Rabu 16 Oktober 2019, 01:40 WIB

Belajar dari Kesongo

Akhmad Safuan | Nusantara
Belajar dari Kesongo

MI/Akhmad Safuan
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau pengolahan sampah di Desa Kesongo, Kabupaten Semarang

 

JANGAN pernah mencari serakan sampah di Desa Kesongo. Anda pasti tidak akan menemukannya.

Desa yang berada di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu dikenal sebagai desa dengan lingkungan yang bersih dan rapi. Di Kesongo, warga terbiasa hidup bersih dengan mengelola sampah sesuai dengan jenisnya.

"Kami mengelola sampah mulai dari rumah, dengan memilah sampah organik dan nonorganik dikumpulkan dalam kantong yang berbeda," ungkap Mareta, warga Dusun Sejambu, Desa Kesongo.

Ada dua keranjang sampah terbuat dari anyaman bambu di setiap halaman rumah. Bertuliskan 'Iso Bosok' dan keranjang lainnya 'Ora Iso Bosok'. Kedisiplinan warga dalam pengelolaan sampah diawasi oleh satgas sampah yang sudah dibentuk.

Inspirasi dari desa inilah yang membuat Kongres Sampah Jawa Tengah digelar di Kesongo, akhir pekan lalu. Kongres yang diinisiasi Gubernur Ganjar Pranowo itu digelar untuk mencari solusi terhadap permasalahan sampah di provinsi ini.

"Kongres merekomendasikan pembentukan satgas sampah di setiap desa. Kami berharap gubernur segera menindaklanjuti hasil rekomendasi itu dalam waktu dekat," ungkap panitia kongres, Putut Yulianto, kemarin.

Satgas, lanjutnya, bertugas melakukan penegakan regulasi pengelolaan sampah. Kongres dihadiri ribuan pegiat lingkungan dan perwakilan desa.

Pengelolaan sampah di Kesongo menjadi percontohan. Setelah dipilah mulai dari rumah, sampah organik diangkut ke tempat penampungan sementara. Adapun sampah nonorganik didaur ulang menjadi beragam hasil kerajinan.

"Selain satgas sampah, kami juga sepakat membentuk Dewan Konsorsium Sampah Jawa Tengah di bawah kendali Dinas Lingkungan Hidup. Dewan melibatkan wakil pemerintah, akademisi, aktivis, pengusaha, dan masyarakat," tandas Putut.

Gubernur Ganjar berjanji menindaklanjuti hasil kongres itu. "Pembentukan satgas segera dilaksanakan di semua desa."

 

Andalkan kades

Kepala desa juga menjadi ujung tombak bagi pengelolaan sampah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali Masruri meminta para kepala desa mengelola sampah rumah tangga dengan cara didaur ulang.

Pekan lalu, sebanyak 295 kepala desa dikumpulkan pada sosialisasi pengelolaan sampah tingkat desa. "Dalam acara ini, kami ingin menyadarkan masyarakat bahwa membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, akan merugikan masyarakat," tambahnya.

Sementara itu, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mening-katkan pengelolaan sampah dengan membangun hanggar sebagai lokasi pengolahan sampah terpadu. Tahun ini sudah 10 hanggar yang dibangun dengan anggaran total mencapai Rp5 miliar. Sebelumnya, daerah ini juga sudah membangun lima hanggar dan sudah dioperasikan.

"Sepuluh hanggar baru akan beroperasi awal November. Setiap hanggar mampu mengelola 3-6 ton sampah yang berasal dari dua truk per hari," papar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Suyanto.

Saat ini, Banyumas memproduksi sampah hingga 70 truk per hari. Pada 2020 diharapkan seluruh sampah bisa ditangani dan dikelola. (WJ/LD/Ant/N-2)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More