Sabtu 19 Oktober 2019, 05:20 WIB

Mata Jeli Polisi Kwan Chun-dok

Thalatie K Yani | Weekend
Mata Jeli Polisi Kwan Chun-dok

ilus
Judul: The Borrowed 13.67

Kisah detektif selalu menarik perhatian, kali ini ialah cerita polisi Hong Kong bernama Kwan Chun-dok. Dia memiliki cara berpikir menggunakan logika yang unik dan memperhatikan detail yang tajam.

PENGABDIAN dan kecerdasan Kwan Chun-dok kepada kepolisan Hong Kong tidak bisa dibantah lagi. Sejak muda ia sudah dikenal sebagai polisi yang cerdas dan teliti, mampu menyelesaikan kasus dalam sekejap dengan cara yang berbeda dengan kepolisian yang lain. Ia tidak segan membengkokkan peraturan demi menyelesaikan kasus.

"Sonny dengar kamu tidak bisa memecahkan kasus dengan berpegang teguh pada peraturan. Tentu saja, di kalangan polisi, mematuhi peraturan harus dipegang teguh, tapi sebagai polisi, tugas paling utama adalah menjaga rakyat sipil. Jika peraturan tersebut menyebabkan rakyat sipil terluka atau menghambat tercapainya keadilan, kamu punya alasan kuat untuk mengabaikan." (Halaman 14)

Kwan tidak sendiri, ia dibantu asistennya, Sonny Lok, menyelesaikan kasus pembunuhan direktur konsorsium Fung Hoi, Yuen Man-bun. Pasalnya, Kwan tengah terbaring koma dari kanker level stadium akhir.

Sonny juga dibantu dua asisten, Apple dan Ah Sing, ditambah teknologi yang digunakan membaca gelombang otak sehingga Kwan bisa berkomunikasi dengan cara unik.

Semua saksi pun dikumpulkan dalam kamar rawatnya dan semua benang kusut pun diurai satu per satu oleh Kwan dan Sonny. Hingga pelakunya pun terungkap dengan cara yang tidak pernah dikira.

Cara Kwan memecahkan kasus yang lain di bab tiga, Hari Terpanjang (1997). Di hari terakhir Kwan di kepolisian, setelah mengabdi selama 32 tahun. Sejak pagi, dia tidak ingin terlalu banyak terlibat guna menyerahkan kuasa ke anak buahnya. Dia memilih membereskan barang-barangnya. Namun, rasa tanggung jawab masih membuatnya mengawasi pekerjaan timnya, apalagi ada dua kasus penting yang menarik perhatian publik, yakni penyiraman air keras dan narapidana kakap yang kabur dari Rumah Sakit Queen Mary. Narapidana yang sama yang pernah ditangkap dia sebelumnya.

Benang merah

Dua kasus yang terkesan terpisah itu ternyata memiliki benang merah yang tidak disadari yang lain. Tim biro kriminal berharap Kwan membantu mereka menangkap Shek Boon-tim, kriminal yang licik dan kejam. Namun, tanpa sangka, Kwan memilih mengambil kasus penyiraman air keras dan memilih Sonny Lok untuk mendampinginya. Padahal, Sonny berharap bisa menangkap Shek Boon-tim.

Sonny pun dibuat bingung dengan kelakukan atasannya. Saat di tempat kejadian perkara (TKP) penyiraman, Kwan tidak terlalu banyak berkomunikasi. Ia hanya melihat kondisi dan bertanya sebentar, setelah itu pergi keluar TKP dan mengobrol dengan warga sekitar.

Saat di Rumah Sakit Queen Mary melihat korban penyiraman, ia tidak banyak bertanya. Sebaliknya, ia membicarakan tentang pengetahuan medis dengan Sonny hingga ia bosan. Sonny akhirnya memilih keluar dari ruangan yang sama dengan Kwan dan menyelidiki TKP kaburnya Boon-tim yang ada di sayap berbeda di rumah sakit yang sama.

Tanpa diduga, Kwan yang menunggu dokter yang menangani kasus penyiraman datang, ia mengawasi situasi dengan ketat. Kwan berhasil melihat hal-hal yang tidak dilihat yang lain, baik itu dari gerakan maupun ekspresi tubuh, termasuk dari foto TKP pelarian Boon-tim, wawancara dengan sipir yang mengawal Boon-tim, dan jalur pelarian serta para tersangka yang ditembak mati oleh kepolisian. Kwan yang berbasis intelijen berhasil melihat kejanggalan yang tidak dilihat polisi lain, yakni penyamaran.

Dari kecurigaan dan tata letak kedua kasus yang berbeda tempat itu, ada satu persamaan. Satu kesamaan itu yang berhasil menjadi pemecah kasus ini dan ia berhasil memecahkan kasus dalam waktu bersamaan, menyelamatkan nyawa seseorang, semua sesaat sebelum jam dia pulang kerja.

Cara berpikir menggunakan logika yang unik dan memperhatikan detail yang ada disekeliling menjadi kunci dari Kwan memecahkan kasus. Tidak ada pernyataan yang tidak menarik bagi pria yang disebut Uncle Dok itu.

