Rabu 16 Oktober 2019, 09:49 WIB

Untuk Industri 4.0, Teknologi Digital Perlu Diajarkan Sejak SMP

mediaindonesia.com | Humaniora
Untuk Industri 4.0, Teknologi Digital Perlu Diajarkan Sejak SMP

Istimewa
Pakar ekonomi kerakyatan Frans Meroga Panggabean saat peluncuran buku the Ma

 

ISTILAH 'tol langit' yang dilontarkan Wakil Presiden terpilih KH Ma'ruf Amin saat debat pasangan calon presiden dan wakil presiden ada pemilihan presiden 2019 terus mencuat dan semakin familiar.
    
"Kita sudah memiliki investasi infrastruktur yang hebat. Tidak saja tol darat, tol laut, tol udara, tetapi saya sebutnya juga tol langit. Yaitu namanya yang kami gunakan untuk digital," ujar KH Ma'ruf Amin saat itu.

Kini, tol langit yang sebelumnya sempat menjadi gurauan warganet, akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (14/10) dan siap beroperasi.

Tol langit tersebut merujuk pada Palapa Ring, infrastruktur internet yang terdiri atas kabel optik, microwave, dan menara BTS 4G, yang disiapkan pemerintah untuk menghadirkan internet cepat guna menggenjot industri digital.

Menanggapi prestasi tersebut, pakar ekonomi kerakyatan dan koperasi milenial, Frans Meroga Panggabean mengatakan bahwa inilah momentum kebangkitan ekonomi digital Indonesia dalam masa revolusi industri 4.0.

"Dengan ketersediaan infrastruktur jaringan internet cepat, maka dapat diprediksi minat generasi muda untuk menekuni bisnis digital pasti akan melonjak tajam," kata Frans di Jakarta, Rabu (16/10).

"Seperti keyakinan kami bersama teman-teman di Generasi Optimis Indonesia, bahwa ekonomi digital lah yang akan membuat Indonesia menjadi Negara Maju pada 2030," jelas Frans.

"Analisa kami memprediksi akan ada 1.000 unicorn yang akan berkontribusi atas pertumbuhan ekonomi sehingga Indonesia memiliki total produk domestik bruto Rp trilliun pada 2030 dan meraih 'top 5' negara dengan ekonomi terbesar di dunia," lanjut Frans.

Selanjutnya, Frans juga yang menjadi Wakil Ketua Umum Generasi Optimis (GO) Indonesia mengatakan bahwa tantangan prospek ekonomi digital di Asia Tenggara hingga 2025 diyakini mampu menembus angka US$150 Miliar.

"Kami meyakini dengan penyesuaian kurikulum di semua tingkatan sekolah diyakini akan merangsang generasi muda Indonesia mahir digital sejak dini," jelas lulusan MBA dari University of Grenoble, Prancis ini.

Teknologi digital dikenal sejak SMP

"Pengenalan dini terhadap penggunaan digital dapat dimulai sejak sekolah menengah pertama (SMP). Kurikulum pelajaran komputer dapat disesuaikan dengan telah mulai mengenalkan jaringan, aplikasi, dan coding sejak kelas 7," lanjut Frans lagi.

Selanjutnya penjurusan pada sekolah menengah atas (SMA) dapat dibuatkan jurusan digital guna melengkapi jurusan IPA dan IPS yang telah ada selama ini.

"Jadi penjurusan di SMA bisa dimulai sejak kelas 10 dan mendesak segera dibuka jurusan digital yang akan mengajarkan membuat platform aplikasi digital, big data, dan jaringan," ujar Frans yang juga tim penulis buku The Ma'ruf Amin Way. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More