Jumat 18 Oktober 2019, 13:40 WIB

Bangun Perekonomian, Komitmen BRI Sentuh Pedesaan

M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Bangun Perekonomian, Komitmen BRI Sentuh Pedesaan

Dok. Pribadi
Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto

 

PEREKONOMIAN suatu negara tidak bisa berdiri sendiri dan pasti akan bersinggungan dengan perekonomian negara lainnya. Oleh karenanya, kondisi ekonomi global yang tengah berada dalam ketidakpastian memberikan dampak tertentu kepada Indonesia.

Demikian dikatakan Wakil Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Catur Budi Harto saat ditemui Media Indonesia di kantornya, Jumat (18/10).

Melihat kondisi itu, BRI akan terus berkomitmen menyasar sektor dan elemen yang lebih kecil. Sebab, BRI berkomitmen untuk ikut membangun negeri mulai dari sektor perekonomian yang kecil.

"Jadi kita istilahnya itu 'go smaller, go shorter', kita lebih masuk sesuai dengan khitah kita, masuk ke masyarakat kecil ke bidang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)," kata Catur.

Fokus itu juga didukung dengan sebaran jejaring yang telah dimiliki oleh BRI. Modal itu kemudian akan dikembangkan dan dioptimalkan melalui pemanfaatan infrastruktur dan digitalisasi.

Sebagai integrator dari ekosistem perekonomian di Indonesia yang meliputi ekosistem pasar, klaster unggulan, ekosistem petani, perhutanan sosial, badan usaha milik desa (Bumdes) dan ekosistem Mekaar yang berisikan ibu-ibu, BRI akan terus menyentuh ekosistem tersebut.

"Supaya kalau mereka butuh sesuatu yang berkaitan dengan usahanya, ya datang saja ke BRI. Karena BRI itu dekat dengan mereka. Jaringan kita sudah ada hampir 11.000 lebih dan didukung oleh hampir 400.000 agen," jelas Catur.

Baca juga: Naik Kelas, Nasabah Mekaar BRI Dikucuri KUR

BRI, imbuh Catur, akan melayani masyarakat dalam ekosistem itu mulai dari sisi aset dan liabilitas yang mencakup simpanan, pinjaman dan pembayaran.

Soal kondisi perekonomian ke depan, Catur mengungkapkan hal itu bergantung bagaimana BRI mampu memaksimalkan segmentasi pasarnya ke depan.

"BRI sudah duduk di situ dan harus kita optimalkan agar bisa menjaga sustainability kita. Itu yang kita lihat. Jadi bagaimana memandang perekonomian ke depan, ya bagaimana kita menggarap potensi bisnis yang ada di kita," tuturnya.

Sementara, menyoal tantangan yang dinilai menjadi pekerjaan rumah terbesar, Catur menyebutkan dua hal yakni soal keterjangkauan dan teknologi.

Sebab, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang belum sepenuhnya mampu dijangkau oleh BRI. Karena itu, pengembangan dan pengoptimalan SDM serta infrastruktur yang ada terus dioptimalkan guna menjangkau seluruh wilayah Indonesia hingga ke pelosok.

Kemudian soal teknologi, BRI selalu mengupayakan proses bisnis yang efisien. Catur mengungkapkan keterjangkauan yang luas dirasa percuma bila tidak dibarengi dengan pemanfaan teknologi mumpuni.

Lagi-lagi, soal efisiensi proses bisnis menjadi tujuannya. Sebab, hal itu tidak saja memudahkan masyarakat di desa, tapi juga menghasilkan data yang lebih akurat.

"Saya kira itu yang kita anggap nyata dan sebagai tantangan yang harus menjadikan solusi di dalam menggarap ekonomi yang ada di daerah itu," terangnya.

Pembangunan infrastruktur yang masif dilakukan di pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dinilai berperan penting dalam membantu kerja BRI. Terlebih, dalam visi terbaru presiden, lanjut Catur, amat beriringan dengan misi BRI untuk meningkatkan perekonomian di desa-desa.

"Programnya sudah disediakan pemerintah, ekosistemnya sudah BRI banget, ya kita tidak boleh ketinggalan. Jadi sebetulnya visi pemerintah dengan ekosistem BRI itu sudah klop sekali," imbuhny.

Sebagai contoh, dari banyaknya pembangunan pelabuhan yang dilakukan oleh pemerintah. BRI bisa memaksimalkan pemanfaatan Teras Kapal. Teras Kapal merupakan layanan perbankan milik Bank BRI yang melayani aktivitas perbankan masyarakat pesisir.

Kini sudah ada tiga Teras Kapal yang beroperasi melayani masyarakat pesisir di Kepulauan Seribu, pulau-pulau kecil di Labuan Bajo dan Halmahera.

"Kita sudah mengantisipasi program pemerintah itu, dengan menyiapkan diri untuk melayani masyarakat sampai ke yang terluar dan sulit dijangkau," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More