Sabtu 19 Oktober 2019, 02:00 WIB

Gadiza Volare Yusharyahya Berenang Lintasi Dua Benua

MI | Humaniora
Gadiza Volare Yusharyahya Berenang Lintasi Dua Benua

MI/Sumaryanto Bronto
Gadiza Volare Yusharyahya

 

SEKILAS tidak ada yang berbeda dari penampilan pada umumnya, Gadiza Volare Yusharyahya yang akrab dipanggil Yaye ini juga aktif bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Namun, siapa sangka ibu tiga anak itu merupakan perenang senior Indonesia yang telah melambungkan nama Tanah Air di kancah internasional.

Di usia 55 tahun dia masih memiliki fisik yang bugar. Ketertarikan Yaye terhadap renang sudah terbangun sejak kecil. "Sudah tertarik dan belajar renang sejak umur 5 tahun. Umur 5 tahun sampai 16 tahun saya perenang kolam renang dan masuk dalam atlet nasional, ikut PON 1977," ungkap Yaye.

Pada era 1970-an, gadis-gadis keluarga Yusharyahya memang memenuhi barisan atlet renang nasional Indonesia. Ia sempat pensiun dari dunia atlet sejak 1980, tapi sebenarnya Yaye tak pernah benar-benar meninggalkan dunia olahraga. Pada 2013, Yaye baru menekuni kembali dunia renang secara sungguh-sungguh dengan mengubah arah dari perenang kolam renang menjadi renang di laut lepas. "Setelah vakum cukup lama, saya kembali dengan belajar renang di laut untuk ikut kompetisi Triathlon 2014," ungkap Yaye.

Sejak saat itu dirinya aktif mengikuti kejuaraan renang di dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan, pada 21 juli lalu, Yaye mengikuti bosphorus cross continental swimming di Turki, yang merupakan kejuaraan renang di perairan terbuka, yang melintasi dua benua.

"Di 2016, saya mendengar tentang kompetisi besar ini. Daftar di 2017 untuk ikut di 2018 ternyata telat sehingga daftar kembali dan ikut bagian di tahun ini," lanjut Yaye.

Kompetisi yang diikuti 2.500 peserta dari 35 negara, tak menyurutkan semangat Yaye sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Tantanganya pun mampu ia kendalikan dengan tenang. "Sebelumnya, ada ibu-ibu dia kasih kiat agar berenang cari arus dingin karena bisa mendorong. Namun, menjelang finis, arus berubah, yang tadinya mendorong malah melawan," kata Yaye. Ia juga sempat kebingungan hingga akhirnya ia merasa perlu mengurangi tenaga, beristirahat sambil memutar otak gaya apa yang digunakan. "Saya gunakan gaya dada, setelah agak tenang saya ambil napas dalam dan menyelam menusuk sampai finis," ungkapnya.

Tak disangka, persiapan dan perjuangan mengantarkan Yaye meraih medali perunggu. Arti kemenangan di usia 55 tahun itu buatnya sebagai pacuan dan tambahan suntikan semangat untuk kembali ikut lomba serupa di September tahun depan di Alcatras. Baginya, olahraga merupakan kewajiban yang tak boleh dilalaikan untuk menjaga kesehatan. (Wan/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More