Kamis 17 Oktober 2019, 13:47 WIB

Pasien Diabetes Perlu Rutin Periksa HbA1c

Eni Kartinah | Humaniora
Pasien Diabetes Perlu Rutin Periksa HbA1c

Istimewa
Pasien diabetes disasankan melakukan pemeriksaan HbA1c setiap tiga bulan sekali.

 

ANGKA diabetes di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017, dilaporkan bahwa epidemi penyakit diabetes di Indonesia masih akan cenderung meningkat.

IDF juga memperkirakan jumlah penyandang diabetes usia 20-79 tahun di Indonesia sekitar 10,3 juta orang pada tahun 2017, dan akan bertambah menjadi 16,7 juta orang di tahun 2045, dengan mayoritas penderitanya tinggal di daerah perkotaan.

Salah satu faktor penyebab tingginya angka penyandang diabetes di Indonesia adalah masih kurangnya edukasi mengenai penyakit ini. Hal ini terlihat dari banyaknya pasien yang terlambat terlambat didiagnosa diabetes, karena mereka tidak mengetahui gejala dan bagaimana mengelola diabetes.

Bahkan 52% pasien diabetes sudah mengalami komplikasi saat pertama terdiagnosa. Komplikasi diabetes menyebabkan berbagai kerusakan organ tubuh, di antaranya adalah diabetes retinopati yang merupakan penyebab utama kebutaan pada orang dewasa, diabetes nefropati yang merupakan penyebab utama penyakit ginjal tahap akhir, serta peningkatan antara dua hingga empat kali lipat mortalitas akibat penyakit kardiovaskular dan stroke.

Salah satu pasien diabetes  Ir. Koentjoro, M.Pd, seorang penyandang diabetes tipe 2 selama 24 tahun mengatakan, “Ketika terkena diabetes, saya belum tahu apa itu penyakit diabetes, malah jadinya stres.”

“Tak hanya berobat ke dokter, saya juga sempat ke pengobatan alternatif, akhirnya malah membuat fluktuasi gula darah naik turun terus. Sampai tahun 2005-2006 saya mulai berobat di Klinik Diabetes Terpadu di Bogor barulah saya mendapatkan edukasi mengenai apa itu diabetes dan bagaimana mengelola penyakit ini. Jadi, dibutuhkan waktu sampai 10 tahun dari saya terdiagnosis sampai mendapatkan edukasi yang benar tentang diabetes,” papar Keontjoro.

Di Klinik Diabetes Terpadu, Jakarta, Koentjoro mendapatkan informasi mengenai penyakit diabetes, termasuk mengenai pentingnya mengatur pola makan, berolah raga, serta melakukan tes HbA1c atau glycated hemoglobin (hemoglobin glukosa) secara berkala untuk mengontrol gula darah.

Ia juga mengatakan bahwa masih ada teman-teman sesama penyandang diabetes yang belum sadar akan pengelolaan diabetes, terutama tes HbA1c. Pemeriksaan HbA1c adalah salah satu faktor penting penatalaksanaan diabetes.

HbA1c bisa dijadikan parameter untuk mendeteksi dan mengurangi komplikasi jangka panjang. HbA1c ini mencerminkan rata-rata kadar gula darah selama tiga bulan terakhir, jauh lebih akurat dibandingkan pemeriksaan gula darah harian yang sangat fluktuatif.

Kontrol HbA1c yang baik berkaitan erat dengan risiko komplikasi kesehatan jangka panjang yang lebih rendah. Jika nilai HbA1c terus tinggi maka risiko komplikasi juga tinggi, baik komplikasi makrovaskular seperti penyakit jantung dan stroke, maupun komplikasi mikrovaskular seperti kerusakan saraf, mata, dan ginjal.

Setelah Anda mengetahui kadar gula darah tinggi di dalam tubuh dan hasil pemeriksaan darah HbA1c tetap tinggi setelah penggunaan obat minum antidiabetes, biasanya Anda akan membutuhkan suntik insulin untuk menetralisasi kadar gula dalam darah.

Dengan hanya penurunan sebanyak 1% HbA1c dapat mengurangi komplikasi diabetes jangka panjang, seperti amputasi sebanyak 43%, komplikasi mikrovaskuler sebanyak 37%, gagal jantung sebanyak 16%, dan stroke sebanyak 12%.

Ketua Perkumpuan Endrokinologi Indonesia (Perkeni) Prof. Dr. Ketut Suastika SpPD-KEMD mengatakan, “Perkeni menyarankan agar pasien diabetes melakukan pemeriksaan HbA1c setiap tiga bulan sekali. Nilai HbA1c pasien diabetes sebaiknya di bawah 7%.”

“Pemeriksaan HbA1c sudah di-cover BPJS Kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat dua. Tetapi sayangnya fasilitas untuk tes HbA1c belum merata di semua daerah. Kendala lain pemeriksaan HbA1c adalah harganya relatif mahal, di rumah sakit swasta mungkin sekitar Rp200.000,” kata Profesor Ketut di Jakarta, Kamis (17/10).

Menurut Ketut, nilai HbA1c bisa menjadi indikator inisiasi penggunaan insulin. Apabila seorang penderita diabetes sudah terdiagnosis dan sudah mendapat terapi dengan obat antidiabetik oral (OAD) dengan dosis maksimal namun gula darah masih belum terkontrol (HbA1c lebih dari 7%), sudah dapat memulai inisiasi insulin.

Terlebih lagi, apabila pasien pertama kali terdiagnosis diabetes dengan HbA1c lebih dari 9% dengan adanya gejala dekompensasi metabolik, maka dianjurkan untuk inisiasi pemberian insulin untuk dapat mengendalikan gula darah penderita.

Prof Ketut menambahkan, “Memang pada pasien tertentu dengan kadar HbA1c di atas 9% dan disertai gejala katabolik yang berat, bahkan sampai kegawatdaruratan, harus langsung diberikan insulin. Tetapi memang masih banyak kendala pemberian insulin ini, termasuk dari sisi pasien itu sendiri. Misalnya, takut jarum suntik dan takut kalau insulin akan membuat ketergantungan.”

Faktanya, sebanyak 68% pasien diabetes yang menerima pengobatan tidak mencapai target HbA1c. BPJS Kesehatan mensyaratkan, ketika HbA1c nilainya di atas 9%, baru pasien mendapatkan insulin yang ditanggung BPJS Kesehatan. Namun sebenarnya indikasi pemberian insulin bukan hanya dari HbA1c saja.

Meskipun pemeriksaan HbA1c memang salah satu hal penting dalam penatalaksanaan diabetes, memang pemeriksaan ini belum menjadi alat wajib di Puskesmas di Indonesia. Alasannya adalah efisiensi dan efektivitas alat terkait harga yang mahal dan ketersediaan SDM yang mampu mengoperasionalkannya.

 “Saat ini, jika pasien datang ke Puskesmas dan membutuhkan pemeriksaan HbA1c maka digunakan fasilitas rujukan ke pusat pelayanan kesehatan tingkat dua. Mekanismenya bisa dengan berjejaring dengan laboratorium klinik yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan,’’ kata jelas Drg. Saraswati MPH, Direktur Pelayanan Primer, Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

“ Karena pemeriksaan HbA1c ini sudah menjadi standar dari pelayanan diabetes melitus, faskes tingkat pertama pun sudah menyosialisasikannya kepada pasien diabetes,” jelas Saraswati. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More