Rabu 16 Oktober 2019, 11:57 WIB

Babel Larang Lada Dijual Antar Pulau

Rendy Ferdiansyah | Nusantara
Babel Larang Lada Dijual Antar Pulau

MI/Rendy Ferdiansyah
Petani lada sedang merawat tanaman komoditas unggulan Bangka Belitung ini.

 

PEMERINTAH Provinsi Bangka Belitung (Babel) melarang hasil perkebunan lada dikenal dengan brand Muntok White Pepper dijual antar pulau. Gubernur Babel, Erzaldi Rosman, mengatakan lada harus diolah menjadi produk hilirasi. Untuk itu Pemprov Babel akan bekerja sama dengan BUMD. Erzaldi juga akan mengeluarkan peraturan daerah tentang tata niaga lada.

"Lada yang dikirim ke luar antarpulau harus sudah dihilirasi, dikemas misalnya dalam bentuk bubuk atau kemasannya bagus. Lada Babel yang keluar kita negosiasikan agar yang dikirim hanya melalui dua pelabuhan, yaitu Bangka dan Belitung," tegas Erzaldi, Selasa (15/10).

Ia menyebutkan, nantinya lada ini akan dikemas dengan karung yang sudah diberi barcode dan dicantumkan pula Indikator Geografis (IG). Sehingga produk produk lada ini sudah terjamin asli dari Babel.

"Saya minta LPPOM karungnya sudah ada label halal dan hak kekayaan intelektual, sehingga lada kita benar-benar murni dan asli," sebutnya.

Saat ini, harga lada murah, petani menjadi kurang bersemangat bertanam lada. Padahal petani harus bersemangat meningkatkan produktivitas lada, agar dapat keuntungan banyak.

"Bagaimana mau bersaing dengan negara lain, di Vietnam harga lada  tidak ada halangan karena produktivitas tinggi. Produksi di sana tiga ton per hektar dengan harga Rp50 ribu per kg. Kalau di Babel cuma 500 kg per hektar per tahun," tambah Erzaldi.

Lada putih dari Babel ini yang dijual di luar dalam bentuk lada halus dijual cukup mahal, mencapai ratusan ribu per kemasan kecil. Sedangkan di Babel harganya hanya Rp46 ribu.

"Cek di Jakarta di Bali harganya berapa, apa yang sebabkan mahal? Kreatifitas packaging, tapi kenapa petani masih jual ke eksportir? Saat kita minta ngumpul di gudang, petani enggak mau. Kalau mau harga mahal harus ada strategi," tandasnya.

Untuk itu, Pemprov Babel bersama dengan Badan Pengelolaan Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) dan Tim Pengawas Tata Kelola Lada akan merumuskan kebijakan baru yang diharapkan dapat mendongkrak harga lada. Ketua Tim Pengawas Tata Kelola Lada, Zaidan menyebutkan bahwa lada Babel punya ciri khas terutana tingkat kepedasan.

"Kita punya kekuatan hukum genjot lada ke harga tertinggi, brand Muntok White pepper ini sudah punya IG dan nama," kata Zaidan.

Namun sayangnya, karena permainan pasar, lada ini diindikasikan dijual atau ekspor dari provinsi lain, dengan memakai brand Muntok White Pepper.

"Dari rapat bersama gubernur, dan tim, diputuskan akan melaksanakan pengaturan tata kelola lada satu pintu. Tidak ada lagi pengiriman antarpulau, termasuk antarprovinsi," ujarnya.

Kemudian ekspor harus menggunakan karung khusus berlabel IG. Dalam rangka menjamin mutu, lada ini akan dikemas berukuran 5 kg, 10 kg, dan 20 kg.

"Akan melaksanakan restrukturisasi dan penguatan peran BP3L termasuk badan pengawas, supaya punya sinergi dalam rangka upaya memperkuat tata kelola lada Babel," tukasnya.

baca juga: Keluarga Hilang Kontak Hampir 21 Tahun Dengan Ibunya di Riyadh

Selain itu, pengembalian peran pemerintah dalam hal pembinaan pengawasan berdasarkan Permenkumham nomor 12/2019 tentang merk dan IG, dan akan memperkuat peran Sistem resi gudang yang akan dikelola oleh BUMD.

"Terakhir kita akan melakukan penegahkan hukum, somasi terhadap pihak yang terbukti merugikannya IG termasuk muntok white papper," tegasnya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More