Kamis 17 Oktober 2019, 08:24 WIB

Layanan Digital di Indonesia Mayoritas Milik Asing

Siswantini Suryandari | Teknologi
Layanan Digital di Indonesia Mayoritas Milik Asing

Istimewa
Kepala BPPT Hammam Riza menyatakan BPPT siap bekerja sama dengan semua pihak untuk mengembangkan layanan digital.

HINGGA saat ini penyedia layanan digital di Indonesia, sebagian besar masih dikuasai oleh pihak asing. Sehingga jaminan untuk kedaulatan data dan privasi masih belum optimal. Menghadapi era digital tersebut, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyampaikan bahwa dibutuhkan kesiapan yang matang, agar Indonesia dapat terus berdaulat dan berdaya saing di era digital ini.

BPPT sebut Hammam saat ini terus melakukan penguasaan teknologi di bidang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Yakni dengan membangun BPPT Artificial Intelligence Innovation Center. Keberadaan BPPT AI Innovation Center ini ujar Hammam akan semakin meningkatkan dukungan teknologi BPPT bagi semua kalangan. BPPT imbuhnya, siap untuk melakukan kerjas ama terkait penerapan AI di berbagai bidang.

"Pembangunan AI Center BPPT sudah dalam tahap penyelesaian. Kecanggihan teknologi AI atau kecerdasan buatan ini, harus kita optimalkan untuk percepatan dan efisiensi pembangunan nasional," jelas Hammam usai pertemuan Indonesia AI Accelleration Advisory Board di Jakarta, Rabu, (16/10).

Dalam keterangan resminya, Hammam mengatakan bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pertanian, farmasi, militer, hingga mitigasi bencana.

Hammam menjelaskan Artificial Intelligent bisa dikatakan sebuah teknologi yang dapat ditugaskan untuk melakukan rasionalisasi data, dan formulasi. Sekaligus untuk menghasilkan rekomendasi berupa hasil atau tindakan yang memiliki peluang terbaik.

Sebagai contoh di bidang mitigasi bencana, BPPT baru saja bekerjasama dengan BMKG untuk pengembangan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) berbasis AI.  Operasi TMC menurut Hammam dapat dibekali kecerdasan buatan. Hal ini ungkapnya akan sangan bermanfaat untuk mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun.

"Artinya dengan kecerdasan buatan, Operasi TMC dapat dilakukan sebelum karhutla. Jadi begini, BMKG punya data musim kemarau, musim hujan, dan iklim lainnya. Informasi itu merupakan big data yang bisa dipakai pada mesin AI untuk machine learning atau deep learning. Itu bisa dikembangkan dan didalami untuk menghasilkan model, yang dapat menghasilkan rekomendasi berupa prediksi waktu yang tepat untuk pelaksanaan TMC, guna mencegah Karhutla,” paparnya.

baca juga: FAO Serukan Pola Pangan yang Sehat

Hammam berharap dengan pemanfaatan AI ini peran teknologi sebagai penghela perekonomian nasional dapat meningkat. Dicontohkan olehnya di negara maju upaya pengembangan obat, hingga eksplorasi sektor migas, sudah berbasis AI.

"Perusahaan farmasi di negara maju saat ini mulai bermitra dengan pengembang AI, dalam riset bidang farmasi. Bahkan Google dan Facebook Inc., melakukan hal tersebut," jelasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More