Selasa 15 Oktober 2019, 17:18 WIB

Defisit Neraca Dagang Menyusut Karena Industri Bergerak Lambat

Andhika Prasetyo | Ekonomi
 Defisit Neraca Dagang Menyusut Karena Industri Bergerak Lambat

ANTARA/AUDY ALWI
Ekonom Indef Bhima Yudhistira

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor secara akumulasi, sejak Januari hingga September 2019, sebesar US$124,17 miliar. Angka tersebut turun 8% dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya yakni US$134,97 miliar.

Adapun, nilai impor yang tercatat selama sembilan bulan 2019 mencapai US$126,11 miliar. Angka itu lebih rendah 9,12% dari periode yang sama 2018 yang kala itu sebesar US$138,78 miliar.

Berdasarkan data tersebut, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari sampai September 2019 mengalami defisit US$1,94 miliar.

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan tahun lalu, defisit neraca perdagangan tahun ini masih lebih tipis dan terjaga.

Pada 2018, defisit neraca dagang selama sembilan bulan sudah menyentuh US$3,8 miliar.

"Defisit neraca perdagangan Januari-September tahun ini masih lebih baik dibandingkan tahun lalu. Sekarang angka defisit separuh lebih kecil dari periode yang sama di 2018," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Selasa (15/10).

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan pemerintah tidak bisa menjadikan angka defisit neraca perdagangan yang lebih kecil sebagai gambaran keberhasilan.

Pasalnya, ia berpandangan defisit terjadi lantaran industri Tanah Air tidak bergerak maksimal, bukan karena kinerja ekspor lebih bagus.

"Impor kita melambat karena pelaku industri mulai mengurangi kapasitas produksi sebagai langkah antisipasi pelemahan konsumsi domestik dan pasar ekspor utama," ucap Bhima kepada Media Indonesia.

Hal tersebut akhirnya membuat ketersediaan barang-barang siap pakai berkurang hingga akhirnya banyak pengusaha yang mengimpor produk jadi untuk memenuhi permintaan.

Baca juga: Nilai Ekspor September Terganggu Ketidakpastian Ekonomi Global

Bhima melihat kondisi tersebut tidak sehat dan jika terus berlanjut akan memperlebar defisit neraca perdagangan.

"Imbasnya besar. Bisa-bisa menjelang akhir tahun kebutuhan valuta asing naik. Rupiah beresiko melemah lagi. Apa lagi, November-Desember permintaan barang pasti naik karena musim Natal dan tahun baru. Kebutuhan BBM juga akan naik karena libur panjang," jelas Bhima.

Melihat tren yang terjadi di tiga tahun terakhir, nilai impor pada Oktober, November dan Desember memang selalu lebih tinggi dari September.

Pada 2017, nilai impor September tercatat US$12,79 miliar. Kemudian naik menjadi US$14,25 miliar pada Oktober, US$15,11 miliar pada November dan US$15,10 miliar pada Desember.

Sementara, di 2018, nilai impor September tercatat US$14,61 miliar. Sebulan setelahnya tumbuh ke angka US$17,67 miliar.
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More