Rabu 16 Oktober 2019, 19:00 WIB

Petani di Mbay Nagekeo Gagal Panen Jagung

Ignas Kunda, Kontributor Metro TV | Nusantara
Petani di Mbay Nagekeo Gagal Panen Jagung

Metro TV/Ignas Kunda
Salah seorang petani jagung di Kabupaten Nagekeo, Fransiskus Keka, mengaku gagal panen.

 

SEJUMLAH petani di lahan persawahan Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, mengalami gagal panen jagung. Kondisi ini terlihat di sejumlah petani pada area persawan pintu KM 1,2 kanan, Kelurahan Lape, Rabu (16/10).

Mereka mengaku bahwa jagung yang ditanam kali ini adalah jenis hibrida melalui program 'Tanam Jagung 1.000 Hektare' wilayah sekunder  satu, Kecamatan Aesesa, melalui Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo.

Fransiskus Keka, salah seorang petani yang ditemui Media Indonesia, mengaku bahwa jagung yang ditanamnya pada lahan 1 ha, hanya berhasil dipanen 50 kilogram.

"Panen juga campur dengan jagung yang rusak, tongkol kecil," keluhnya.

Menurut Fransiskus, salah satu faktor yang menyebabkan gagal panen yakni ketiadaan air sehingga kadar garam dalam tanah tinggi.

"Kami kasih tahu PPL mereka menyerah tidak tau caranya jadi mau bagaimana lagi, ini program pemerintah jadi kami ikut saja. Yang tahu hanya orang PPL yang sekolah. Kalau mereka tidak tahu, apa lagi kami ini," katanya.

Dari pantauan di lapangan, sebagian besar tanaman jagung terlihat kerdil hanya setinggi betis orang dewasa atau 30-40 sentimeter dan telah kering.

Beberapa rumpun setinggi orang dewasa pun hanya menghasilkan jantung dengan bonggol yang kecil.

Ketua kelompok tani, Jelita 2, Sevrinus Mego, pintu KM 1,2, mengatakan, ia telah mengikuti segala petunjuk, tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Semua rumpun jagung yang tak berbonggol terpaksa dibabatnya untuk dijadikan makanan ternak.

"Terpaksa rumpun jagung ini saya potong untuk pakan ternak sapi. Bisa lihat sendiri, pohonnya pendek dan kerdil, beberapa sudah mengering padahal belum ada buahnya. Kalau pun ada buahnya, tidak ada isinya, mudah kasih tahu di PPL tapi tidak ada hasil," sesalnya.

Sevrin mengaku sangat kecewa karena 0,80 hektare lahannya tidak menghasilkan apa-apa. Ia berniat menjual semua rumpun jagung bila ada yang mau membeli untuk dijadikan pakan ternak agar bisa mendapatkan uang.

Sevrin menduga bahwa kegagalan program tanam jagung tersebut disebabkan karena lahannya mengandung kadar air yang tinggi.

"Mungkin terlalu tinggi kadar air dalam tanah bagian bawah. Mungkin karena itu lahan ini tidak cocok ditanami jagung. Kemungkinan lain adalah bibit pembagian pemerintah tidak cocok ditanam di daerah panas.Mungkin bibitnya berasal dari tanah dingin," lanjutnya.

Sevrin bersyukur karena dirinya tidak tergiur dengan tawaran KUR (kredit usaha rakyat) dari beberapa bank yang datang menawarkan pinjaman. Bersama pihak dinas sewaktu sosialisasi awal pencanangan program tanam jagung 1.000 ha.

 

Baca juga: Rumah Ludes Terbakar, Harta Benda tak Terselamatkan

 

"Ada teman-teman saya yang telah terlanjur pinjam uang lewat KUR. Kesepakatannya, pinjaman akan dibayar dengan hasil panen jagung. Sekarang jagung gagal panen, mau bayar pakai apa?" lanjutnya.

"Mungkin mereka sudah ada kerja sama dengan Dinas Pertanian, mereka datang bersama-sama dengan pegawai dinas. Rencananya, Dinas Pertanian akan membeli jagung kami seharga Rp3.000 per kg. Uang hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk membayar KUR kepada pihak bank," urainya.

Sevrin mengaku bahwa sejak awal dirinya merasa ragu terhadap keberhasilan program jagung tersebut.

"Karena kami sudah pernah coba tanam jagung, hasilnya tidak bagus.Di sini cocoknya tanam padi dan kangkung saja.Tetapi kami terpaksa ikuti saja,karena ini program pemerintah.Lagi pula mereka tutup air, bagaimana kami mau tanam padi?" ujarnya.

Sevrin melanjutkan bahwa walaupun mengalami kerugian besar, dirinya terpaksa menurut saja pada keadaan.

"Kalau pemerintah ada hati, bisa bantu kami. Untuk mulai lagi tanam padi, modal kami tidak punya.Bagaiman bayar traktor, bagaimana beli pupuk dan lain-lain, sementara jagung kami tidak bisa jual karena barangnya tidak ada," pungkasnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Nagekeo, Wolfgang Lena, enggan berkomentar banyak karena belum mendapatkan data soal gagal panen yang dialami para petani. Namun, ia tak menampik adanya bantuan KUR ke petani karena pada saat sosialisasi program pihak bank dan dinas juga turun bersama menyambangi petani.

"Nanti besok, saya belum dapat data. Ia pegawai dari BNI, BPD, BRI bersama dinas turun ke lapangan. Saya belum ada data lengkap, nanti besok saya cek dulu," tandas Wolfgang. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More