Selasa 15 Oktober 2019, 06:05 WIB

Keluarga Bahagia yang Membahayakan

Wahyu Susilo Direktur Eksekutif Migrant CARE, sedang melakukan kajian tentang migrasi, radikalisme, dan terorisme | Opini
Keluarga Bahagia yang Membahayakan

MI/Seno
Ilustrasi MI

NAMA Whatsapp grup itu ‘Keluarga Bahagia’. Jangan bayangkan sirkulasi pembicaraan itu seputar petuah-petuah membina keluarga bahagia atau resep-resep masakan yang bisa dicoba untuk menikmati akhir pekan bersama keluarga.

WA grup itu merupakan wadah komunikasi dan media rekrutmen calon-calon teroris yang telah berbaiat ke ISIS. Ada lagi nama WA grup ‘Membuat Adonan Kue’. Jangan berharap mendapat foto-foto kuliner yang menarik selera untuk menyantapnya karena sesungguhnya WA grup itu ialah panduan atau petunjuk untuk melakukan aksi terorisme.

Testimoni para tersangka yang ditangkap dalam serangkaian operasi penyergapan terhadap jaringan teroris di Indonesia akhir-akhir ini dan kesaksian para mantan teroris menegaskan bahwa platform media sosial (salah satunya ialah WA grup) menjadi wadah yang ampuh untuk proses rekrutmen dan radikalisasi calon-calon teroris untuk mewujudkan niat jahatnya.

Interaksi yang terjadi antara Abu Zee Ghuroba, pemimpin JAD Bekasi, yang ditangkap bulan lalu dan Syahrial Alamsyah alias Abu Rara (pelaku penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto) itu terekam dalam WA grup ‘Keluarga Bahagia’.

Mungkin, permintaannya untuk dinikahkan dengan Fitri Andriana (turut serta melakukan penyerangan terhadap polisi pengawal Wiranto) menjadi petunjuk bahwa kebahagiaan berkeluarga bagi kalangan teroris ialah melakukan aksi teroris secara berpasangan.

Sungguh terasa ironis. Namun, ternyata fenomena tersebut telah menjadi salah satu karakter aksi teroris di Indonesia, setidaknya dalam lima tahun terakhir ini.

 

Garis depan

Dalam dekade sebelumnya, kalangan teroris lebih menempatkan perempuan pada peran domestik tunduk patriarkis seperti tafsir teologis dominan yang dianutnya. Namun, dalam perkembangannya kehadiran perempuan di garis depan aksi-aksi teroris tidak terhindarkan.

Menurut kajian Leebarty Taskarina dalam bukunya Perempuan dan Terorisme (2018) keterlibatan perempuan secara aktif dalam terorisme telah mengubah wajah terorisme yang selama ini diidentikkan dengan maskulinitas laki-laki.

Dalam buku itu diurai sejarah hidup perempuan muda yang menjadi istri Santoso, pimpinan MIT, yang menyerukan aksi terorisme dari hutan seputar Poso. Bermula sebagai istri yang tak mengerti apa-apa hingga menjadi kombatan di hutan. Buku itu memunculkan kembali pertanyaan dikotomis terkait dengan aktivitas perempuan dalam terorisme: Apakah dia korban (terseret perbuatan suami) atau pelaku aktif (dengan atau tanpa sepengetahuan suami)?

Perkembangan lain tidak banyak dipakai pada dekade sebelumnya ialah rekrutmen melalui media sosial. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan jaringan internet, gagasan radikalisme/ekstremisme tersebar luas di platform-platform media sosial dan penerima pesan.

Perkembangan teknologi ini pulalah yang menjadi faktor penting mengakselerasi penetrasi gagasan radikalisme/ekstremisme di kalangan pekerja migran Indonesia.

Ada dua film dokumenter (Jihad Selfie dan Pengantin) yang diproduseri Noor Huda Ismail mengurai tentang pengaruh teknologi informasi dan media sosial dalam penetrasi gagasan radikalisme/ekstremisme di kalangan kaum muda Indonesia. 

Jika dalam film Jihad Selfie (2016) mengungkap fakta-fakta perekrutan anak-anak muda yang sedang belajar di Mesir dan Turki untuk menjadi jihadis di Suriah, film Pengantin (2018) mengungkap fakta modus perekrutan perempuan (termasuk di dalamnya PRT migran Indonesia) menjadi pendukung gerakan jihadis ISIS melalui perkawinan online.

Kisah itu juga terjadi pada Fitri Andriana, PRT asal Garut, yang terpapar radikalisme/ekstremisme ketika dinikahi Abu Rara. Dalam proses peresmian pernikahan massal, para eksponen JAD yang berbaiat ke ISIS oleh Abu Zee.

Aksi pasangan Syahrial Alamsyah–Fitri Andriana ini bukan aksi teroris pertama yang melibatkan pasangan suami-istri. Aksi bom Surabaya yang terjadi pada Mei 2018 bahkan dilakukan pasangan suami-istri Dita-Puji dan anak-anaknya.

Dua tahun sebelumnya, Oktober 2016, juga terungkap pasangan suami-istri Nur Solihin–Dian JN mencoba melakukan aksi bom panci di Istana Merdeka. Aksi itu tercatat sebagai aksi bom bunuh diri pertama dengan pelaku perempuan meski akhirnya bisa digagalkan dan pelakunya ditangkap.

Aksi pasangan suami–istri teroris Indonesia juga dilakukan di luar negeri. Setelah sempat diragukan, pada Juli 2019 Mabes Polri mengonfirmasi bahwa pelaku bom katedral di Jolo, Filipina, ialah pasangan suami-istri asal Indonesia Rullie Rian Zeke–Ulfah Handayani Saleh.

Fakta-fakta di atas memperlihatkan bahwa kelompok teroris baru sudah tidak terpaku lagi pada cara-cara usang yang maskulin patriarkis dan berani menerobos tafsir domestifikasi perempuan dengan memperbolehkan perempuan menjadi pelaku aktif aksi-aksi terorisme.

Itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi siapa saja yang bekerja untuk upaya pemberantasan terorisme. Cara pandang yang lama tentu sudah tidak memadai lagi. Dibutuhkan cara pandang dan pendekatan yang komprehensif untuk mengidentifikasi corak baru aksi-aksi terorisme yang telah melibatkan keluarga (termasuk anak-anak) sebagai pelaku aktifnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More