Selasa 15 Oktober 2019, 11:18 WIB

Hujan Hambat Upaya Pencarian Korban Topan Hagibis

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Hujan Hambat Upaya Pencarian Korban Topan Hagibis

AFP/Kazuhiro NOGI
Seorang perempuan melihat kondisi rumahnya di Nagano yang habur akibat hantaman Topan Hagibis, Selasa (15/10)

 

HUJAN baru mengancam menghambat upaya puluhan ribu penyelamat Jepang mencari dan menyelamatkan (SAR) korban selamat setelah topan kuat Hagibis telah menewaskan 67 orang, naik dari keterangan sebelumnya yang menyebut korban tewas berjumlah 58 orang.

Topan Hagibis menghantam ‘Negeri Matahari Terbit’ pada Sabtu (12/10) malam lalu, melepaskan angin kencang dan hujan lebat di 36 dari 47 prefektur di negara itu, memicu tanah longsor dan bencana banjir.

Korban tewas akibat bencana terus meningkat. Penyiar nasional NHK, Selasa (15/10), mengatakan 58 orang telah tewas, menurut pihak berwenang, sementara lebih dari selusin masih hilang.

Menjelang siang, korban tewas naik menjadi 67, dilaporkan NHK.

Baca juga: Topan Hagibis Tewaskan 58 Orang di Jepang

Pemerintah memberikan angka yang lebih rendah tetapi masih memperbarui informasinya.

"Bahkan sekarang, banyak orang masih belum ditemukan di daerah yang dilanda bencana," ujar Perdana Menteri Shinzo Abe pada pertemuan darurat bencana pada Senin.

"Unit mencoba yang terbaik untuk mencari dan menyelamatkan mereka, bekerja siang dan malam," kata Abe.

Ia berjanji negara akan melakukan apa pun yang bisa dilakukan bagi para korban dan orang yang selamat, memerintahkan Kementerian Pertahanan untuk memanggil 1.000 pasukan cadangan untuk bergabung dengan 31.000 pasukan aktif dalam operasi pencarian.

Tetapi pekerjaan penyelamatan yang berlanjut hingga malam pada Senin (14/10) berisiko digagalkan oleh tambahan hujan yang turun di Jepang tengah dan timur.

"Saya ingin meminta orang tetap waspada sepenuhnya dan terus mengawasi tanah longsor dan banjir," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dalam konferensi pers.

Di Nagano, salah satu daerah yang paling terpukul, para pejabat mengatakan mereka bekerja dengan hati-hati.

"Kami khawatir dampak hujan terbaru pada upaya penyelamatan dan pemulihan," kata pejabat setempat, Hiroki Yamaguchi, kepada AFP. "Kami akan melanjutkan operasi sambil mengawasi bencana sekunder akibat hujan saat ini."

Hembusan angin dari Hagibis mencapai hingga 216 kilometer per jam, tetapi hujan lebatlah yang paling merusak. Sebanyak 176 sungai membawa bencana banjir, terutama di Jepang timur dan utara, kata media setempat.

Di pusat Nagano, tanggul yang dijebol air dari sungai Chikuma mengalir ke lingkungan perumahan, membanjiri rumah-rumah sampai ke lantai dua.

Di tempat lain, tim penyelamat menggunakan helikopter untuk mengevakuasi korban yang selamat dari atap dan balkon, atau mengemudikan kapal menyusuri perairan berlumpur untuk menjangkau mereka yang terjebak.

Pada Senin sore, hampir 76.000 rumah tangga hidup tanpa listrik, dan pasokan air terputus ke 135.000 rumah.

Bencana itu membuat puluhan ribu orang tinggal di tempat penampungan, banyak dari mereka tidak yakin kapan mereka bisa kembali ke rumah.

"Semua yang ada di rumah saya hanyut di depan mata saya, saya tidak yakin apakah itu mimpi atau nyata," kata seorang perempuan di Nagano kepada NHK. "Saya merasa beruntung masih hidup," tandasnya. (AFP/Channel News Asia/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More