Sabtu 19 Oktober 2019, 21:26 WIB

Pangkas Perizinan Bisa Dongkrak Produksi Migas

mediaindonesia.com | Ekonomi
Pangkas Perizinan Bisa Dongkrak Produksi Migas

ANTARA FOTO/Reno Esnir
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto

 

SEKRETARIS Jenderal (Sekjen) Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengatakan salah satu formula utama dalam strategi mendongkrak produksi miyak dan gas (migas) adalah memangkas peraturan perizinan yang menghambat investasi. Pemangkasan tidak hanya di tingkat pusat, melainkan di tingkat daerah.

"Sampai saat ini, baru separuh cadangan minyak yang dimiliki Indonesia yang dieksplorasi," ujar mantan Dirjen Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESM) tersebut saat dihubungi Sabtu, (19/10). 

Pria kelahiran Jakarta, 23 Mei 1965 itu, telah mempelajari di sektor migas hampir tiga dekade. Alumnus sarjana Teknik Perminyakan dan Program Doktoral pada Teknik Perminyakan ITB itu begitu menaruh perhatian besar terhadap pengembangan sektor minyak dan gas di Tanah Air.

Menurut Djoko, ada banyak solusi dan jurus yang bisa dilakukan untuk mendongkrak produksi mempercepat eksplorasi migas nasional.

Pertama, kata Sekjen DEN, eksplorasi minyak dan gas (migas) dari dana Komitmen Eksplorasi Migas dan “Komitmen Kerja Pasti” (KKP) eksplorasi yang sudah tersedia sebesar lebih dari 2,5 miliar dolar AS dinilai segera dipercepat.

Kedua, Djoko mengusulkan, perlunya percepatan pelaksanaan enhance oil recovery (EOR).

"Enhance Oil Recovery (EOR) merupakan teknologi yang dapat meningkatkan produksi dan lifting minyak yang ada. Teknologi ini harus segera digunakan, sebab saat ini lifting minyak baru mencapai setengahnya," ungkap alumnus Edinburgh Business School di Herriot Watt University, Inggris.

Ketiga, lanjut dia, peningkatan produksi dan percepatan eksplorasi migas bisa dilakukan dengan memangkas perizinan dan peraturan yang menghambat investasi.

Menurut Djoko, masalah perizinan seperti peraturan daerah merupakan hambatan yang harus segera diselesaikan. "Jika masalah perizinan ini tak dipangkas, minat investor untuk menanamkan modalnya di sektor migas terus menurun," katanya.

Keempat, Djoko mengusulkan dibangunnya sistem online untuk koordinasi antar-kementerian, baik di pusat mau daerah agar proses perizinan bisa lebih cepat.

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, kata dia, sistem perizinan harus lebih sederhana dan cepat. "Sistem online perizinan kuncinya," tutur Djoko yang juga menjabat Pengurus Pusat IATMI (Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia) itu.

Ia mengaku optimistis dengan keempat terobosan itu, produksi dan eksplorasi migas di Tanah Air bisa semakin meningkat dan cepat. (Antara/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More