Selasa 15 Oktober 2019, 07:20 WIB

Sebelum Para Rektor Minta Maaf, Nasir sudah Maafkan

Atikah Ismah Winahyu | Humaniora
Sebelum Para Rektor Minta Maaf, Nasir sudah Maafkan

Dok. BKPP KEMENRISTEKDIKTI/ADN
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Mohamad Nasir berpamitan kepada para rektor perguruan tinggi se-Indonesia.

 

JELANG pergantian kabinet, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Mohamad Nasir pamit di hadapan para rektor perguruan tinggi se-Indonesia.

“Saya mohon maaf kepada Bapak dan Ibu Rektor, Direktur, dan Kepala Layanan Pendidikan Tinggi, saya sebagai menteri tinggal enam hari, setelah itu demisio­ner. Barangkali dalam masa pergaulan, tatap muka, pertemuan, mungkin ke­tersinggungan dan apa pun saya mohon maaf sebesar-besarnya,” ujar Nasir di acara Monitoring dan Evaluasi Capaian Triwulan III 2019 yang digelar di Jakarta, kemarin.

Ucapan Nasir disambut riuh tepuk tangan para rektor. Menteri Nasir pun mengaku senang karena selama menjabat, hubungan kementerian dengan para rektor dan direktur berjalan baik.

“Sebelum Bapak dan Ibu minta maaf, sudah saya maafkan,” imbuhnya dengan nada bercanda.

Nasir mengaku tidak pernah bermimpi akan menjadi menteri sebelumnya.  Baginya, jabatan tersebut merupakan sebuah amanah yang harus dijalani dengan setulus hati.

Pada periode mendatang, jika tidak terpilih kembali sebagai menteri, Nasir berencana untuk melanjutkan profesinya sebagai seorang pengajar.

“Nggak jadi menteri, ya kembali jadi dosen. Orang tugasnya dosen, ya meng­ajar. Tidak ada sesuatu yang aneh bagi saya, biasa,” tuturnya.

Nasir berharap pemerintah dapat mendorong riset di Indonesia untuk masuk ke kelas dunia, meningkatkan indeks pendidikan tinggi dan akses ke perguruan tinggi, meningkatkan daya saing, serta mendorong peningkatan jumlah lulusan besertifikat kompetensi dan profesi.

Tak lupa, dia menitipkan rancangan rencana strategis bagi Kemenristek-Dikti periode 2020-2024 mendatang, siapa pun menterinya.

“Prioritas utama ialah bagaimana riset perguruan tinggi masuk kelas dunia. Risetnya semakin tahun harus semakin meningkat. Sekarang baru tercapai di 34 ribu, bagaimana di 2024 bisa mencapai 50 ribu-60 ribu. Kalau bisa, di Asia kita bisa masuk 10 besar,” tutur Nasir.

Adapun terkait dengan hilirisasi riset atau inovasi, Nasir berencana mendorong upaya tersebut agar ke depannya riset dan inovasi yang telah dihasilkan dapat digunakan industri di Tanah Air.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek-Dikti Ismunandar mengaku banyak kesan dan pelajaran yang didapatkan dari Menteri Nasir.

“Ada tiga hal penting dari banyak kesan. Pertama, penekanan tata kelola yang baik, meliputi transparansi, fairness, akuntabilitas, dan tanggung jawab. Kedua, kerja cepat dan tepat, serta terus mendorong peningkatan kualitas dan kinerja. Ketiga, kuliner ayo, tapi tahu batasnya dan selalu diimbangi dengan olahraga,” terang Ismunandar. (Aiw/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More