Jumat 18 Oktober 2019, 21:19 WIB

Berat Badan naik Terus, Kemungkinan Hipotiroid

Eni Kartinah | Humaniora
Berat Badan naik Terus, Kemungkinan Hipotiroid

Medcom
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Muhammad Ikhsan Mokoagow, M.Med.Sci, Sp. PD-FINASIM,.

 

RESAH karena berat badan terus naik meski pola makan dan aktivitas tidak berubah? Coba periksakan tiroid Anda. Siapa tahu, di situlah akar permasalahannya.

Tiroid adalah kelenjar berbentuk seperti kupu-kupu. Letaknya di leher depan bagian bawah. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroid yang mengendalikan metabolisme sebagai cara tubuh menggunakan energi.

Nah, kerja kelenjar tiroid ini bisa terganggu, yang berdampak pada produksi hormon tiroid. Hormon tiroid jadi berlebihan, atau sebaliknya malah kekurangan. 

“Hormon tiroid mengatur fungsi-fungsi penting dalam tubuh. Seperti, denyut jantung, sistem saraf, berat badan, kekuatan otot, suhu tubuh, siklus menstruasi, dan kadar kolesterol. Karenanya, ketika tubuh kekurangan atau kelebihan hormon tiroid, akan muncul gejala beragam, karena banyak fungsi-fungsi tubuh yang terganggu,” terang dokter spesialis penyakit dalam RS Pondok Indah-Puri Indah, dalam diskusi kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada kasus kekurangan hormon tiroid atau hipotiroid, lanjut Ikhsan, gejalanya antara lain berat badan bertambah, konstipasi/sulit buang air besar, tidak tahan terhadap suhu dingin, kulit kering, pembengkakan sekitar mata, gerakan lamban denyut nadi lambat (kurang dari 75 kali/menit), kelelahan, pola menstruasi tidak teratur, hingga depresi.

Adapun pada kelebihan hormon tiroid atau hipertiroid, gejalanya antara lain berat badan berkurang, tidak tahan terhadap suhu panas, jantung berdebar-debar, gugup berlebihan, kelelahan, sesak napas ketika beraktivitas, susah tidur, tremor, dan pola menstruasi tidak teratur.

Ikhsan menjelaskan, beberapa faktor bisa menimbulkan gangguan fungsi tiroid tersebut. Antara lain, genetik, usia yang menua, merokok, stres, riwayat keluarga penderita autoimun, pernah terpapar zat kontras berkandungan iodium, serta kekurangan iodium. Faktor jenis kelamin juga berpengaruh. Dalam hal ini, perempuan lebih berisiko daripada laki-laki.

“Baik hipotiroid maupun hipertiroid perlu diterapi agar kadar hormon tiroid dalam tubuh bisa normal,” pungkas Ikhsan. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More