Minggu 20 Oktober 2019, 08:16 WIB

Era Disruptif, Koperasi Bergerak Inovatif

Lilik Darmawan | Teknologi
Era Disruptif, Koperasi Bergerak Inovatif

MI/Lilik Darmawan
Chief Operating Officer (COO) Kopkun Purwokerto Firdaus Putra menunjukkan aplikasi dari startup yang menjadi mitra Kopkun.

SIBUK mengurus anak? Bekerja pagi? Atau mengurus rumah? Namun, tetap ingin mendapatkan sayuran segar tanpa harus pergi ke pasar? Bagi warga di Purwokerto, Jawa Tengah (Jateng), tak perlu khawatir lagi. Ada aplikasi namanya Beceer yang tersedia di Playstore. Beceer berasal dari kata becer yang merupakan kata khas ngapak Banyumasan. Artinya
adalah belanja.

Salah seorang ibu di Purwokerto, Tyas, misalnya, kini tidak perlu lagi repot harus ke pasar untuk belanja. Karena sibuk, ia cukup membuka aplikasi Beceer untuk beli kebutuhan di Pasar Wage, pasar terbesar di Kota Purwokerto. Dia membeli berbagai macam kebutuhan, seperti ikan patin dan mujahir, bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih dan
kemiri. Tak ketinggalan sayuran kangkung, wortel, sawi, jagung manis, dan lainnya. Total harganya Rp100 ribu. Setelah memesan, tidak berapa lama, kurir Beceer datang membawa pesanannya. Praktis dan murah, karena dalam radius 5 km ongkos pengiriman hanya ditarik biaya Rp7 ribu.

"Meski belum terlalu lama, tapi respons masyarakat di Kota Purwokerto cukup bagus. Dalam sepekan, sudah lebih dari 50 transaksi. Aplikasi ini memang khusus untuk membeli sayuran segar dari pasar tradisional. Sehingga kami juga menjalin kerja sama dengan pelapak yang merupakan para pedagang di pasar tradisional yakni Pasar Wage. Ada 10 pedagang yang kini bekerja bareng dengan kami," ungkap Founder dan CEO Beceer, Bayu Lukman Yusuf pada Rabu (16/10).

Perusahaan startup yang baru dirintis tersebut berkolaborasi dengan Koperasi Konsumen (Kopkun). Pada awalnya, Kopkun berdiri dengan nama Koperasi Kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dengan bisnis utama pada swalayan dan simpan pinjam. Tetapi, Kopkun terus bergerak mengikuti zaman termasuk bersinergi dengan anak-anak muda yang mengembangkan startup. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir ada aplikasi baru bernama BookCircle. Aplikasi ini tidak hanya bergerak secara bisnis semata, melainkan juga masuk dalam literasi. Dengan aplikasi itu, maka dipertemukan pemilik buku dengan penyewa.

Jika bukunya dipinjam, maka pemilik buku bakal mendapat bagi hasil dari biaya sewa.

"Kami mengadakan kerja sama dengan pemilik kafe yang ada di Purwokerto. Sampai sekarang sudah ada 17 kafe dari target 50 kafe. Jadi di masing-masing kafe, tersedia buku dan siap dipinjam langsung. Ada yang bisa sewa sehari hingga sepekan. Biayanya juga murah antara Rp2 ribu hingga Rp10 ribu. Peminjamannya mudah, hanya dengan barcode dengan
scan ponsel android, selesai," ujar Chief Operating Officer (COO) Kopkun Purwokerto, Firdaus Putra HC kepada Media Indonesia di kafe milik yang dikelola Kopkun.

Firdaus, 34 mengatakan dua startup tersebut sengaja diajak kolaborasi sebagai bagian penting untuk transformasi Kopkun ke depannya.

"Kami bekerja ambidextrous atau kerja dengan dua tangan sekaligus. Satu sisi, Kopkun sejak awal merupakan koperasi dengan basis usaha retail dan simpan pinjam, tetapi di sisi lain kini mengembangkan entitas yang lain yakni startup yang berisi anak-anak muda. Contohnya adalah Beceer dan BookCircle tersebut,"ujarnya.

