Selasa 15 Oktober 2019, 16:05 WIB

Anak Perempuan masih Terkendala Bersekolah di Daerahku

Vena Luwisa Tlonaen - Finalis Girls Take Over Yayasan Plan Internasional Indonesia | Opini
Anak Perempuan masih Terkendala Bersekolah di Daerahku

Dok Pribadi
Vena Luwisa Tlonaen

'HABIS gelap, terbitlah terang.' Kutipan dari judul buku berisi kumpulan surat yang ditulis oleh RA Kartini yang berusaha untuk melepaskan kaum perempuan dari diskriminasi yang sudah membudaya pada masa kehidupannya, yakni 1879-1904.

Perempuan berpendidikan sudah sejak lama menjadi impian dan cita-cita seluruh kaum perempuan Indonesia. Dunia pendidikan bukan hanya milik kaum laki-laki, tetapi juga untuk kaum perempuan terutama di era globalisasi ini.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling mendasar dalam siklus kehidupan manusia baik laki-laki maupun perempuan yang tinggal di kota atau di desa.

Tetapi, di daerah saya masih banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan dikarenakan berbagai faktor.

Faktor-faktor yang mengakibatkan anak perempuan di daerah saya belum dapat merasakan pendidikan yaitu seperti kondisi ekonomi keluarga, keterbatasan kesadaran orangtua terhadap pentingnya pendidikan, aksesibilitas, sosial budaya, dan pandangan masyarakat terhadap pendidikan.

Karena pola pikir masyarakat di daerah saya yang menganggap bahwa mereka mempunyai pertimbangan untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya untuk anak perempuan.

Sebagian orangtua beranggapan anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga di rumah dan ilmunya tidak berguna.

Karena kebiasaan yang sudah melekat di kehidupan sebagian masyarakat desa sejak dulu, anak perempuan dilarang bersekolah dan dipaksa oleh orangtuanya untuk menikah atau bekerja agar mengurangi tanggung jawab orangtua terhadap faktor ekonomi.

Selain itu masalah aksesibilitas di mana sebagian besar anak perempuan tidak bersekolah karena akses jarak tempuh dari rumah menuju sekolah sangat jauh sehingga dengan alasan jarak tempuh menuju sekolah, orangtua memilih untuk anaknya tidak bersekolah.

Pemerintah memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak perempuan di Indonesia khususnya di desa-desa. Pemerintah dan masyarakat harus menyadari, anak perempuan juga merupakan investasi atau modal masa depan sebuah bangsa bukan hanya anak laki-laki saja. Merekalah yang kelak akan mengisi ruang-ruang proses berbangsa dan bernegara. Wajar saja ketika RA Kartini menyuarakan anak perempuan adalah bibit-bibit atau tunas yang harus diperhatikan dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat.

---

Penulis adalah siswa SMAN 1 Soe, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More