Selasa 15 Oktober 2019, 00:00 WIB

Soal Nyinyir di Medsos, Pengamat: Pahami Konteksnya

M. Ilham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum
Soal Nyinyir di Medsos, Pengamat: Pahami Konteksnya

MI/Susanto
Peneliti LIPI Siti Zuhro

 

PENELITI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro menyatakan, masyarakat Indonesia harus mampu menempatkan diri dalam menyampaikan pendapat ataupun kritik di muka umum ataupun media sosial.

Hal yang harus diperhatikan yakni soal konteks penyampaian kritik maupun komentar tersebut.

"Tapi bukan berarti apa yang kita kritisi itu lalu mengadu domba dan sebagainya. Dalam konteks pak Wiranto kita harus punya empati, orang lagi kesakitan, mungkin bukan Masalah ITE-nya tapi Masalah empati," ujar Siti saat dibubungi, Senin (14/10).

Dari suatu konteks, maka seharusnya masyarakat mampu bertindak ataupun berucap sesuai dengan konteksnya. Berkaca dari kasus yang menimpa Wiranto, Siti menyatakan tidak sepatutnya kebebasan berkekspresi digunakan untuk menyudutkan korban.

"Kita sebagai sesama harusnya ikut menunjukkan simpati dan empati. Sehingga jangan bersuara yang kayak mengejek dan sebagainya," terangnya.

Baca juga : Istri Prajurit tidak Bisa Sembarang Nyinyir di Medsos

"Sebagai sesama warga ada yang sakit jangan kita berceloteh. Sebaliknya , ada jaminan masyarakat untuk bebas berekspresi," sambungya.

Menyusul soal wacana aparatuur sipil negara (ASN) akan ikut diproses jika ditemukan nyinyir di media sosial, Siti tidak sepakat akan hal itu. Menurutnya, Indonesia menganut paham demokrasi yang seharusnya tidak menakuti masyarakat untuk menyampaikan pikiran dan pendapatnya.

"Bukan berarti semua hal diatur. Gak begitu juga. Sisi lain tentu kita punya kebebasan berekspresi jangan sampai semua hal diatur sampai hal detail sehingga masuk ke ranah privat. Itu gak bagus juga," tutur Siti.

Rencana pemerintah untuk ikut menyisir ASN yang nyinyir di media sosial, kata Siti, hanya menimbulkan rasa takut. Hal itu dinilai berbahaya bagi kesehatan demokrasi Indonesia.

"Nanti ASN gak berani apa-apa. Sedikit sedikit mau bicara, dianggap tabu. Tapi ASN juga harus punya kesantunan, etika," ujarnya.

Oleh karenanya masyarakat Indonesia diminta untuk lebih memahami kondisi dan situasi sebuah isu. Selain menempatkan simpati dan empati, hal itu dimaksudkan untuk menjaga hakikat kebebasan ekspresi itu sendiri.

"Jadi menurut saya, kita harus tahu kapan harus bicara kritis kapan tidak. Konteks itu yang kita hormati bersama. Jadi kita ikuti aturan mainnya," tandas Siti. (OL-7)

Baca Juga

Ist/DPR

Berbagi Pengalaman Menghadapi Covid-19 dengan Beberapa Negara

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Juni 2020, 21:02 WIB
Adalah 41 peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan XLV Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang...
Antara/Septianda Perdana

KSP Minta Tokoh Masyarakat Ikut Kampanyekan Protokol Kesehatan

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Jumat 05 Juni 2020, 20:14 WIB
Moeldoko menyebut protokol kesehatan pada masa kenormalan baru harus menjadi pola hidup baru di...
Ilustrasi

Densus 88 Amankan Satu Terduga Teroris dan Bahan Peledak

👤Antara 🕔Jumat 05 Juni 2020, 18:40 WIB
Densus 88 bersama Tim Gabungan Resmob dan Datasemen Khusus Antiteror Polda Kalbar mengamankan terduga teroris berinisial AR (21) beserta...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya