Kamis 17 Oktober 2019, 06:40 WIB

Wajah Baru Dominasi Kabinet

Akmal Fauzi | Politik dan Hukum
Wajah Baru Dominasi Kabinet

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Presiden Jokowi bersama Ketua MPR Bambang Soesatyo (kanan) dan Wakil Ketua MPR (dari kiri) Arsul Sani, Lestari Moerdijat, dan Ahmad Basarah.

 

TIGA hari menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin, Minggu (20/10), perhatian masyarakat mulai mengarah kepada figur para menteri.

Apalagi di Istana Merdeka Jakarta, kemarin, Jokowi membuka wacana banyaknya wajah baru yang mengisi posisi menteri di periode kedua pemerintahannya.

"Ya, (menteri) yang lama ada. (Menteri) yang baru banyak," kata Jokowi kepada para wartawan.

Akan tetapi, dia enggan mengungkap siapa saja nama-nama baru yang masuk kabinet. Begitu pun ketika ditanya siapa saja menteri lama yang dipertahankan.

"Belum dihitung persentasenya," lanjut Jokowi.

Tidak hanya nama baru di kabinet, nomenklatur kementerian pun bakal mengalami perubahan. Lagi-lagi Jokowi bungkam ketika ditanya soal nomenklatur kementerian. Apakah ada dua kementerian yang dilebur menjadi satu, memecah satu kementerian menjadi dua, atau membentuk kementerian baru. "Ya, secepatnya setelah pelantikan."

Dalam penilaian Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, yang penting bagi kabinet baru Jokowi ialah kesiapan untuk langsung bekerja meneruskan program yang belum tuntas.

"Penting bagi Jokowi mempertahankan wajah lama karena mereka tahu keinginan Jokowi. Namun, mau wajah lama atau baru harus diterima koalisi yang sejak awal mendukung Jokowi," ujar Adi.

Wakil Ketua MPR yang juga kader PDIP, Ahmad Basarah, mengemukakan partainya mengedepankan asas gotong royong dalam pemerintahan. Bergabungnya partai yang pernah berseberangan saat pemilu merupakan hal wajar.

"Dalam pemerintahan kita tidak mengenal oposisi selain checks and balances. Namun, sikap di koalisi tetap mengutamakan keputusan presiden," kata Basarah.

 

Di saku Prabowo

Hingga tiga hari menjelang pelantikan Jokowi-Amin, Partai Gerindra mengaku belum menerima tawaran di kabinet kendati Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto gencar bersafari kepada ketua-ketua umum partai koalisi pemerintah.

Juru bicara Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak, dalam keterangan persnya menyatakan, dalam safari itu tidak dibahas posisi menteri. "Sampai saat ini belum bicara menteri. Kader Gerindra banyak. Ada Edi Prabowo, Bang Sandi. Bang Sandi menolak itu. Fadli pun demikian."

Dalam Konferensi Nasional dan Apel Kader Gerindra di Padepokan Garudayaksa di Hambalang, Kabupaten Bogor, kemarin, Prabowo menyampaikan tiga sikap politik di depan 4.000 kader.

Pertama, konsep ekonomi dengan semangat ketahanan pangan dan energi yang kuat. Kedua, Gerindra mempersilakan bila Jokowi mengadopsi dalam pemerintahannya selama lima tahun ke depan. Apabila tidak, pihaknya tetap bekerja sama untuk NKRI. Ketiga, Prabowo memutuskan tetap menjaga kerukunan berbangsa dan  bernegara.

"Pak Prabowo tidak bicara menteri. Kami membuka diri kalau diterima. Kalau enggak, kami bekerja sama baik di pemerintahan atau di luar," tandas Dahnil.

Namun, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani memastikan Prabowo secara resmi akan menyampaikan berkoalisi atau tidak bersama Jokowi. Untuk kandidat menteri, "Namanya di saku Pak Prabowo."

Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin, tidak menepis rumor Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo sebagai kandidat menteri pertanian. "Kan diusulkan. Mudah-mudahan." (Uta/DD/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More