Sabtu 19 Oktober 2019, 10:10 WIB

28 Pelari Lari Amal 57 Km untuk Akses Air Bersih di Flores

Palce Amalo | Nusantara
28 Pelari Lari Amal 57 Km untuk Akses Air Bersih di Flores

MI/PALCE AMALO
Sebanyak 28 peserta lari amal 57 kilometer untuk akses air bersih dilepas dari Pantai Wisata Batu Biru (Bluestone), NTT

 

SEBANYAK 28 pelari dari Jakarta, Surabaya, dan Denpasar berlari sejauh 57 kilometer (km) dari Kabupaten Ende menuju Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (19/10).

Mereka dilepas pukul 06.00 Wita dari Pantai Wisata Batu Biru (Bluestone)  di Desa Pengajawa, Kecamatan Nangapanda oleh Camat Nangapanda Oktovianus  Suna.

Kegiatan bertajuk 'Jelajah Timur-Run for Equality' ini merupakan lari maraton untuk amal (charity run) dengan target pengumpulan dana sekitar Rp200 juta-Rp250 juta.

Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membangun sarana air bersih di dua desa yang mencakup sekitar 10 dusun di Flores.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti yang ikut dalam kegiatan lari amal itu mengatakan para pelari berasal dari level profesional dan amatir namun ajang itu tidak memperebutkan gelar juara.

Baca juga: Lantunan Doa dari Pelosok Negeri

"Sekarang lagi panas-panasnya di sini. Mungkin teman-teman dari berbagai daerah yang datang ke sini tidak membayangkan betapa sulitnya air di sini," ujarnya kepada wartawan.

Warga terlihat berdiri di sisi jalan memberikan dukungan kepada para pelari.

Kegiaan ini dibagi dua etape. Peserta akan berhenti di etape pertama di kilometer 29 untuk beristirahat sebelum menuju Etape ke-2 di kilometer 57.

Dini berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan akses air bersih dan mendorong kesetaraan anak perempuan. Pasalnya, minimnya akses air bersih menjadi salah satu akar masalah ketidakadilan gender di NTT.

Menurutnya, tanggung jawab penyediaan air bersih bagi rumah tangga dibebankan kepada perempuan dan anak perempuan. Kondisi kering menyebabkan anak-anak perempuan tersebut harus menempuh perjalanan jauh ke sumber air terdekat. Kegiatan ini dilakukan pada pagi dan sore hari.

Hal ini menyebabkan waktu belajar dan bermain mereka tersita. Selain itu, anak perempuan menghadapi risiko tinggi akibat minimnya perlindungan saat menempuh perjalanan ke lokasi sumber air yang jauh.

Menurutnya, pengadaan sarana air bersih selain dapat meningkatkan akses air bersih dan sanitasi, juga membantu mengurangi beban dan resiko bagi anak-anak perempuan.

Dengan akses air bersih yang memadai, mereka tidak perlu kelelahan saat belajar di sekolah.

"Lalu, sanitasi dan kebersihan juga lebih terjaga,  misalnya saat menstruasi," tukasnya.

Maria menambahkan, salah satu anak dampingan Plan Indonesia harus berjalan 30 menit smpai dua jam untuk mendapatkan air bersih sehingga berbagai resiko kekerasan yang mungkin terjadi dalam perjalanan mengambil air bisa dihindari.

Metode pengumpulan dana menggunakan crowdfunding. Para pelari ini akan mengumpulkan donasi dari publik yang memberikan dukungan untuk mereka di tautan portal kitabisa.com.

Masyarakat juga dapat terlibat dalam Run for Equality dengan mengikuti virtual run, yaitu kegiatan berlari yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Kemudian, jarak lari yang ditempuh dikumpulkan hingga target lari tertentu.

Hasil pendaftaran melalui platform iluvrun akan menjadi donasi untuk pengadaan akses air bersih.

"Kami tidak bisa bergerak  sendiri karena itu melalui Run for Equality ini kami mengajak publik  untuk terlibat bersama-sama untuk pengadaan akses air bersih di NTT," pungkasnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More