Kamis 17 Oktober 2019, 19:39 WIB

Industri Keuangan Syariah Indonesia Peringkat Pertama Dunia

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Industri Keuangan Syariah Indonesia Peringkat Pertama Dunia

MI/Ardi Teristi
Pembukaan Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah (FREKS) 2019. Industri Keuangan Syariah Indonesia Peringkat Pertama Dunia.

 

INDONESIA menempati peringkat pertama dalam Global Islamic Finance Report (GIFR) dengan capaian skor 81,93 pada Islamic Finance Country Index (IFCI) 2019. Capaian tersebut terbilang cukup baik, sebab tahun laluIndonesia berada di peringkat 6 dengan skor 24,13.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, capaian tersebut merupakan upaya keras pemerintah bersama dengan para stakeholder memajukan perekonomian syariah, tidak hanya di Indonesia melainkan di dunia.

Sebab, menurut Bambang, saat ini perekonomian syariah dinilai menjanjikan seiring dengan tren populasi muslim global yang terus meningkat. Ekonomi syariah saat ini juga menjadi arus baru dalam arus perekonomian global.

Bambang menyebut, di 2030 mendatang jumlah penduduk muslim dunia diprediksi melebihi seperempat populasi global. Hal itu, kata dia, harus dijadikan momen untuk terus mendorong perkembangan perekonomian syariah.

"Seiring dengan pertumbuhan populasi tersebut, pasar ekonomi syariah global di 2023 diperkirakan mencapai US$3 triliun, dan aset keuangan syariah mencapai US$3,8 triliun," ujar Bambang dalam sambutannya di penyerahan penghargaan GIFR 2019, di kantornya, Kamis (17/10).

Peningkatan kesadaran masyarakat global tentang konsep ekonomi yang berbasis ekonomi etika juga dinilai menjadi kesempatan yang potensial bagi perkembangan perekonomian syariah Indonesia.

Indonesia, imbuh Bambang, telah memberikan perkembangan ekonomi syariah yang cukup memuaskan. Hal itu dapat dilihat dari makin menjamurnya jumlah institusi keuangan syariah yang berjumlah 4.000. Ribuan institusi itu menawarkan layanan dan produk syariah, bank syariah, perkreditan rakyat syariah, asuransi syariah, dana pensiun syariah, pegadaian syariah, koperasi syariah, dan financial techonolgy (fintech) syariah.

Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan, Juli 2019, jumlah aset keuangan syariah Indonesia yang tidak termasuk saham atau Baitul Mal Tanwil (BMT) mencapai US$95 miliar dengan pangsa pasar 8,3% dari total pangsa global.

Sementara total aset perbankan syariah mencapai Rp500 triliun atau setara 6% dari total pangsa pasar keuangan syariah. Selain itu sektor keuangan non bank syariah mencapai Rp102 triliun. Reksadana syariah mencatat aset Rp33 triliun, sedangkan sukuk koorporasi sebesar Rp700 triliun.

Industri pasar modal syariah telah berkembang positif. Kapitalisasi saham syariah berdasarkan indeks saham syariah Indonesia mencapai Rp3.700 triliun pada akhir Juni 2019. Sedangkan total aset diperkirakan sebesar Rp7,2 triliun.

"Hal itu menunjukkan bahwa perbankan syariah terus menunjukkan pertumbuhan aset, pembiayaan dan deposito yang kuat," tukas Bambang.

Pemerintah, imbuh Bambang, terus berkomitmen mengembangkan pertumbuhan ekonomi syariah yang lebih baik. Salah satu caranya yakni dengan membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Komite yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo itu memiliki tugas untuk membangun dan mendukung pertumbuhan ekonomi syariah dalam pertumbuhan ekonomi nasional. (A-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More