Rabu 16 Oktober 2019, 00:00 WIB

Pengungsi Suriah Rindukan Kampung Halaman

Pengungsi Suriah Rindukan Kampung Halaman

AFP/ BULENT KILIC
Seorang pria mengibarkan bendera oposisi Suriah bertuliskan ‘Free Syria’ saat pasukan Turki berhasil merebut Kota Tal Talyyad

 

KHALIL al-Hassan berdiri di atap rumah batunya, memandang ke kejauhan ke sisi lain perbatasan.

Dia melarikan diri ke Akcakale, sebuah kota di sisi perbatasan Turki, empat tahun lalu. Pria 65 tahun itu menunjuk pada awan yang membubung di atas pohon-pohon besar yang mengelilingi desanya, Abdikoy, sekitar 4 km ke wilayah Suriah dekat Kota Tal Abyad.

"Jika aman, saya akan membawa keluarga saya kembali dalam sekejap," kata Al-Hassan, seorang etnik Arab Suriah yang terpaksa meninggalkan tanah leluhurnya di Suriah timur laut setelah kedatangan pasukan Kurdi. "Tidak ada yang lebih berharga dari tanah kami," tegasnya.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, harapan tampaknya telah kembali untuk Al-Hassan dan ribuan etnik Arab Suriah yang percaya operasi Turki di timur laut Suriah akan memberi mereka akses yang aman ke hamparan wilayah yang mereka klaim sebagai milik mereka.

Suku Qays Al-Hassan ialah salah satu dari banyak suku Arab Suriah di wilayah jazirah di negara itu, yang merupakan yang terbesar dari tiga daerah asli dari pemerintahan otonom de facto Kurdi di Suriah Utara dan Timur.

Wilayah ini mencakup tiga gubernur utama yaitu Deir Az Zor, Hasakah, dan Raqqa, serta Ain al-Arab, area yang berada di bawah administrasi Gubernur Aleppo.

Dengan sekitar 4,5 juta jiwa orang, wilayah timur laut Suriah sebagian besar dihuni orang Arab. Suku Kurdi berjumlah hanya sekitar 10% dari populasinya.

Sebelum 2015, Al-Hassan mengatakan mereka bahagia hidup berdampingan dengan tetangga Kurdi mereka, yang merupakan minoritas di antara suku-suku Arab di wilayah tersebut.

"Kami hidup berdampingan selama bertahun-tahun," kenangnya. "Tapi suatu hari, mereka berbalik melawan kita ketika kelompok bersenjata YPG merebut daerah itu dari para pejuang oposisi."

Al-Hassan mengatakan dia melarikan diri dari desanya dengan delapan anaknya ketika YPG muncul empat tahun lalu.

"Saya terus berdoa semoga mereka aman, terutama setelah saya kehilangan putra saya yang berusia 18 tahun karena senjata api," ujarnya.

Menurut Al-Hassan, penduduk desa itu dituduh mendukung pejuang IS. "Kami mencoba menjelaskan kami hanyalah petani jujur yang akan mati demi tanah kami," terangnya.

Bahkan dengan memiliki dokumentasi yang menunjukkan nama suku keluarga, yang membuktikan kepemilikan tanah, Al-Hassan mengatakan dia diperintahkan milisi Kurdi untuk merobeknya.

Anak perempuan Al-Hassan, Mona, yang melarikan diri dari pusat Kota Tal Abyad dengan suami dan dua anaknya pada 2016, mengatakan dia termasuk yang beruntung karena masih memiliki rumah. Itu bukan pelarian yang mudah, karena peluru YPG menargetkan truk yang mereka kendarai.

Adik iparnya, yang tetap berada di sisi lain perbatasan, memberi tahu dia bahwa rumahnya dijarah segera setelah dia lari menyelamatkan diri ke Turki. (AFP/ Haufan Hasyim Salengke/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More