Senin 14 Oktober 2019, 10:10 WIB

Community College Jadi Pilihan Kuliah Lebih Murah di AS

mediaindonesia.com | Humaniora
Community College Jadi Pilihan Kuliah Lebih Murah di AS

istimewa
Antonia Asri bersama kedua orang tua dan dosen setelah memenangi Angelo Donghia Senior Scholarship Competition.

 

MENEMPUH pendidikan jenjang perguruan tinggi di luari negeri telah menjadi impian sebagai  masyarakat Indonesia. Namun sayangnya untuk bisa melanjutkan pendidikan di mancanegara tidaklah mudah dan membutuh biaya yang tidak sedikit.

 Akan tetapi, ternyata ada cara agar bisa mewujudkan impian dalam menempuh penddikan di luar negeri. Salah satu lulusan SMA yang bisa kuliah di Amerika Serikat (AS) adalah Antonia Asri. Kini Asri tengah menimba pengalaman, wawasan, dan belajar hidup mandiri di ‘Negeri Paman Sam’.

“Banyak faktor yang mengurung cita-cita masyarakat Indonesia untuk study abroad, salah satunya adalah masalah biaya,” tutur Asri yang sempat meragukan untuk bisa menempuh pendidikan di AS.

Untuk bisa melanjutkan bidang seni kreatif dan desain di AS, Antonia memiliki tips atau langkah yang harus dilakukan agar biaya kuliahnya lebih murah. Ia memulai kuliah di community college dengan biaya jauh lebih murah jika dibandingkan kuliah di universitas.

“ Di jenjang ini, pelajar bisa memulai studinya untuk memperoleh gelar pendidikan associate degree (setara dengan diploma tiga di Indonesia) atau mengambil kelas dasar sebelum lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi,” jelas Asri di Jakarta, Senin (14/10).

“Bukan hanya affordable tuition, namun memulai studi di community college bisa memberi kalian waktu untuk menata portofolio yang pada nantinya siap kalian kirim ke universitas impian,” saran Asri.

“Sebagai mahasiswa internasional, saya tidak dapat mengikuti program financial aid yang hanya ditujukan untuk warga negara Amerika. Merit-based Scholarship adalah kesempatan besar bagi mahasiswa internasional untuk mencari bantuan dana pendidikan,” pesan Asri.

Asri sendiri mencoba peruntungan ke beberapa sekolah Art + Design. Akhirnya ia menemukan keberuntungan itu di universitas ternama California College of the Arts  yang terbantu kiriman 20 lembar portofolio dan artist’s personal statement.

Ia mendapat beasiswa parsial sebesar US$15 ribu per tahun dan menutup sepertiga dari total biaya pendidikan yang harus dibayarnya. Kesempatan berkompetisi di bidang seni kreatif dan desain sering dilewatkan baik oleh pelajar Indonesia maupun warga negara AS sendiri.

Ada banyak organisasi yang mempunyai misi membantu pelajar menjawab keterbatasan finansial dengan mengikuti kompetisi. Prosesnya memang lebih sulit dan butuh usaha ekstra, namun gagal atau berhasil, proses itu sendiri adalah suatu kebanggaan dan pencapaian. Belum puas dengan beasiswa yang didapatnya, Asri tertantang untuk lebih kreatif lagi.

“Bayangkan tersisaU $30 ribu biaya kuliah per tahun, ditambah pembayaran asuransi kesehatan, ditambah rumah tinggal, ditambah biaya hidup di Silicon Valley!” katanya.

Pada akhir 2015, Asri mulai berpartisipasi dalam beberapa kompetisi arsitektur dan desain interior yang berhadiahkan beasiswa yakni the Ken Roberts Memorial Delineation Competition (2015), IIDA Competition (2016). Sayangnya itu tidak membuahkan prestasi.

Pada 2017, Asri dipercaya untuk mewakili universitas dalam kompetisi desain interior yang diselenggarakan Angelo Donghia Foundation.  Di antara peserta-peserta dari berbagai negara bagiane, 13 pemenang dipilih setiap tahunnya.  Asri adalah salah satunya dan mendapat hak beasiswa sebesar US$30 ribu.

“Mendapat beasiswa untuk mimpi menyelesaikan studi di Amerika bukan hal mudah, tetapi bukan pula mustahil,” tutur gadis yang sekarang sudah bekerja sebagai desainer interior di Perusahaan ternama Hart Howerton.

Tip lain untuk mahasiswa  Indonesia yang merantau ke luar negeri adalah magang. Magang adalah   modal penting jika ingin mencari pekerjaan di AS selepas kuliah. “Internship atau work-study job bisa membawa curriculum vitae, untuk kemudian masuk tahap wawancara di perusahaan,” kata Asri. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More