Selasa 15 Oktober 2019, 14:33 WIB

Krisis Air Berbalut Semangat Siswa SD di Nagekeo Flores

Ignas Kunda | Nusantara
Krisis Air Berbalut Semangat Siswa SD di Nagekeo Flores

MI/Ignas Kunda
Siswa-siswi SD Tuanio membawa jeriken untuk mengambil air dari mata air yang jaraknya jauh dari sekolah

 

HAMPARAN lekukan perbukitan dan Gunung Ebulobo yang gagah menjulang menjadi lansekap mengagumkan di depan Sekolah Dasar Inpres Tuanio, Desa Pagomogo, Kabupaten Nagekeo, NTT. Sesaat ketika sang surya mulai memunculkan sinarnya dan burung-burung pipit, zebra finch serta emprit haji mulai bangun dari sarangnya sambil berkicau merdu.

Kicauannya seakan memanggil anak-anak dengan langkah pelan namun pasti menapaki jalan rabat semenisasi desa menuju sekolah tempat belajar dan bermain mereka.

Pada salah satu tangan kiri atau kanan anak-anak ini menggantung sebuah jeriken berisi air bersih yang hendak dibawa ke sekolah. Senyum ceria terpancar dari wajah mereka kala berpapasan dengan orang dewasa sambil mengucapkan salam “selamat pagi”.

Musim kemarau panjang pada setiap tahun tak membuat layu semangat mereka. Dalam keterbatasan, mereka tetap semangat ke sekolah untuk menimba ilmu walaupun harus bersusah payah dengan menenteng jeriken air dan berjalan jauh.

“Kami setiap pagi ke sekolah dengan jeriken air ada yang 5 liter untuk mereka yang badan besar, kalau yang kelas 2 yang kecil biasnya hanya jeriken kecil yang 2 liter, saya jalan sekitar satu jam untuk sampai ke sekolah sekitar 3 km, ” ujar salah satu siswi di sekolah itu, Nasri, Selasa (15/10).

Bagi Nasri dan kawan-kawannya, tak ada lagi rasa lelah karena sudah menjadi kebiasaan mereka setiap pagi ketika berangkat ke sekolah. Mereka mengaku untuk membawa air ke sekolah harus berjalan jauh, menimba di mata air dengan perjalanan yang cukup jauh dengan medan menurun dan terjal.

“Kami ambil air pada sore hari untuk siap bawa ke sekolah, cukup jauh dari rumah, jalan menurun. Kami sudah biasa jadi tidak ada lagi rasa capek,” katanya.

Tak berbeda jauh dari Nasri, kawannya Carlyn, juga mengalami nasib sama. Namun ia masih lebih mudah karena untuk mengambil air tidak terlalu jauh dari rumah.

“Saya tidak terlalu jauh namun harus menunggu lama karena banyak orang di sini juga ambil air di tempat yang sama,” keluh Carlyn.

Baca juga: Warga Desa Woloede Nagekeo Protes Pekerjaan Jalan yang Janggal

Ke-75 siswa di sekolah ini harus membawa air setiap pagi. Mereka lalu menuangkan air dalam bak-bak di toilet. Sebagian bocah–bocah membawa jeriken yang masih berisi air ke depan kelas untuk menyiram tanaman. Keceriaan terus terpancar di wajah-wajah bocah-bocah ini.

Beberapa guru sibuk mengatur dan mengawasi para siswa agar air tidak tumpah karena sangat minim dan tak adanya aliran di sekolah mereka.

Para guru mengaku sudah sejak lama tidak ada sumber air yang masuk ke sekolah mereka. Beberapa kali usulan lewat pemerintah, dinas dan pemerintah desa tak berbuah hasil hingga kini.

