Selasa 15 Oktober 2019, 13:10 WIB

Pakaian dan Suasana Hati yang Saling Berpengaruh

Fetry Wuryasti | Weekend
Pakaian dan Suasana Hati yang Saling Berpengaruh

123rf
pakaian yang anda kenakan mwnjadi gambaran suasana hati anda.

Mengganti pakaian kerja ke sepasang celana tidur, setelah hari yang panjang, setara dengan pelukan hangat. Tetapi bayangan untuk melepasnya di pagi hari dan mengenakan pakaian "nyata" alias baju kerja, bisa terasa seperti siksaan ketika Anda tidak ingin menghadapi dunia dan rutinitas.

Menurut Alyssa Dana Adomaitis, profesor dan direktur bisnis dan teknologi program mode di New York City College of Technology, ada alasan mengapa otak manusia mungkin tertarik pada pakaian yang kurang profesional ketika berada pada situasi hari libur, yaitu teori peran.

Dalam praktiknya, Adomaitis menjelaskan, secara tidak sadar kita berpakaian yang menggambarkan suasana hati.

"Emosi akan sangat mempengaruhi keputusan pakaian yang ingin dikenakan. Dari situlah celana yang berbahan hangat di hari libur muncul," ujar Adomaitis, dikutip situs Huffpost, Selasa (15/4).

Alih-alih membiarkan emosi menentukan pakaian kita, bagaimana jika kita memilih pakaian, yang secara strategis dapat mempengaruhi suasana hati ke arah pilihan kita.

Para ahli tentang berbagai hubungan antara pakaian, budaya dan perilaku manusia, mendukung semua gagasan bahwa pilihan pakaian yang disengaja dapat memiliki dampak yang halus namun bermakna pada perilaku dan pandangan kita.

Jika Anda mencari dorongan mood yang lebih semangat, cobalah memakai pakaian layak wawancara. Dalam sebuah studi tahun 2015, profesor psikologi California State University-Northridge Abraham Rutchick dan timnya menemukan berpakaian lebih formal daripada yang biasanya akan mengubah cara berpikir pemakainya.

"Pemimpin adalah orang-orang yang memiliki ide-ide besar ini. Pengikut adalah orang-orang yang harus khawatir tentang detail. Orang merasakan kepercayaan diri yang tinggi dalam pakaian formal, yang mengarah pada gambaran yang lebih luas dalam memandang dunia. Pakaian yang lebih formal bisa membantu Anda membuat keputusan dengan perspektif yang lebih luas," ujar Rutchick.

Andrew Reilly, seorang profesor yang mengajar kelas tentang budaya, jenis kelamin dan penampilan di Universitas Hawaii di Manoa, menyamakan dampak pakaian pada perilaku manusia dengan musik.

Berbagai jenis musik, kata Reilly, memengaruhi bagaimana seseorang akan berperilaku, dan apa yang dirasakan.

"Hal yang sama dapat dikatakan melalui pakaian. Kita bisa menggunakan pakaian untuk meningkatkan suasana hati kita," kata Reilly.

Reilly juga mengatakan mengenakan barang-barang dengan keterikatan positif yang kuat bisa efektif dalam mempengaruhi pandangan Anda, khususnya parfum.

Menurut artikel 2016 yang diterbitkan Brain Science, penelitian menunjukkan ingatan autobiografi yang dipicu oleh bau terasa jauh lebih emosional, daripada ingatan yang dipicu faktor lain.

Berkat aktivasi bagian otak tertentu, orang lebih dibawa ke waktu dan tempat asli ingatan mereka ketika ingatan dipicu oleh aroma. Dibandingkan ketika peristiwa yang sama diingat dengan cara lain.

"Jika aroma tertentu membawa Anda kembali ke tempat yang sangat bahagia, berikan semangat itu ketika Anda merasa sedikit tidak mood dan lihat bagaimana rasanya," ujar Reilly.

Namun jika aroma tidak keluar sebagai hal yang sangat penting, Kim Johnson, profesor emeritus Universitas Minnesota yang mengajarkan kursus meneliti efek pakaian pada perilaku manusia, mencatat bahwa memakai barang-barang yang dianggap jimat keberuntungan mungkin patut dicoba.

Sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam Ilmu Psikologi meneliti efek takhayul menemukan bukti yang mendukung gagasan bahwa orang percaya dalam jimat keberuntungan yang berkaitan pada sesuatu.

"Jadi, jika Anda percaya bahwa sesuatu yang Anda kenakan membantu mencapai hasil yang diinginkan di masa lalu, itu mungkin cukup untuk memberikan rasa aman dan rasa percaya diri tambahan saat Anda memakainya. Dengan kata lain, jangan membuang kaus kaki keberuntungan itu dulu," ujar Johnson.

Hari libur adalah waktu yang tepat mengenakan pakaian apa pun yang paling dipercaya sebagai hadiah untuk diri sendiri. Manusia makhluk sosial dan mereka mendapat dorongan dari respons dan reaksi positif dari orang lain. Adomaitis mencatat orang cenderung merasa paling nyaman dan percaya diri dalam pakaian yang dirancang dengan baik.

Reilly mengungkapkan mengenakan warna, potongan atau kain tertentu, karena komentar seseorang tidak perlu membuat Anda canggung.

"Anda perlu melihat apa yang membuat Anda nyaman secara fisik dan nyaman secara psikologis," ujar Reilly.

Untuk itu, abaikan memakai barang-barang desainer palsu. Bahkan jika mereka cukup meyakinkan untuk menipu semua orang di kantor, sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan di Psychological Science menunjukkan itu mungkin tidak memberi Anda kepercayaan diri yang Anda harapkan karena justru meningkatkan perasaan negatif tentang diri, terutama perasaan sebagai penipu.

"Cobalah untuk bersikap baik pada diri sendiri, apa pun yang Anda kenakan," tukas Reilly. (M-3)

Baca juga : Masak Bersama Sahabat, Memberdayakan Koki Rumah
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More