Selasa 15 Oktober 2019, 04:30 WIB

Rasio Ridho Sani: Melawan Penjahat Lingkungan

Rifaldi Putra irianto | Hiburan
Rasio Ridho Sani: Melawan Penjahat Lingkungan

MI/SUSANTO
Direktur Jendral Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani.

 

PENGUNGKAPAN kasus kejahatan pembakaran hutan dan lahan (karhutla) bukanlah hal yang mudah. Apalagi hutan dan lahan di Indonesia sangat luas. Namun, hal ini menjadi makanan sehari-hari bagi Direktorat Jendral Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum KLHK).

Direktur Jendral Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani, atau akrab dipanggil Roy, menceritakan suka dukanya bersama tim saat melakukan pengungkapan kasus kejahatan karhutla.

“Melawan kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan ini merupakan tugas yang sangat serius, kegiatan yang berdampak langsung kepada masyarakat. Upaya penegakan hukum di karhutla ini merupakan sebuah tanggung jawab yang besar. Jadi, kami melihat ini lebih kepada hal-hal yang penting untuk kami lakukan,” ujar Roy di sela kunjungannya di Jambi, beberapa waktu lalu.

Roy menilai kegiatan tersebut merupakan bentuk perjuangan untuk memberikan kembali hak lingkungan hidup yang baik kepada masyarakat. Nyatanya, tugas itu tidaklah mudah. Lokasi-lokasi karhutla sering kali tidak mudah didatangi. “Kita kan hanya tahu lokasi berdasarkan titik koordinatnya. Saat ke lokasi, sering sekali berada jauh dari akses jalan. Tersasar juga sudah biasa,” tutur Roy.

Hal-hal tak terduga juga menjadi tantangan tim Gakkum KLHK. Misalnya, roda kendaraan yang terperosok ke dalam lubang. Tentu ini menyulitkan karena diperlukan usaha ekstra untuk menarik kendaraan kembali ke jalan. Tidak jarang, lanjut Roy, lokasi yang dituju tidak bisa dilewati kendaraan, baik roda empat maupun roda dua sehingga tim harus mencari akses lain.

Ancaman dan perlawanan

Roy menuturkan, pihaknya kerap kali bertemu dengan pelaku kejahatan yang melakukan perlawanan. Kadang kala, ada rintangan dari masyarakat. “Sejumlah masyarakat menghalau kedatangan tim sehingga tidak dapat masuk lokasi. Dan ini kan berbahaya karena jika jumlahnya besar bisa menimbulkan persoalan baru,” imbuhnya.

Roy mengungkapkan, pihaknya juga mendapatkan ancaman di lapangan yang membahayakan karena para pelaku kejahatan banyak yang mempersenjatai diri.

Bahkan, dalam penyelesaian karhutla pada 2015, tim disandera oleh kelompok masyarakat besar. “Kita melakukan negosiasi dibantu oleh beberapa tokoh masyarakat. Setelah proses negosiasi yang alot, tim diperbolehkan keluar dari lokasi,” kenang Roy.

Ia menambahkan, pihaknya selalu melihat situasi dan kondisi sebelum menggambil tindakan dan tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan permasalahan baru. “Kalau seandainya kita berhadapan dengan publik atau masyarakat, tentu kita menghindari bentroknya. Akan tetapi, kalau kita berhadapan dengan penjahat tidak ada negosiasi, kita akan menindak mereka, “ tukasnya.

Roy yang telah menjabat selama empat tahun sebagai Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK hingga saat ini menyatakan telah berhasil membawa 720 kasus penegakan hukum pidana serta 800 sanksi administratif terkait kasus lingkungan hidup dan kehutanan.

“Tim Gakkum KLHK beberapa kali mendapatkan penghargaan dari kepolisian. Kami salah satu kementerian yang aktif melakukan proses penegakan hukum, dan juga dapat penghargaan dari Bareskrim Polri, “ ucapnya.

Menurut Roy, penghargaan bukanlah hal yang paling diutamakan dalam melakukan penindakan kejahatan hutan dan lahan. “Yang jauh lebih penting ialah bagaimana bisa melaksanakan misi dalam mewujudkan hak-hak konstitusi kepada masyarakat dengan mendapatkan lingkungan hidup yang lebih baik sehingga mereka akan lebih sehat dan menyelamatkan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini. Tentunya, ini kami lakukan bukan hanya untuk menyelamatkan generasi saat ini, melainkan juga generasi yang akan datang, “ pungkasnya. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More