“Setiap ada rapat komite atau desa saya juga sering omong tentang air bersih di sekolah namun tidak ada hasil hingga kini, saya akan selalu minta dan omong bahwa air bersih itu penting buat anak-anak di sekolah, hingga program cuci tangan yang dibuat sekolah tak bisa berjalan karena tidak ada air,“ keluh Kepala Sekolah SDI Tuanio, Ferdinandus Koba, sembari menyuruh siswa untuk masuk perpustakaan.

Menurut Ferdinandus, kemarau datang bulan Juli sehingga sungai di dekat sekolah telah kering. Biasanya sebelum bulan Juli, anak-anak datang hanya membawa jeriken dari rumah lalu mengisi air di sungai (kali) sebelum dibawa ke sekolah, sehingga waktu tempuh menjadi lebih cepat.

“Jarak tempuh relatif berbeda untuk setiap siswa sehingga kadangan banyak siswa yang terlambat masuk sekolah karena harus menempuh perjalanan panjang, dan jarak terdekat siswa ini sekitar 3-4 km dan bisa lebih dari sejam jalan ke sekolah,” ungkapnya.

Setelah semua siswa masuk sekolah dan membersihkan ruangan, mereka lantas memasuki perpustakaan sekolah yang letaknya di depan ruang-ruang kelas yang posisinya lebih rendah. Dalam ruangan berukuran kurang lebih 4x6 meter persegi, mereka berjubel duduk dalam tiap bangku dengan meja didepannya.

Mereka cekatan saling berebut mengambil buku kesukaan mereka. Sebagian siswa lagi ada yang tak kebagian tempat duduk terpaksa duduk di rak-rak buku yang kebetulan masih cukup luas. Rupanya ini merupakan kegiatan literasi sekolah yang selalu digiatkan oleh para guru.

Meraka sangat antuasias tak ada canda tawa lagi, semua mata langsung tertuju pada buku masing-masing. Seperti suara lebah bergemuruh dalam ruangan itu. Ada bocah yang membaca dengan mengeluarkan suara dan ada yang hanya duduk terdiam sambil menatapi kata demi kata.

“Kami membiasakan para siswa untuk membaca sebelum masuk ke kelas, karena ketika di rumah mungkin saja para siswa ini tidak membaca buku dan harus membantu orangtuanya angkat air atau bekerja. Selain itu para siswa ini kekurangan buku-buku pelajaran sekolah dan tidak ada penerangan memadai pada malam hari,” ungkap Ferdinandus.  

Selang beberapa lama lonceng sekolah berbunyi, semua siswa keluar dari ruang perpustakaan dan menuju depan ruang kelas masing-masing. Mereka berbaris mengarah pada 3 siswa yang sedang di depan tiang bendera bersiap mengibarkan bendera merah putih tanpa nyayian lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seorang siswa berdiri pada teras ruang kelas dengan posisi yang lebih tinggi memberi perintah untuk hormat ketika bendera ditarik ke atas.

Setelah itu, mereka menghentakan kaki, jalan di tempat sambil menyayikan lagu Bendera Kita ciptaan Dirman Sasmokoadi. Dilanjutkan dengan beberapa salam khas dengan tepuk tangan pramuka dan ppk (tepuk penguatan pendidikan) mengalun setelah menaikan bendera merah putih. Tak ada yang salah semuanya sesuai irama dan aba-aba, karena sudah terbiasa sehari-hari.

“Tepuk PPK! (seru bocah pemimpin barisan), Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, Integritas,” sambung semua siswa didepannya sambil bertepuk tangan bersaman dengan jedah dan irama beraturan.

Setelah itu semua siswa dalam barisan diistrahatkan dan semuanya hening mendengar pengarahan guru piket yang kemudian dilanjutkan doa bersama sebelum memasuki runga belajar untuk memulai pelajaran.

“Kami tetap melatih anak-anak ini untuk disiplin sebisa mungkin walau ketiadaan air. Kami harus tetapkan cinta pada bangsa sehingga membuat siswa ini pribadi tangguh dan tidak gampang mengeluh,” pungkas Ferdinandus.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More