Selasa 15 Oktober 2019, 18:06 WIB

Penguatan Gerakan 15 Menit Membaca

Wafi Aulia Tsabitah Finalis Girls Take Over Yayasan Plan Internasional Indonesia | Opini
Penguatan Gerakan 15 Menit Membaca

Dok Pribadi
Wafi Aulia Tsabitah

SETIAP insan pasti memerlukan wawasan. Wawasan yang luas dan banyak dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan memperkaya ilmu. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkannya. Seperti mengobservasi, bereksperimen, menonton, menulis dan membaca. Seorang pelajar pada umumnya menggunakan metode membaca untuk mendapatkan ilmu.

Membaca merupakan kegiatan melihat, mengambil informasi, dan belajar dari bacaan dengan maksud tertentu. Banyak istilah yang mengaitkan membaca dengan wawasan, misalnya 'membaca membuka jendela dunia'.

Maksud dari istilah tersebut adalah dengan membaca, kita bisa mendapatkan wawasan yang luas termasuk informasi dari seluruh dunia yang awalnya kita tidak tahu. Dengan membaca pula kita dapat memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik lagi. Membaca menjadikan seseorang, khususnya generasi muda seperti pelajar menjadi individu yang kreatif, inovatif, pandai dan cinta serta bangga terhadap budaya membaca.

Banyak bahan bacaan, salah satu contohnya adalah buku. Buku merupakan bacaan yang paling baik dan efektif untuk mendapatkan wawasan yang baik. Internet memang memuat banyak informasi, akan tetapi terkadang di internet terdapat hal-hal yang tidak pantas dan baik untuk ditampilkan bagi pelajar.

Pemerintah sudah berupaya untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya di sekolah serta kehidupan anak bangsa. Upaya yang dilakukan seperti mengeluarkan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 ayat (5) mengenai prinsip penyelenggaraan pendidikan melalui budaya membaca.

Lalu, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang menginisiasi kegiatan membaca nonteks pelajaran 15 menit bagi siswa sebelum masuk ke kelas mata pelajaran.

Upaya lain, seperti perpustakaan keliling yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Upaya-upaya ini sudah direalisasikan akan tetapi pelaksanaannya belum efektif.

Pelajar pada umumnya masih memiliki tingkat kesadaran yang rendah akan pentingnya membaca. Hal ini diakibatkan minimnya pengetahuan dan kecilnya pemahaman pelajar tentang membaca.

Ada banyak hal yang menyebabkan budaya membaca dan menulis di kalangan pelajar masih rendah. Pelajar indonesia lebih banyak mengoleksi kaset lagu ketimbang buku-buku yang mengandung nilai moral, budaya, manfaat, serta ilmu. Sebagai penguat, lebih banyak pelajar yang menghabiskan waktu di lingkungan pusat perbelanjaan ketimbang di perpustakaan daerah ataupun perpustakaan sekolah.

Untuk membudayakan membaca di kalangan pelajar indonesia dapat dilakukan dengan cara mengadakan kegiatan One Day One Page,  artinya setiap siswa diharuskan membaca buku setiap hari minimal satu halaman. Buku yang dibaca adalah buku yang dibawa dari rumah dengan syarat mengandung nilai-nilai pendidikan, yang tentunya memberikan dampak positif.

Kegiatan ini merupakan peningkatan dari kegiatan yang diadakan pemerintah yang hanya mewajibkan membaca 15 menit. Dengan One Day One Page, walau yang ditargetkan hanya satu halaman setiap harinya, seorang siswa akan mampu menuntaskan satu buku setebal 100 halaman selama 100 hari sekolah.

Hal lainnya adalah dengan menaruh pojok literasi kelas. Pojok literasi kelas harus diisi dengan buku-buku yang beragam, ada yang fiksi dan nonfiksi, ada novel ada pula buku-buku yang berbau ilmu pengetahuan. Makin banyak ragam pada buku tersebut, makin banyak pula ilmu yang bisa didapat oleh siswa.

Selain dua hal di atas, kita dapat membuat kegiatan siswa di hari libur dihiasi dengan membaca. Program yang dibuat adalah My Story. Kegiatan tersebut adalah kegiatan menceritakan tentang buku yang dibaca oleh siswa-siswi. Bisa menceritakan tentang pendapat terhadap buku tersebut, bisa pengalaman tentang buku tersebut, dan hal-hal yang menarik ketika membaca buku tersebut. Kegiatan ini selain menambah minat membaca, juga meningkatkan keterampilan menulis.

Baca juga: Anak Perempuan masih Terkendala Bersekolah di Daerahku
    
Dengan upaya yang dapat meningkatkan minat membaca pelajar. Maka meningkat pula kualitas pelajar indonesia. Dengan membaca, pelajar dapat dijauhkan dari ketidaktahuan dan menerima banyak wawasan. Dengan membaca, pelajar menjadi pribadi yang inovatif, kreatif dan pandai. Oleh karena itu pentingnya budaya membaca di kalangan pelajar.


 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More