Kamis 17 Oktober 2019, 22:40 WIB

Warga Kurdi Mengungsi ke Irak

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Warga Kurdi Mengungsi ke Irak

AFP
Warga Kurdi Mengungsi ke Irak

 

WARGA suku Kurdi di Suriah kini berbondong-bondong mengungsi ke Irak untuk menghindari serangan dan pengeboman yang terjadi dalam ofensif militer Turki ke perbatasan Turki-Suriah.

Ini misalnya dilakukan Rosine Omar, 28, bersama keluarnya. Mereka berhasil tiba di kamp Berdarch di wilayah otonom Kurdi di Irak. Sebelumnya mereka tinggal di Kota Ras al-Ain, sebuah wilayah di Suriah yang menjadi salah satu sasaran utama serangan Turki.

"Suasana di Ras al-Ain tidak aman. Kami terus mendengar bunyi tembakan roket dan khawatir kondisi bakal terus memburuk," kata Omar, kemarin.

Otoritas Kurdi telah meminta dibukakannya koridor kemanusiaan di Ras al-Ain agar bisa mengungsikan warga sipil.

Sementara itu, Rami Abdel Rahman, kepala Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris, menyatakan serangan militer Turki selama seminggu terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai milisi Kurdi di Suriah timur laut telah menyebabkan lebih dari 300 ribu orang mengungsi.

Dia mengatakan, naiknya jumlah pengungsi dikarenakan terjadinya gelombang perpindahan baru selama beberapa hari terakhir dari daerah-daerah sekitar Tal Abyad dan Kobane dan di provinsi Hasakeh.

"Kebanyakan pengungsi pindah bersama kerabat ke daerah yang lebih aman. Beberapa tidur di kebun dan yang lainnya di 40 sekolah yang telah berubah menjadi tempat penampungan darurat," kata Abdel Rahman.

Menurut SOHR, milisi pemberontak Suriah pro Turki kemarin menyerang sebuah rumah sakit di Ras al-Ain. Akibatnya staf maupun pasien terjebak di dalam lokasi itu.

Pasukan suku Kurdi atau SDF telah kehilangan sejumlah wilayah mereka sejak Turki memulai serangan pada 9 Oktober.

SDF kini mencoba mempertahankan Ras al-Ain dengan membuat sejumlah terowongan dan parit. Namun SOHR menyebut pasukan Turki kemarin telah merebut setengah wilayah kota tersebut.

Turki melakukan ofensif itu untuk menciptakan zona aman sepanjang 30 kilometer di perbatasan dengan Suriah. Zona itu nantinya, menurut Turki, dipakai untuk tempat penampungan lebih dari 3,6 juta pengungsi Suriah yang kini tinggal di Turki.

Sejauh ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tetap menolak desakan dunia internasional untuk menghentikan ofensif tersebut.

Strategi brilian

Di Washington, Presiden AS Donald Trump membela diri atas keputusannya menarik pasukan Amerika Serikat dari Suriah sebagai "strategi yang sangat brilian".

"Saya memandang situasi ini sebagai brilian secara strategi. Pasukan AS sudah aman, tidak lagi berada di zona perang. Kalau Turki masuk ke Suriah, itu urusan Turki dengan Suriah, bukan Turki dengan AS seperti diyakini oleh banyak orang bodoh sekarang," kata Trump di Gedung Putih, kemarin.

Trump juga memandang soal kaburnya tahanan ISIS dari penjara di Suriah, yang dikelola milisi Kurdi, hanya sebagai upaya membujuk AS untuk tetap tinggal di Suriah.

Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat AS dari kubu Partai Republik maupun Partai Demokrat mengecam tindakan Trump tersebut. Total 129 anggota dari kubu Republik, partai pendukung Trump, bergabung bersama Demokrat dalam voting pembuatan resolusi, yang meminta penghentian serangan Turki, dengan hasil 354-60. (AFP/X-11)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More