Kamis 17 Oktober 2019, 09:45 WIB

Jumlah Kasus Malnutrisi di Cianjur Butuh Perhatian Serius

Benny Bastiandy | Nusantara
Jumlah Kasus Malnutrisi di Cianjur Butuh Perhatian Serius

Antara
Masalah malnutrisi masih menjadi persoalan di Kabupaten Cianjur. Anak dengan kecenderungan obesitas dan stunting masih ditemukan di Cianjur.

 

JUMLAH balita terindikasi kekurangan gizi (malnutrisi) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berdasarkan data pada 2018 sekitar 19,6% atau lebih kurang 210.750 orang. Kondisi tersebut jadi perhatian sekaligus keprihatinan sejumlah pihak. Sebab berdasarkan batas maksimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (Wolrd Health Organization), jumlah penderita kurang gizi tak boleh lebih dari 10%.

"Kalau berhitung angka, jumlah balita yang terindikasi kekurangan gizi di Kabupaten Cianjur relatif masih tinggi," kata anggota DPR dari Fraksi PKB, Neng Eem Zulfah Hiz, Kamis (17/10).

Eem fokus menyikapi kondisi tersebut. Sebab, Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor merupakan basis konstituen yang mengantarkannya ke Senayan. Bersamaan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober, Eem pun mengajak masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat dalam jumlah cukup dan tidak berlebihan.

Indonesia menghadapi persoalan pangan yang hampir sama dengan berbagai kasus di dunia. Permasalahannya cukup kontras. Di satu sisi sebagian masyarakat mengalami obesitas atau kegemukan. Di sisi lain terdapat masyarakat yang masih menderita gizi buruk, kurang gizi, ataupun stunting," sebut Eem.

Data yang diperolehnya dari Kementerian Kesehatan RI, pada 2019 menunjukkan Indonesia berada pada posisi 10 di antara deretan negara dengan jumlah penderita obesitas terbanyak. Di sisi lain, lanjut Eem, pada 2018, tercatat sebanyak 17,7% balita di Indonesia mengalami masalah gizi.

"Salah satunya masalah kekurangan gizi balita di Kabupaten Cianjur. Kondisi ini harus menjadi keprihatinan kita semua," terangnya.

Obesitas dan malnutrisi ataupun stunting, kata Eem, masalahnya sama, yakni asupan gizi. Obesitas dipicu pola makan yang kurang baik, berlebihan, dan kurang aktivitas terutama olahraga. Sementara penyebab stunting, gizi buruk, dan kurang gizi, lebih banyak dipicu faktor ekonomi dan pengetahuan masyarakat.

"Masyarakat yang punya kelebihan makanan diharapkan memanfaatkannya secukupnya, tidak berlebihan, sehingga tidak berpotensi untuk mengalami obesitas. Sementara itu, di sisi lain, kita dorong perbaikan ekonomi masyarakat kurang mampu yang masih mengalami kekurangan gizi," tandas Eem.

Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman, mengatakan masalah kesehatan anak di Kabupaten Cianjur, selain kurang gizi, juga stunting dan gizi buruk. Namun berbeda dengan malnutrisi yang angkanya masih cenderung tinggi, kasus stunting dan gizi buruk bahkan menunjukkan kecenderungan penurunan.

"Kondisi stunting sebelumnya 41,7%, sekarang turun jadi 14,9%. Begitu juga gizi buruk sekarang 3,9% dari yang diprasyaratkan tak boleh lebih dari 5%. Artinya, soal stunting dan gizi buruk, di Kabupaten Cianjur sudah lebih baik," ungkapnya.

baca juga: Dampak Kekeringan, Dinas Sosial Flotim Salurkan Beras Cadangan

Banyak faktor penyebab terjadinya stunting, gizi buruk, maupun kurang gizi. Utamanya lebih disebabkan faktor ekonomi keluarga.

"Tapi yang pasti pemerintah akan fokus menangani masalah gizi anak," pungkasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More