Minggu 20 Oktober 2019, 08:15 WIB

Perpustakaan Nasional Tingkatkan Literasi Masyarakat

MI | Humaniora
Perpustakaan Nasional Tingkatkan Literasi Masyarakat

MI/Tosiani
Anak-anak mendengarkan dongeng di gedung perpustakaan nasional.

 

PERPUSTAKAAN Nasional Republik Indonesia (RI) bertugas melaksanakan pembinaan dan pengembangan semua jenis perpustakaan di Indonesia.

Sebagai lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK), Perpustakaan Nasional (Perpusnas) terus melakukan inovasi layanan dan membangun seluruh jenis perpustakaan sebagai fasilitas akses informasi dan ilmu pengetahuan. Tujuannya meningkatkan budaya literasi masyarakat.

Perpusnas hadir untuk memberikan layanan secara prima kepada masyarakat agar dapat meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Dalam regulasi tersebut ditekankan bahwa masyarakat memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan, berikut memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan.

“Capaian pembangunan bidang perpustakaan Indonesia tercermin dari beberapa aspek, yakni peningkatan jumlah ketersediaan perpustakaan, peningkatan kelembagaan perpustakaan daerah, penguatan kerangka regulasi, peningkatan akses masyarakat terhadap perpustakaan, serta kebijakan pembangunan nasional bidang perpustakaan,” ujar Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando.

Fungsi perpustakaan terbagi menjadi pembina, rujukan, penelitian, pelestarian, deposit, dan jejaring perpustakaan. Pada 2018, Perpustakaan Nasional RI melakukan sensus untuk mendata jumlah perpustakaan di Tanah Air. Saat ini, Indonesia telah memiliki 164.610 unit perpustakaan. Walaupun jumlah tersebut belum memadai, perpustakaan siap berperan sebagai penyedia informasi dan pengetahuan.

Perpustakaan juga sekaligus menjadi pusat belajar dalam meningkatkan wawasan keilmuan. Fasilitas perpustakaan bisa dimaksimalkan sebagai co-working space, yakni tempat komunitas berkumpul dan mengembangkan berbagai ide.

Aktivitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.


Meningkatkan kualitas

Indonesia menduduki peringkat kedua dengan jumlah perpustakaan terbanyak di dunia. Sebaran perpustakaan di wilayah Indonesia ialah 23,45% berada di Sumatra, 47,79% di Jawa, 11,52% di Sulawesi, 8,47% di Nusa Tenggara, 6,67% di Kalimantan, dan 0,4% di Papua. Dari total perpustakaan sebanyak 164.610 unit, terdapat perpustakaan umum 42.460 unit, perguruan tinggi 6.552 unit, khusus 2.057 unit, dan sekolah 113.541 unit.

Jurnal internasional Nature merilis artikel yang menunjukkan Indonesia sebagai negara peringkat teratas dalam hal akses terbuka terhadap jurnal ilmiah. Artikel tersebut mengungkapkan 81% dari 2000 artikel jurnal yang diterbitkan pada 2018 yang terafiliasi dengan penulis Indonesia, dapat diakses bebas secara daring. Adapun 74% artikel diterbitkan dengan lisensi terbuka dan didistribusikan dengan bebas.

Kondisi tersebut merupakan dampak pertumbuhan jaringan jurnal akses terbuka dan portal penerbitan di Indonesia. Sementara itu, berdasarkan data 2018 dari hasil survei Perpustakaan Nasional, indeks kegemaran membaca di Indonesia berkisar 52,92 atau masuk kategori sedang.

Hal itu berdasarkan tiga parameter, yakni frekuensi membaca per minggu, durasi atau intensitas membaca dalam sehari dan banyaknya bacaan selama tiga bulan terakhir.

Untuk meningkatkan kualitas perpustakaan di Tanah Air, Perpustakaan Nasional RI memiliki lima sasaran strategis periode 2015-2019, di antaranya peningkatan indeks budaya membaca, peningkatan indeks kepuasan layanan perpustakaan, dan peningkatan pelestarian khazanah budaya bangsa dalam rangka memperkuat restorasi sosial. Sasaran lain, yakni peningkatan perpustakaan sesuai standar nasional dan kegiatan prioritas nasional literasi untuk kesejahteraan.

Perkembangan teknologi informasi dan perubahan perilaku digital masyarakat mendorong Perpustakaan Nasional  RI untuk melakukan terobosan dan inovasi, terutama pada layanan perpustakaan berbasis TIK seperti pengajuan International Standard Book Number (ISBN) secara online, Indonesia OneSearch (IOS), iPusnas, e-Resources (bahan perpustakaan digital online), dan situs web Khastara.

Perpustakaan Nasional RI telah melakukan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan tujuan menjadikan perpustakaan sebagai ruang terbuka bagi masyarakat. Dalam hal ini, untuk saling berbagi pengalaman, belajar konstektual, dan berlatih keterampilan kerja, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup.
Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial pada tahun ini menyasar 21 perpustakaan provinsi, 60 perpustakaan kabupaten/kota, dan 300 perpustakaan desa.


Beri bantuan

Perpustakaan Nasional RI memberikan berbagai bantuan dalam rangka penguatan dan pemerataan layanan perpustakaan di seluruh Indonesia. Terdapat bantuan perpustakaan bergerak yang mencakup 768 mobil perpustakaan keliling, 70 motor pustaka keliling, dan 8 kapal perpustakaan terapung.

Bantuan koleksi dan pengembangan perpustakaan tersebar di 1.034 perpustakaan pondok pesantren, 21.281 perpustakaan desa/kelurahan, 337 perpustakaan lapas, 300 perpustakaan daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), dan 720 perpustakaan komunitas.
Sebagai upaya meningkatkan kegemaran membaca sampai daerah 
3T, Perpustakaan Nasional RI memberikan bantuan kepada perpustakaan desa. Bantuan berupa 450 judul atau 900 eksemplar dan dua rak buku kepada setiap desa. Sampai 2019, sekitar 300 perpustakaan desa tersebar di 33 provinsi telah menerima bantuan tersebut.

Perpustakaan Nasional RI juga melakukan kerja sama dengan lembaga lain. Kerja sama tersebut bermanfaat untuk memberikan layanan informasi langsung kepada masyarakat, memperluas jaringan layanan informasi, hingga meningkatkan akses koleksi perpustakaan melalui pertukaran data atau koleksi.

Beberapa kerja sama tersebut ialah Memorandum of  Understanding (MoU) Perpustakaan Nasional RI dengan Kementerian Dalam Negeri,  Kementerian Desa PDTT, Badan Kemanan Laut, Lemhannas RI, National Library Board Singapore serta institusi lainnya.(Tes/S-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More