Selasa 15 Oktober 2019, 10:35 WIB

Setor Sampah, Uang Ditransfer

Put/Ssr/J-2 | Megapolitan
Setor Sampah, Uang Ditransfer

ANTARA/RENO ESNIR
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Direktur Bisnis Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo (kanan)

 

KINI pelajar di Jakarta bisa menabung dengan sampah. Ini terwujud berkat kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang menginisiasi Gerak­an Ayo Menabung dengan Sampah (GAMDS).

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini berlangsung di Balai Kota Jakarta, Senin (14/10), yang dihadiri Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan, jajar­an OJK, dan PT BNI.  

“Saya garis bawahi, budaya menabung butuh pembelajar-an dan pembiasaan. Begitu seseorang memiliki kebiasaan, akan tumbuh budaya dan selanjutnya akan membentuk karakter anak-anak,” ujarnya.

Langkah untuk memberikan insentif berupa tabungan kepada anak-anak yang me­ngumpulkan sampah plastiknya, dirasa sangat tepat karena secara tak langsung akan merangsang proses pembiasaan agar anak-anak mencintai lingkungannya sekaligus menumbuhkan kebiasaan menabung.

“Langkah memberikan insentif pada anak-anak yang mengumpulkan sampah kemudian ditabung ini me­rangsang proses pembiasaan. Kebiasaan menabung dapat, kebiasaan hidup bersihnya juga dapat,” lanjutnya.

GAMDS sudah dilakukan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, setelah melihat respons positif dari pilot project yang melibatkan lebih dari 160 ribu siswa penabung sampah.

Gerakan ini menjadi program yang mendorong kebiasaan menabung sejak usia dini dan menabung dengan cara yang mandiri melalui pemilahan sampah dari sumbernya dan menyetornya ke bank sampah.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih, mekanismenya, siswa memilah sampah anorganik di rumah masing-masing.

Selanjutnya, sampah dibawa ke sekolah untuk di­timbang petugas.

Hari penimbangan pun disepakati petugas dan sekolah.

Akan ada truk sampah anorganik yang mengangkut sampah dari para siswa untuk ditimbang di bank sampah induk (BSI).

Dari BSI, sampah dibawa ke RBU (Recycle Business Unit) dan pembayaran langsung ditransfer ke rekening BSI. Selanjutnya, BSI mentransfer uang ke agen bank yang tersebar di seluruh BSU di sekolah yang bisa langsung diterima nasabah bank sampah unit.

Andono menjelaskan, tiap sampah anorganik memiliki harga yang berbeda-beda bergantung dari jenis bahannya.
“Berapa yang didapat oleh pelajar nantinya ditentukan dari jenis sampah yang dikumpulkan dan beratnya,” papar Andono.

Anies mengharapkan, GAMDS akan diperluas pada sekolah-sekolah di wilayah selain Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Bahkan, ditambah kelompok-kelompok masyarakat dan gedung-gedung perkantoran serta pemerintahan di DKI Jakarta. “Berikan reward kepada siswa atau guru yang mencapai target tinggi. Jadikan kegiatan ini sebagai keceriaan,” tandasnya. (Put/Ssr/J-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More