Kecerdasan Kwan ini juga mengantarkannya selama dua tahun pelatihan di Scotland Yard, kepolisian Inggris. Pasalnya, saat Kwan bergabung dengan kepolisian, Hongkong masih berada di bawah koloni Inggris, sehingga pimpinan dari semua lembaga pemerintahan di Hong Kong masih dikuasai pihak kerajaan Inggris sebelum dikembalikan pada 1997, seusai dipinjamkan selama 100 tahun.

Cara Kwan memecahkan kasus ini mirip dengan karakter detektif Belgia, Hercule Poirot, yang ditulis Agatha Christie. Jalan ceritanya sepertinya sederhana, tapi ada twist yang menarik dan tidak disangka pembaca dan tidak pernah disangka sebelumnya.

Kronologi terbalik

Buku setebal 544 halaman itu terbagi menjadi enam bab. Awalnya terkesan tahun kasus yang dipilih cukup melompat. Diawali pada 2013, dilanjutkan 2003, lalu 1997, 1989, 1977, dan 1967. Namun, pilihan tahun itu memiliki alasan tersendiri.

Setiap kasus yang diangkat pun menceritakan bagaimana perjalanan 'Sang Mata Surga' mencapai posisi senior superintendent biro intelijen kriminal kepolisan Hongkong. Saat menjadi polisi muda hingga napas terakhirnya, ia mencurahkan hidupnya sebagai polisi.

Disusun dengan kronologi terbalik, setiap kasus yang dipilih saling berkaitan dan memiliki benang merah. Salah satu benang merahnya ialah reformasi dalam tubuh kepolisian Hong Kong yang terkenal dengan korupsinya.

Sejak Kwan menjadi polisi muda, ia memang memegang teguh peraturan dan sumpah polisi, termasuk membeli makanan dan minuman dengan uang pribadinya, tidak seperti rekannya yang mengambil minuman tanpa membayar. Terparah ialah polisi yang dengan sengaja menipu rekan kerjanya sendiri dan melakukan pembunuhan. Namun, semua ditutupi dengan cara melibatkan kepolisian lain dan membunuh pelaku kejahatan kelas kakap sehingga ia tetap mendapatkan pujian dari kepolisian Hongkong dan masyarakat.

Tak mengherankan bila di awal buku ini ada isi sumpah polisi Hong Kong versi yang digunakan sampai 1980. Isi sumpah itu berbunyi, 'Saya dengan sadar dan setia melayani paduka beserta ahli waris dan penerusnya sebagai polisi sesuai hukum, saya akan mematuhi, menegakkan, dan menjaga hukum di koloni Hongkong, saya akan melaksanakan kekuasaan dan tanggung jawab sebagai poisi dengan jujur, setia, dan tekun tanpa mengenal rasa takut atau pandang bulu terhadap siapa pun dan dengan kebencian atau niat buruk terhadap siapa pun, dan saya akan mematuhi semua perintah berdasarkan hukum yang diberikan pemegang kekuasaan di atas saya'.

Kwan sebelum terkenal sebagai 'Sang Mata Surga' ini hanya polisi rendah yang menurut pada atasannya. Namun, sebuah kalimat dari seorang anak kecil menyadarkan dirinya atau lebih tepat menamparnya dengan cukup keras dan membuka matanya.

Kalimat itu pun memecutnya untuk bekerja lebih baik dan menjadi andalan bagi kepolisian Hong Kong. Caranya yang unik dalam memecahkan kasus dan tidak segan untuk membelokkan aturan bila menghambat tercapainya keadilan bagi masyarakat, membuatnya menjadi terkenal di antara kepolisian yang lain.

Kompetisi

Di balik Karakter Kwan dan Sonny, ada kisah menarik. Pasalnya, kedua sosok yang diciptakan Chan Ho-Kei awalnya untuk mengikuti kompetisi cerita pendek dengan tema Detektif kursi berlengan.

Sayangnya, karena terlalu semangat, ia gagal mengendalikan panjang ceritanya dan melewati batas jumlah kata. Hingga ia memutuskan untuk disimpan dan membuat cerita panjang.

Chan yang lahir pada 1970-an mengaku menganggap polisi sebagai pahlwan super. Namun, padangan itu goyah pada 2012 setelah beberapa insiden dan berita miring tentang kepolisian. "Awalnya, aku berencana menulis novel detektif klasik, tetapi sekarang aku beralih menuju sosial," ujar Chan dalam epilognya.

Dari dektektif klasik, Chan menggabungkan dengan gambaran yang lebih besar. "Kita dapat melihat bahwa ini novel keadaan sosial yang realistis."

Namun, bukan berarti buku ini merupakan propaganda. Sebaliknya, melalui novel ini, Chan berharap kepolisian dapat mengembalikan citra polisi sebagai pelayan masyarakat kuat, tak mementingkan diri sendiri, pembela kebenaran, berani, dan jujur. (M-4)

Judul: The Borrowed 13.67

Pengarang: Chan Ho-Kei

Penerbit: Gramedia

Terbit: Juli 2019

Halaman: 544

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More