Minggu 20 Oktober 2019, 01:30 WIB

Sepeda Motor Tembus ke Bayang  Janiah

MI | Nusantara
Sepeda Motor Tembus ke Bayang  Janiah

MI/Yose Hendra
Kampung Bayang Janiah, Nagari (Desa) Koto Ranah, Sumatera Barat

 

LIMA tahun lalu, jangan bayangkan Kampung Bayang Janiah, Nagari (Desa) Koto Ranah, seperti sekarang. Untuk menuju ibu kota Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, warga harus berjalan kaki selama 3 jam.  

Tidak ada jalan yang layak yang bisa dilalui kendaraan, roda dua sekalipun. “Yang ada hanya jalan setapak, menyisir lereng perbukitan yang terjal dan rawan kecelakaan,” ungkap Wali Nagari (Kepala Desa) Koto Ranah, Asrizal. 

Ongkos untuk menjual hasil pertanian unggulan desa ini ialah kayu manis pun sangat mahal. Warga harus memberikan upah kepada kuli pikul, yang harus mengangkat dengan upah Rp200 per kilogram, untuk perjalanan ke Asam Kumbang, Ibu Kota Kecamatan yang berjarak 6 kilometer. 

Pertolongan pun datang, ketika pemerintah pusat mulai memprogramkan dana desa. Pada 2015, pemerintah desa membangun jalan beton yang membuat sepeda motor bisa masuk ke kampung itu. 

Kini, hasil bumi bisa diangkut dengan sepeda motor. Petani yang belum punya kendaraan dapat menitipkannya pada jasa ojek motor dengan biaya Rp15 ribu untuk beban 50-60 kilogram. Yang sudah ada motor bisa berlenggang sendiri bolak balik mengangkut hasil pertaniannya. 

Keterbukaan Bayang Janiah, membuat kehidupan kampung di ujung Koto Ranah ini berseri. “Dulu kami malas menanam kacang dan cabai karena ongkos menjualnya mahal. Kini, kami tidak ragu lagi menanam cabai dan kacang tanah,” tambah Yusrial, warga. 


Bangun jembatan

Dari tahun ke tahun, dana desa yang dikucurkan ke Koto Ranah terus meningkat. Pada awalnya sebesar Rp350 juta di thaun 2015, meningkat menjadi Rp450 juta dan tahun ini Rp750 juta. 

“Jika ditambah alokasi dana desa dari pemerintah kabupaten dan provinsi, total dana mencapai Rp1,1 miliar. Kami menggunakannya 70% untuk pembangunan fisik dan sisanya pemberdayaan,” ujar Asrizal.

Selain jalan rabat beton ke kampung-kampung, Desa Koto Ranah juga sudah berhasil membangun 3 jembatan dan 12 jalan penghubung. Jembatan sangat dibutuhkan karena banyak sungai yang membelah desa ini. Jembatan mampu menghubungkan satu kampung dengan kampung lain.

Sebelumnya memang sudah ada jembatan, tapi sangat darurat karena terbuat dari anyaman bambu atau jembatan akar. Kini, dengan jembatan permanen, berkonstruksi beton dan pelat, mobil pun bisa melintas dengan aman. 

Selain Bayang Janiah, Pemerintah Desa Koto Ranah juga membuka kampung lain dari keterisolasian, yakni Kampung Taratak dan Kampung Ranah Bayang. Ranah Bayang kebagian jembatan gantung dengan nilai investasi Rp420 juta. Jembatan sepanjang 50 meter itu akan selesai akhir tahun ini. 

“Di Ranah Bayang, warga juga harus mengupah kuli pikul untuk menjual hasil pertanian. Dalam hitungan saya, satu tahun satu keluarga kehilangan uang Rp40 juta untuk kuli pikul,” jelas sang kepala desa.
Tanpa dana desa, dia tidak bisa membayangkan kondisi masyarakatnya. 
“Mungkin, sebagian besar kampung di Koto Ranah masih terbelakang. Minta ke pemerintah daerah sulit, karena mereka tidak punya uang,” lanjutnya. 


Pulang kampung

Wajah Koto Ranah sudah berseri. Dulu, bidan dan guru mengaji enggan mengabdi di Kampung Bayang Janiah dan Ranah Bayang. Kini, jalan sudah terbuka untuk kendaraan bermotor sehingga bidan dan guru pun dengan langkah ringan mau bekerja di kampung. 

“Ekonomi juga membaik, sehingga warga optimistis hidup di kampung. Apalagi, ada peluang untuk memasok kacang tanah ke pabrik Garuda sehingga warga semangat berkebun,” ungkap Asrizal. 

Dulu, orang Koto Ranah banyak menerima upah. Sekarang, mereka memilih tidak menjadi kuli lagi, karena sudah berani bertanam sendiri. (N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More