Sabtu 19 Oktober 2019, 05:40 WIB

Buku Putih Pendaki Everest

(Eno/M-2) | Weekend
Buku Putih Pendaki Everest

ilus
Judul buku Indonesia Menjejak Everest, Membuka Dokumen Sejarah Pendakian Clara Sumarwati

BAGI orang awam, nama Clara Sumarwati tentu saja asing. Namun, bagi mereka yang menyukai naik gunung atau mahasiswa pecinta alam pasti mengenalnya. Apalagi Clara ialah pendaki gunung asal Indonesia yang berhasil mencatatkan diri sebagai pendaki gunung wanita dari Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai puncak Everest pada 1996. Saat itu, Clara mendaki Gunung Everest untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus.

Baru saja Clara meluncurkan buku pertamanya berjudul Indonesia Menjejak Everest, Membuka Dokumen Sejarah Pendakian Clara Sumarwati. Buku ini disusun oleh jurnalis Media Indonesia, Furqon Ulya Himawan, yang saat ini bertugas di Yogyakarta.

Secara teknis, menaklukkan gunung tertinggi di dunia yang berada di perbatasan Nepal dan Tibet tidak mudah. Bahkan, setelah berhasil menaklukkan pun ternyata justru membuatnya harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Yogyakarta. Sebab musababnya, namanya ditiadakan dari daftar nama pendaki Gunung Everest.

Padahal perjalanan Clara sungguh berliku. Dia berusaha mendapatkan sponsor dari pemerintah dan setelah mendapatkan izin dari Istana Negara, ia mendapatkan izin bisa mengikuti latihan bersama Komando Pasukan Khusus yang disingkat menjadi Kopassus.

Saat mendaki Gunung Everest, dia tidak sendirian. Dia didampingi tim serpa Nepal. Sayangnya, Clara Sumarwati dibatasi atau tidak diperbolehkan, bahkan diancam jika memublikasikan prestasinya. Buku yang mengetengahkan adanya pemberitaan sejumlah media tanpa melalui proses verifikasi langsung kepada sumber berita juga menyentil kerja-kerja jurnalistik.

Banyak hal berkelindan dalam buku terkait jurnalisme, mulai dari minimnya verifikasi, tiadanya hak jawab, dan terkontrolnya infromasi dari penguasa saat itu.  Secara umum, buku Indonesia Menjejak Everest: Membuka Dokumentasi Sejarah Clara Sumarwati ialah buku yang menjelaskan siapa sebenarnya orang Indonsia yang pertama kali berhasil menjejakkan kakinya di puncak Everest. Dia seorang perempuan bernama Clara Sumarwati, sukses menejejak Everest pada 26 September 1996.

Jadi, buku ini ialah buku putih yang mengulas kebenaran sejarah pendakian Clara Sumarwati menuju puncak Everest pada 1996. Puluhan data berupa kliping, baik dari media lokal maupun internasional ada dalam buku ini.

Kliping-kliping itu ada yang memberitakan secara positif dan negative, dan tak sedikit media yang memberitakan tanpa melakukan verifikasi sehingga akurasinya perlu dipertanyakan. Yayasan Putri Mulia Indonesia (Putlisia) berusaha menyajikannya dalam sebuah buku dengan membuat tambahan dan koreksi sejumlah pemberitaan. Data-data penting kami ketengahakan untuk mempertegas bahwa Clara Sumarwati orang yang pertama. Meski namanya tidak tercantum dalam buku pendakian di Indonesia, tapi sejumlah buku di luar negeri mencantumkan nama Clara sebagai pendaki yang berhasil.

Buku ini tidak hanya sebagai buku putih yang meluruskan sejarah pendakian orang-orang Indonesia ke Everest, tapi juga mengetengahkan bagaimana akibat seorang jurnalis yang menulis tanpa melakukan proses ferivikasi dan konfirmasi dapat berakibat fatal, dan Clara Sumarwati mengalaminya sampai depresi berat.

Dengan membaca buku ini, kita akan mengetahui bagaimana model persaingan antara pendaki lelaki dan pendaki perempuan pada tahun-tahun itu. Buku ini menyuguhkan banyak data untuk benar-benar menyatakan bahwa Clara Sumarwati lah yang pertama sampai ke puncak Gunung Everest. Dia berharap buku ini menjadi sejarah srikandi pertama Indonesia yang telah menjejak puncak Everest dan menjadi motivasi bagi pendaki-pendaki Indonesia lainnya. (Eno/M-2)

Judul buku: Indonesia Menjejak Everest, Membuka Dokumen Sejarah Pendakian Clara Sumarwati

Penyusun: Furqon Ulya Himawan

Penerbit: Yayasan Putri Mulia Indonesia (Putlisia)

Jumlah halaman: 450 halaman

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More