Rabu 16 Oktober 2019, 08:15 WIB

Plus Minus Jakarta Era Anies pada Tahun Kedua

Insi Nantika Jelita | Megapolitan
Plus Minus Jakarta Era Anies pada Tahun Kedua

MI/Putri Yuliani
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan bioskop rakyat bernama Indiskop di Pasar Teluk Gong, Jakarta utara, Senin (7/10)

 

KINERJA Gubernur Anies Baswedan menjadi sorotan pada tahun kedua pemerintahannya. Bagaimana dia merealisasikan janji kampanyenya. Bagi anggota DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono, Gubernur Anies masih menyisakan setumpuk pekerjaan rumah.

Anggota dewan dari Fraksi PDI Perjuangan ini meminta Anies untuk tidak fokus pada program pembangunan rumah dengan skema down payment (DP) Rp0 saja.

"Bukan hanya sebatas rumah DP Rp0, tapi rumah layak huni bagi masyarakat Jakarta (patut diperhitungkan). (Selain) ada rumah DP Rp0, kan ada rumah susun sewa," kata Gembong, kemarin.

Pembangunan hunian DP Rp0 baru diresmikan Anies di kawasan Klapa Village, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, pada Sabtu (31/8). Bangunan di atas luas lahan 5.686 meter persegi itu memiliki 780 unit yang terdiri dari 21 lantai.

Anies, ujar Gembong, harus memerhatikan PR lain di Ibu Kota, seperti penanganan saat musim hujan tiba dan pemilihan kursi wakil gubernur yang tak kunjung usai sejak sepeninggalan Sandiaga Uno.

"Bagaimana antisipasi Pak Anies ketika Pak Anies menghadapi musim penghujan. Antisipasinya bagaimana? Apakah hari ini Pak Anies sudah memprediksikan langkah antisipasi banjir bagaimana?" ujarnya.

Soal ini, diakui Anies, bahwa program pengurangan banjir melalui normalisasi sungai berhenti. Ia lebih mengandalkan program pemerintah pusat, yakni pembangunan waduk-waduk di daerah hulu. Dalihnya banjir Jakarta masih terjadi karena masih belum berkurangnya volume air dari hulu yang mengalir ke hilir, ditambah faktor permukaan tanah di Jakarta pada daerah pesisir lebih rendah jika dibandingkan dengan laut.

"Selama volume dari hulu tidak dikendalikan, sebesar apa pun yang kita buat, sebesar apa pun jalur di laut, akan masalah. Kita menghadapi permukaan tanah yang lebih rendah dan permukaan air laut yang tinggi," ujar Anies, kemarin.

Untuk itu, ia fokus untuk membuat kolam-kolam retensi di daerah hulu untuk memecah volume air dari hulu. Ini juga akan ditambah dua waduk besar yang dibangun oleh pemerintah pusat, yakni Waduk Ciawi dan Waduk Sukamahi.

Keberhasilan

Di tengah soroton minus capaian Anies pada tahun keduanya, satu keberhasilan yang patut diapresiasi ialah peningkatan jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta.

Menurut Anies, peningkatan pengguna transportasi umum ini salah satunya terlihat dari jumlah pengguna bus Trans-Jakarta yang meningkat dalam dua tahun terakhir.

"Dalam dua tahun dari 2017 hingga 2019, jumlah penumpang naik hampir dua kali lipat kisaran 640 ribu penumpang per hari," ujar Anies.

Jumlah armada dalam tiga tahun terakhir juga meningkat, yaitu pada 2017 sebanyak 2.380 unit, 2018 sebanyak 3.017 unit, dan 2019 sebanyak 3.548 bus.

Bus Trans-Jakarta memiliki 260 halte yang tersebar dalam 13 koridor, Public Service Obligation (PSO) Transjakarta juga disebut bertambah 10 kali lipat dari Rp333 juta pada 2011 menjadi Rp4,1 miliar pada 2020.

Pada 2019, fasilitas bus Trans-Jakarta terintegrasi dengan dua moda transportasi lain berbasis rel. yakni MRT di Bundaran HI dan LRT di Jl Pemuda.

Untuk moda raya terpadu (MRT) Jakarta sejak resmi beroperasi pada 24 Maret 2019, transportasi umum berbasis rel ini memiliki penumpang harian mencapai 100 ribu orang pada akhir 2019. Hingga Juli 2019, jumlah rata-rata pengguna MRT Jakarta mencapai 94.824 orang per hari, naik 15,9% dari Juni lalu. (Put/Ssr/J-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More