Rabu 16 Oktober 2019, 09:44 WIB

Satgas Karhutla Fokus Padamkan Karhutla di OKI

Dwi Apriani | Nusantara
Satgas Karhutla Fokus Padamkan Karhutla di OKI

MI/Dwi Apriani
Gubernur Sumsel Herman Deru saat memantau kondisi kebakaran lahan dan hutan di Kantor BPBD Sumsel, Rabu (15/10) malam.

 

KARHUTLA dan kabut asap masih menyelimuti wilayah Sumatra Selatan. Berdasarkan pantauan satelit LAPAN pada hari ini, Rabu (16/10) tercatat ada 776 titik panas di Sumsel. Sebanyak 434 titik panas ada di Ogan Komering Ilir,136 titik di Musi Banyuasin dan 105 di Banyuasin.

Karena titik panas terbanyak di OKI, maka Satuan Tugas Kebakaran Lahan dan Hutan pun memaksimalkan upaya pemadaman di daerah tersebut. Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumsel Ansori mengatakan, pihaknya memaksimalkan upaya pemadaman karhutla dengan menggunakan helikopter waterbombing.

"Kita ada dua helikopter patroli yang selalu memantau kondisi karhutla di wilayah-wilayah Sumsel. Dan ada 10 helikopter untuk waterbombing. Sebagian besar waterbombing diarahkan ke OKI. Karena di sana karhutlanya makin luas," jelas Ansori, Rabu (16/10).

Ia mengakui OKI kini menjadi wilayah prioritas pemadam api. Sebab arah asap dari wilayah itu mengarah ke Palembang sesuai dengan arah anginnya. Lahan yang terbakar juga sebagian lahan gambut yang memang cukup sulit dipadamkan.

"Mudah-mudahan ke depan bisa turun (titik hotspot). Walaupun kita tahu kondisi udara masih kering, sumber air juga sudah berkurang," ujarnya.

Tidak hanya melalui udara, pemadaman juga dilakukan melalui darat. Sekitar 11.000 anggota satgas yang turun ke lapangan untuk memadamkan. Di antaranya 1.521 anggota Satgas Karhutla, 2.300 anggota TNI, 700-an anggota kepolisian dan BPBD Sumsel.

"Bahkan warga dan perusahaan setempat sangat membantu memadamkan kebakaran," ucapnya.

Ditambahkan Komandan Satgas Karhutla, Kol Arhanud Sonny Septiono, semua personel yang memadamkan karhutla sudah berjibaku semaksimal mungkin.

"Tidak ada yang libur, setiap hari bantu padamkan karhutla. Kita sudah berusaha sesuai kemampuan kita, sampai hari ini anggota masih di lapangan, terdiri dari anggota BPBD Sumsel, TNI, Manggal Agni, hingga warga turut memadamkan api tanpa libur," ungkapnya.

Selain dari pemerintah, para perusahaan perkebunan di Sumsel juga turut membantu dalam penanganan karhutla ini. Salah satunya APP Sinar Mas dan
mitranya. Diakuinya, APP Sinar Mas sangat membantu dalam penyediaan alat pemadam kebakaran dan Regu Pencegah Kebakaran (RPK) yang turun ke lapangan.

"Di Kabupaten Musi Banyuasin ada sekitar 50 unit alat berat yang dibantu termasuk helikopter waterbombing. Di luar konsesi, APP Sinar Mas juga turut membantu pemadaman kebakaran," tambah Sonny Septiono.

Sinar Mas juga turut membantu lima unit heli yang sangat dibutuhkan Satgas Karhutla Sumsel.

"Ada lima unit heli yang dibantu dari APP Sinar Mas. Kita gunakan untuk waterbombing dan sebagian untuk mengangkut tim yang akan diturunkan ke lokasi yang sulit terjangkau," katanya.

Kapolda Sumsel Irjen Firli Bahuri mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya penanganan karhutla di Sumsel. Ia menuturkan, Polri berkomitmen ikut menanggulangi karhutla. Juga secara persuasif, Bhabinkamtibmas di seluruh penjuru Sumsel terus memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan karhutla di Sumsel menjadi perhatian pemerintah pusat. Untuk itu, pihaknya akan melakukan upaya pemadaman karhutla dengan gotong royong yang bersifat massal di OKI.

"Kita juga akan upayakan membuat sumur bor  untuk memudahkan suplay air," tambah Herman Deru.

baca juga: Sambut Penghujan, Sungai Dinormalisasi

Sedangkan pemadaman dari jalur udara, lanjut Deru, Pemprov akan melakukan water bombing dengan menyiapkan 10 unit helikopter, ditambah dengan 2 unit heli melakukan patroli pantauan jalur udara. Itu saja tidak cukup untuk memadamkan lahan gambut yang susah padam. Teknologi modifikasi cuaca juga dikerahkan dengan menebarkan 800 kg garam di jalur udara. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More