Rabu 16 Oktober 2019, 05:20 WIB

Digitalisasi, BTN Capai Efisiensi Rp150 Miliar

(E-3) | Ekonomi
Digitalisasi, BTN Capai Efisiensi Rp150 Miliar

DOK BTN
Nasabah PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk membuka situs rumahmurahbtn.co.id di Jakarta,

 

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp150 miliar tahun ini dengan melakukan digitalisasi dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Salah satunya dengan menerapkan e-learning kepada pegawai yang akan dipromosikan.

"Dengan e-learning kami bisa menghemat sekitar Rp80 miliar. Ini berhasil dari efisiensi biaya akomodasi dan tiket peserta learning. Ini jumlah yang cukup besar dan tentu berimbas pada penurunan biaya operasional," ujar Direktur Strategic Human Capital BTN Yossi Istanto saat memberikan kuliah umum di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta, Jawa Tengah, kemarin.

Yossi mengatakan, dengan penghematan tersebut, BTN berhasil meningkatkan penghasilan pegawai meskipun kondisi keuangan perseroan sangat ketat.

Karena itu, dia mengatakan BTN akan terus meng-implementasikan sistem digital dalam pengelolaan SDM sehingga bisa berdampak positif terhadap kinerja perusahaan dan ke-sejahteraan pegawai.

"Inisiatif ini kami lakukan agar tercipta human capital yang andal dan mampu membawa Bank BTN beradaptasi serta meningkatkan produktivitas usaha di era industri 4.0," jelasnya.

Yossi mengatakan BTN telah banyak berbenah dalam mengelola pegawai atau SDM sebagai aset penting bagi perusahaan. Adapun inovasi yang dilakukan dari proses pe-rekrutan pegawai hingga pengembangan karier untuk menjadi pemimpin perseroan.

"Era disrupsi membuat perusahaan harus ber-inovasi jika ingin tetap hidup. Proses bisnis dan produknya juga perlu dilakukan inovasi," jelasnya.

Lebih jauh Yossi mengungkapkan, era disrupsi memunculkan peluang dan tantangan baru yang membuat bisnis memerlukan transformasi di bidang digital. Transformasi ini harus didukung dengan peningkatan kompetensi SDM.

"Peluang dan tantangan baru ini yang banyak membuat anak muda ingin menjadi entrepreneur," paparnya.

Menurut Yossi, menjadi entrepreneur merupakan salah satu pilihan yang bisa diambil di era disrupsi, mengingat rasio pengusaha di Indonesia masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, yakni sekitar 3,1%.

Pada kesempatan itu, Rektor UNS Jamal Wiwoho mengungkapkan era disrupsi telah membuat ketidakpastian terjadi pada dunia usaha. Hal itu bisa terlihat dari bisnis yang dulu berjaya, tetapi saat ini telah hilang atau terdisrupsi karena perkembangan teknologi. (E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More