Rabu 16 Oktober 2019, 14:30 WIB

Cegah DBD Mewabah, Dinkes Edukasi PSN Sejak Dini

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Cegah DBD Mewabah, Dinkes Edukasi PSN Sejak Dini

MI/RAMDANI
Petugas memeriksa bak penampungan air di rumah warga saat program pemberantasan sarang nyamuk di kawasan Krendang, Tambora, Jakarta Barat

 

DINAS Kesehatan DKI Jakarta bersiap melakukan tindak pencegahan penyakit-penyakit menular yang kerap timbul di musim hujan seperti DBD.

Saat ini, masa penularan DBD masih rendah. Namun, justru di masa inilah gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) justru harus digalakkan.

Edukasi dan pembinaan kepada petugas-petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di seluruh wilayah DKI Jakarta dilakukan guna mulai menggerakkan kegiatan PSN.

"Juga kegiatan PSN justru mulai dari sekarang kita ingatkan lagi, latih lagi petugas-petugas kita yang akan turun ke lapangan. Karena ketika masa penularan tinggi saat musim hujan tiba itu justru mereka akan sibuk ke lapangan," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Dwi Oktavia ketika ditemui Media Indonesia di Balai Kota, Selasa (15/10).

Baca juga: Dinkes DKI Imbau Masyarakat Hati-hati Konsumsi Kerang Hijau

Tidak hanya PSN, Dinkes juga memberitahukan kepada lurah, camat, hingga para wali kota untuk mendukung gerakan PSN dan bersih-bersih lingkungan ketika musim hujan tiba. Tujuannya untuk mencegah munculnya berbagai penyakit.

"Kita kirimkan surat, plakat, pasang spanduk bahwa di daerah bapak atau ibu bisa rawan penyakit sehingga harus gerakan PSN dan bersih-bersih lingkungannya digalakkan," tandasnya.

Dwi menyebut pencegahan merebaknya DBD juga bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Ia memperkirakan berdasarkan info cuaca dari BMKG, puncak kenaikan atau tingginya masa penularan DBD akan terjadi pada Maret hingga April dan dimulai pada Januari hingga Februari.

Meski demikian, Dwi menyebut tidak bisa memprediksikan potensi kenaikan maupun penurunan kasus DBD maupun penyakit lainnya pada musim hujan kali ini.

"Prinsipnya saat cuaca dan kelembabannya mendukung, ia akan meningkat. Tapi jika tidak mendukung, meski itu sedang puncak musim hujan, dia tidak akan terjadi karena virusnya tidak bisa berkembang," ungkapnya.

Dwi manambahkan, kasus DBD di Jakarta memiliki siklus empat sampai lima tahunan.

Kasus DBD di Jakarta, menurut Dwi, pernah tercatat sangat tinggi pada 2012 dan 2016. Bahkan, pada 2016, Provinsi DKI Jakarta menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.

Kota yang mengalami KLB antara lain Kota Jakarta Pusat mengalami kenaikan 3 kali lipat dari 405 kasus menjadi 1.222 kasus. Jakarta Barat terdapat kenaikan sebesar 4 kali lipat dari 1.825 kasus menjadi 5.563 kasus. Jakarta Selatan mengalami kenaikan 3 kali lipat dari 1.247 kasus menjadi 4.378 kasus. Jakarta Timur mengalami kenaikan 6 kali lipat dari 256 kasus menjadi 6.438 kasus.

Sementara pada puncak musim hujan lalu tercatat ada sebanyak 2.883 kasus DBD per-12 Maret 2019. Sementara totalnya pada 2018 terdapat 2947 kasus.

Dwi menyebut jumlah itu meningkat dari tahun-tahun sebelumnya karena saat itu iklim global memang sedang dilanda apa yang disebut sabuk DBD yang sedang menghangat.

"Tidak hanya Indonesia tapi Filipina, Thailand juga mengalami hal yang sama. Memang saat itu iklim global sedang menghangat atau lembab dan memungkinkan virus berkembang," tegasnya.

Ia berharap agar kasus DBD pada puncak musim hujan berikutnya bisa menurun. Hal itu karena telah didukung dengan berbagai upaya pencegahan seperti PSN saat masa penularan rendah. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More