Senin 14 Oktober 2019, 22:10 WIB

Kampus Diminta Mencegah Radikalisasi daripada Mengobati

Antara | Humaniora
Kampus Diminta Mencegah Radikalisasi daripada Mengobati

Dok. BNPT
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Hamli

 

DIREKTUR Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Hamli, mengatakan, mencegah lebih baik daripada mengobati terjadinya radikalisasi di lingkungan kampus, mengingat semakin menyebarnya paham radikalisme.

Menurut dia, di Jakarta, Senin (14/10), penangkapan seorang dosen salah satu perguruan tinggi yang menyembunyikan bom di rumahnya menjadi bukti penyebaran paham radikal terorisme tidak hanya menyasar kalangan mahasiswa, tetapi juga lingkungan dosen.

Artinya, infiltrasi paham dan jaringan kelompok radikal di kampus telah menyebar sedemikian masif yang menuntut upaya pencegahan secara komprehensif.

"Sekarang ini hampir semua elemen telah kena, polisi, TNI, dosen apalagi mahasiswa. Ini jangan sampai terjadi," katanya.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui BNPT ke beberapa kampus merupakan bagian dari progam kontra radikalisasi. Program di kampus dilaksanakan bukan untuk menghakimi kampus tertentu, tetapi upaya mencegah dan melibatkan sivitas akademika yang belum terpapar paham radikal agar menangkal penyebarannya di kampus.

Seperti yang dilakukan BNPT melalui FKPT Sulawesi Selatan (Sulsel) pada giat dialog 'Pelibatan Civitas Academika dalam Pencegahan Terorisme melalui FKPT Sulawesi Selatan' di IAIN Palopo, Kamis (10/10) lalu.

 

Baca juga:  Karya Film Mahasiswa Uhamka Raih Juara PPSF 2019

 

"IAIN Palopo tidak ada terorisme, namun kami menggelar acara di sini karena kami memang ingin mencegah, karena lebih baik mencegah daripada mengobati atau sebelum terjadi, karena ada seorang dosen yang tertangkap karena membuat bom," kata Hamli.

Oleh karena itu, menurut dia, seluruh insan kampus harus mengetahui beberapa pola dan modus yang dilakukan oleh kelompok radikal dalam menyebarkan paham dan merekrut anggota baru di lingkungan kampus. Pola-pola yang digunakan bisa sangat beragam, tetapi hampir memiliki modus yang sama di beberapa kampus.

Ada beberapa jalur yang biasa mereka manfaatkan sebagai metode perekrutan anggota baru semisal kajian kerohanian yang tertutup dan mentoring keagamaan yang ekslusif.

Modus yang lain mereka juga menawarkan tempat tinggal dan kos gratis dengan syarat mengikuti kajian mereka, mendampingi mahasiswa baru dan mengarahkan pada kelompok diskusi tertentu.

Seluruh pola dan modus di atas, menurut Hamli, harus diwaspadai di semua level kebijakan kampus baik rektorat, UKM, maupun mahasiswa. Pihak kampus harus segera menyadari bahwa keberadaan kelompok ini adalah nyata di beberapa kampus dan apabila tidak diberikan penanganan khusus bisa berkembang dengan leluasa. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More