Kamis 17 Oktober 2019, 13:58 WIB

Akademisi Belum Lirik Budidaya Walet

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
Akademisi Belum Lirik Budidaya Walet

MI/Ardi Teristi Hardi
Indonesia penghasil produk walet terbesar di dunia. Namun belum ada daya dukung dari akademisi untuk meningkatkan produksi sarang walet.

 

BUDIDAYA burung walet yang menghasilkan sarang burung walet memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun, potensi tersebut belum dilirik oleh dunia akademis.

"Potensi (budidaya walet) sangat besar, dunia kampus belum banyak yang care," kata Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ali Agus saat menjadi pembicara seminar nasional burung walet di Fakultas Peternakan UGM, Kamis (17/10).

Di Tiongkok, sarang burung walet sangat diminati. Di sana, harga sarang burung walet mencapai Rp 70-80 juta per kilogram.

"Di aspek akademik (budidaya sarang burung walet) belum banyak disentuh, seperti budidaya dan standardisasi sarang burung walet," kata dia.

Seminar ini, kata dia, menjadi pengenalan awal penelitian budidaya walet.

Pada kesempatan itu konsultan burung walet dan CEO Dunia Walet, Arief Budiman mengatakan, sangat penting kolaborasi dengan dunia pendidikan untuk meningkatkan industri burung walet. Baru pertama kali, pihak kampus di Indonesia peduli terhadap bisnis sarang burung walet yang sebenarnya sudah lama sebagai komoditas ekspor non migas.

Ia berharap, setelah ini akan ada penelitian dan pengembangan yang lebih dalam secara akademis terkait budidaya burung walet.

"Perlu penelitian yang dalam tentang kandungan dan dosis terbaik kalau sarang burung walet dikonsumsi," kata Arief.

Penelitian tersebut sangat penting karena dari nilai ekonomi, sarang burung walet sangat tinggi. Harga sarang walet per
kilogram antara Rp9 juta-Rp12 juta.

Saat ini Indonesia menjadi eksportir sarang burung walet terbesar ke Tiongkok. Sarang walet dikonsumsi oleh masyarakat Tiongkok sejak ratusan tahun lalu dan dipercaya memberi manfaat kesehatan yang luar biasa. Terutama kecerdasan balita dan anak, kesegaran kulit, vitalitas pria, hingga panjang usia.

"Kami juga telah membuat produk turunan dari sarang burung walet, seperti kopi walet, teh walet, dan walet oil," kata dia.

Pembicara lain, Direktur PT Borneo Lancar Abadi, Ade Rachmad Dermawan mengatakan potensi sarang burung walet memang besar. Kini, perusahaannya juga masuk ke budidaya sarang burung walet selain bergerak di bidang perkebunan sawit.

"Kami menyasar pasar ekspor ke Tiongkok. Pengekspor sarang burung walet, 78%  adalah Indonesia. Setahun Tiongkok perlu 300 ton, Indonesia baru mampu menyuplai 70 ton pertahun," kata dia.

baca juga: Pentas di Depan DPRD Sentil Pejabat Korupsi

Ternak sarang walet pun bisa dilakukan di tengah-tengah perkebunan sawit. Pasalnya, di dalam kebun sawit banyak serangga yang menjadi bahan makanan bagi burung walet. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More