Minggu 20 Oktober 2019, 09:30 WIB

Pendekatan Indonesia Sentris Membuka Keterisolasian

MI | Ekonomi
Pendekatan Indonesia Sentris Membuka Keterisolasian

Kementerian Perhubungan
Grafis

 

FILOSOFI Indonesia sentris menjadi salah satu visi yang ingin dicapai pemerintah. Dalam hal ini konektivitas memainkan peranan penting dalam membangun keterhubungan yang menyatukan Indonesia.

“Filosofi Indonesia sentris menjadi tekanan dari apa yang kita lakukan, baik berupa pembangunan maupun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dengan memperhatikan daerah terluar, terdepan, tertinggal dan perbatasan,” tutur Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, kemarin.

Misalnya saja dalam kaitan tol laut, Budi menjelaskan dalam pelaksanaannya tol laut sangat dinamis dengan 18 rute. Dari 18 Rute Tersebut Tol Laut secara langsung berupaya untuk menekan disparitas harga barang sekaligus juga memastikan ketersediaan pasokan sembako yang diperlukan masyarakat khususnya di wilayah Timur Indonesia.

Selain itu, Budi menjelaskan kedepannya pihak Kemenhub ingin agar tol laut tidak hanya mengangkut sembako maupun sapi. Tetapi juga akan didorong untuk mengangkut daging serta ikan segar maupun hasil laut lainnya yang merupakan kekayaan Indonesia Timur. Bahkan nantinya hasil laut tersebut yang tiba dari Indonesia Timur akan langsung diproses untuk ekspor.

Konektivitas tersebut juga ditunjukkan dalam jembatan udara atau konektivitas logistik ke daerah daerah pegunungan yang dibangun oleh Kemenhub. Setidaknya ada 39 rute yang dilalui untuk wilayah terpencil, terdepan, terluar dan perbatasan.

Budi menjelaskan masyarakat di daerah terluar dan terpencil, khususnya di Papua, sangat mengandalkan adanya jembatan udara. Sebab, konektivitas tersebut merupakan satu-satunya akses untuk memperoleh kebutuhan pokok.

“Bisa dibayangkan mereka hanya dapat suplai logistik dari angkutan logistik tersebut. Minggu lalu kami kumpulkan 20 bupati papua untuk pastikan proyek Indonesia sentris berjalan dengan baik. Satu persatu kami mereview kegiatan kegiatan yang akan dilaksanakan,” terang Budi.

Pada Bagian lain, Budi juga menjelaskan, di perkotaan saat ini mulai nampak adanya shifting ke transportasi publik. Salah satunya karena pembangunan angkutan masal seperti MRT maupun LRT yang akan selesai pada 2021 serta KRL. Menurutnya meski angkutan masal ini cukup intensif tetapi saat ini baru 29% dan Kemenhub berencana meningkatkan hingga 60%-80%.

“Ke depan kita sudah me­rancang MRT dengan panjang yang lebih signifikan, rencananya hingga 200 KM. Begitu juga LRT kerja sama Pemda DKI. Sedangkan di lima kota lain kita juga akan bangun LRT dan sejenisnya,” terang Budi.

Untuk di sektor transportasi perkretaapian Budi menjelaskan pihaknya sudahberhasil menyelesaikan doble double track hingga reaktifasi kereta api serta pembanguna proyek kereta cepat yang sedang dalam penyelesaian.

Sedangkan untuk capaian kelautan, Kemenhub sudah menyelesaikan pelabuhan sebanyak 118 pelabuhan dengan diantaranya Kuala Tanjung yang sudah finalisasi. Begitu juga untuk pelabuhan Priok yang dipandang semakin membaik karena sudah mencapai jumlah logistik yang lebih banyak.

Hal tersebut terlihat dari peningkatan arus bongkar muat (troughput) peti kemas  dari 7,5 juta TEUs di 2018 diharapkan menjadi 8 hingga 12 juta TEUs di 2019.

Capaian lainnya dari sektor perhubungan darat juga cukup signifikan.
“Capaian dari perhubungan darat, pembangunan Bus Rapid Transit (BRT), rehabilitasi terminal, pembangunan pelabuhan penyeberangan dan mudik lebaran yang mampu menjawab ekspektasi Presiden,” ujar Budi


Pacu Peluang Ekonomi Baru

Pada kesempatan itu, Budi menegaskan apa yang Presiden Jokowi harapkan dengan Indonesia sentris itu bukan hanya sebatas menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Tetapi, segala keterhubungan tersebut harus dapat memberikan dampak kepada ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya Presiden menginginkan segala kegiatan perhubungan harus dapat memunculkan suatu peluang ekonomi baru. Untuk itu pihaknya sangat selektif membangun infrastruktur perhubungan. Misalnya saja untuk wilayah 5 Bali baru yang menjadi superprioritas baik itu di Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Manado. 
Untuk itu pembangunan yang dilakukan oleh kementerian perhubungan bersifat terintegrasi dengan semua moda terkait. Misalnya pembangunan dermaga, pembuatan kapal penyeberangan untuk di danau toba, pembangunan bandara, pembuatan kereta api, hingga bus pemadu moda di Borobudur.

“Presiden menunjuk langsung jalan mana yang lebih efisien dan paling dekat. Mandalika kita juga ada moto GP sehingga kita akan mempersiapkan bandara dan pelabuhan yang lebih bagus,” tutur Budi.

Selain itu untuk mendorong perekonomian wilayah Manado Sulawesi Utara, di sektor udara, Kemenhub juga mendorong Angkasa Pura I untuk mengembangkan bandara.  Sementara di sektor laut, Kemenhub juga mendorong untuk membangun dermaga pelabuhan. Budi menekankan segala pembangunan yang dilakukan oleh Kemenhub difokuskan untuk mendorong program pemerintah, khususnya dalam hal pemerataan ekonomi. (Dro/X10-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More