih rendah dari permukiman sehingga kita butuh pompa. Sementara untuk hilir malah kekurangan biaya untuk transmisi," kata Johanes.

Sedangan untuk memenuhi kebutuhan air, warga di desa-desa yang mengalami kekeringan, membeli air lewat mobil tengki. Di Kelurahan Nangaroro, Kecamatan Nangaroro misalnya warga mengumpulkan uang untuk membeli air seharga Rp75 ribu per 1.100 liter.

baca juga: Warga Aceh Berharap JK Hadiri Peringatan 15 Tahun Tsunami

Ketua RT 15 Kelurahan Nangaroro, Armandus Djogo mengatakan warga membeli air hanya untuk kebutuhan minum. Sedangkan untuk mandi dan cuci, mereka pergi ke sungai yang jaraknya sekitar 10 kilometer.

"Kalau pergi ke sungai ramai-ramai untuk mandi dan cuci," ujarnya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More