Ia mengakui, unit retail masih menjadi bisnis utama dengan omset antara Rp1 miliar hingga Rp1,2 miliar setiap bulannya. Belum lagi pergerakan simpan pinjam yang memiliki lebih dari 1.200 anggota. Hanya saja, kedua unit usaha itu tergolong konvensional.

"Kami harus bisa memprediksi ke depan, apakah 5-10 tahun mendatang masih ada swalayan. Apakah nantinya tidak hanya "warehouse saja. Sementara konsumen tinggal pesan dan barang diantarkan. Hal-hal semacam inilah butuh pemikiran yang visioner sehingga bisa memprediksi masa depan," katanya.

Pada sektor konvensional itulah, Kopkun tetap berusaha menyesuaikan dengan zaman. Misalnya untuk anggota Kopkun, kini mempunyai Sakti Link, sebuah aplikasi android yang berfungsi mengetahui transaksi, sekaligus sebagai alat pembayaran digital.

"Sakti Link bukanlah kami yang membuat, tetapi itu diproduk sebuah perusahaan yang dimiliki oleh 20 koperasi di Indonesia. Dengan aplikasi Sakti Link tersebut, ada edukasi cash less juga," ujar Firdaus.

Kopkun juga melakukan konsolidasi dengan pihak lain khususnya warung-warung di sekitar kampus Unsoed Purwokerto untuk memakai Sakti Link.

"Karena Kopkun berada di sekitar kampus, selama sekitar 6-8 bulan belakangan, menjajaki kerja sama dengan 150 warung di sekitar kampus seperti warung nasi rames, mie, dan makanan lainnya sampai warung kelontong. Mereka diedukasi untuk memanfaatkan e-money, sehingga tidak perlu repot mencari kembalian. Saat sekarang masih berjalan. Kalau sudah optimal di zona kampus, ke depannya kami bergerak ke wilayah lain," kata dia.

Karena bekerja dengan konsep ambidextrous, maka tangan digital juga terus diupayakan sama baiknya dengan konvensional.

"Seperti saya katakan, walaupun saat ini konvensional masih tetap yang mampu meraup pendapatan banyak untuk koperasi, tetapi tangan digital juga harus jadi fokus, biar terus berkembang,"imbuhnya.

Makanya, pihaknya menggelar weekly session, sebuah wadah berkumpulnya para ahli startup untuk membicarakan perkembangan aplikasi.

"Pertemuan ini penting untuk terus mengasah inovasi. Gaya kolaboratif untuk sebuah aplikasi sangat penting, karena kian banyak yang menggunakan maka akan makin tertantang para expert dan praktisinya. Mereka tentu akan terus melengkapi fitur-fiturnya, sehingga dengan satu aplikasi akan mampu merampungkan banyak urusan hanya dengan satu aplikasi," imbuhnya.

Menurut Firdaus, ke depan, tantangannya adalah sinkronisasi antara konvensional dan digital. Saat ini, di unit konvensional, banyak expert yang berpengalaman karena sudah senior. Di sisi lainnya yakni digital, mereka adalah anak-anak muda yang menawarkan teknologi.

"Secara ideal, sebetulnya bisa langsung kobalorasi. Namun, tampaknya tidak mudah juga, tetap butuh proses untuk menemukan titik yang pas. Tapi, sinkronisasi terus dijalankan. Jadi, ketika bisnis konvensional mulai memasuki senjakala, maka bidang digital yang bakal menjadi sunrise," jelasnya.

baca juga: Yummy Corp Kantongi Pendanaan Seri A Senilai 7.75 Juta Dolar AS

Hal lain yang menjadi tantangan adalah soal regulasi. Di Indonesia, untuk mendirikan koperasi sekurangnya ada 20 orang. Namun, pada RUU Koperasi yang baru, anggota awal bisa hanya sembilan orang. Kalau koperasinya adalah startup, maka bisa saja dikurangi lagi dengan jumlah anggota minimal antar dua hingga tiga orang saja. Koperasi tidak lepas
dari pengaruh disrupsi. Namun dengan inovasi maka koperasi diharapkan bakal terus beradaptasi dan bertransformasi sesuai dengan dinamika zaman. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More