Rabu 16 Oktober 2019, 08:42 WIB

Operasi Suriah: Berebut Menguasai Daerah Strategis Manbij

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Operasi Suriah: Berebut Menguasai Daerah Strategis Manbij

AFP/Ozan Kose
Militer Turki dari daerah wilayah perbatasan Turki dan Suriah, menembakkan misil ke Kota Ras al-Ain, Suriah yang dikuasai pasukan Kurdi.

 

KENDATI tekanan internasional meningkat, sanksi baru dari Amerika Serikat (AS), dan potensi konfrontasi langsung dengan pasukan pemerintah Suriah, Turki terus maju dengan operasi militer selama sepekan di wilayah timur laut Suriah.

Menyusul direbutnya kota-kota perbatasan dan desa-desa dari kelompok teror Kurdi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin (14/10) menekankan rencana untuk mendorong Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, yang Ankara mencap organisasi 'teroris', jauh dari daerah perbatasan.

Pasukan Turki telah berhasil meraih kemajuan ke timur Sungai Eufrat. Ankara sekarang mengarahkan perhatiannya pada Manbij, sebuah kota mayoritas Arab yang strategis yang telah berada di bawah kendali SDF sejak 2016.

Pejuang sekutu Turki dengan oposisi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) mulai berkumpul di pinggiran Manbij Senin (14/10) malam, sehari setelah Amerika Serikat mengumumkan penarikan pasukannya dari wilayah itu.

Langkah Washington diikuti laporan bahwa pasukan pemerintah Suriah dikerahkan dekat dengan Manbij setelah SDF membuat kesepakatan menit terakhir, yang ditengahi Moskow dengan Damaskus untuk menangkis kemajuan militer Turki.

Pada Selasa (15/10), satu unit kecil tentara pemerintah Suriah telah memasuki Manbij untuk pertama kalinya sejak 2012, sementara video yang beredar di media sosial menunjukkan para loyalis pemerintah bersenjata mengibarkan bendera Suriah di gedung-gedung di pusat kota.

Sementara itu, Rusia, sekutu militer utama Presiden Suriah Bashar al-Assad, mengatakan pasukannya berpatroli di garis depan antara pasukan sekutu Turki dan posisi tentara Suriah di luar kota untuk mencegah konfrontasi.

Perkembangan tidak hanya menandakan pembukaan front baru dalam perang yang menghancurkan Suriah, sekarang di tahun kedelapan, tetapi juga akhir dari pemerintahan SDF yang membayangi di daerah ini, menurut pengamat.

"SDF jatuh secara mengejutkan dengan cepat," kata Omar Kouch, seorang analis Suriah.

Ia menambahkan meskipun upaya Rusia untuk menengahi antara mereka dan pemerintah Suriah, kelompok itu dibiarkan berjuang sendiri.

"Impian mereka untuk menciptakan negara di sepanjang wilayah 'Rojava' akan berakhir jika pemerintah Suriah menegaskan kontrolnya," kata Kouch, merujuk pada upaya SDF untuk menciptakan federasi otonom di Suriah timur laut.

Terletak di tengah-tengah sabuk utara Suriah, Manbij telah menjadi target bagi sebagian besar pemain dalam konflik Suriah karena jalur pasokan yang melewatinya. Daerah ini sering berpindah tangan selama perang Suriah.

Setelah dikuasai oleh pemberontak anti-Bashar Assad pada 2012, kota tersebut diambil alih oleh kelompok teror Islamic State (IS, ISIL, atau ISIS) pada 2014, yang kemudian jatuh ke tangan SDF tiga tahun lalu.

Sebuah pusat ekonomi lokal, Manbij terletak berdekatan dengan jalan raya M4, rute komersial utama yang menghubungkan kota pelabuhan barat Latakia ke Aleppo, Raqqa dan Deir Az Zor yang kaya minyak di timur.

Menurut penduduk setempat, Manbij adalah rumah bagi sekitar 700 ribu jiwa orang, termasuk ribuan pengungsi internal.

Meskipun berada di bawah kendali SDF, setidaknya 80% penduduk kota itu secara etnis adalah Arab, dengan tatanan sosial yang terdiri dari 29 suku, kata Hassan al-Hussein, anggota dewan Suku Manbij, sebuah jaringan perwakilan suku.

Bagi Al-Hussein, operasi yang dipimpin Turki adalah kesempatan untuk mengusir SDF. Menurutnya para milisi Kurdi telah melakukan pelanggaran hak asasi terhadap penduduk setempat.

"Siapapun negara yang berhasil membantu kami kembali dengan selamat ke Manbij adalah sekutu kami," kata al-Hussein, yang mengungsi ke kota perbatasan Turki sejak kedatangan SDF. (AFP/Al Jazeera/OL-09)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More