Senin 14 Oktober 2019, 23:18 WIB

6 Polisi Diperiksa Karena Kasus Kendari, KontraS: Belum Cukup

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
6 Polisi Diperiksa Karena Kasus Kendari, KontraS: Belum Cukup

Antara/Reno Esnir
kooridnator KontraS Yati Andriyani

 

PEMUTASIAN Kapolda Sulawesi Tenggara dan pemeriksaan enam anggota Polres Kendari pascameninggalnya dua mahasiswa, La Randi dan Yusuf Kardawi saat aksi unjuk rasa dinilai belum cukup. Hal itu disampaikan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (KontraS) Yati Andriyani.

"Kalau selama ini sudah ada tindakan-tindakan Kapolri mencopot Kapolda, kemudian melakukan pemeriksaan terhadap enam orang [anggota polisi] menurut kami itu belum cukup, karena itu hanya hal-hal yang berkaitan dengan etik dan prosedur," ujar Yati di Kantor KontraS, Senin (14/10).

Oleh sebab itu, KontraS meminta kepolisian untuk mengusut kasus tersebut melalui ranah pertanggungjawaban pidana.

Berdasarkan hasil investigasi yang sudah dilakukan, KontraS menduga bahwa terjadi tindakan di luar prosedur yang dilakukan aparat kepolisian sehingga mengakibatkan meninggalnya dua mahasiswa.

Lebih lanjut, Yati menjelaskan bahwa pelanggaran tersebut merujuk pada Pasal 7 Ayat (1) Peraturan Kapolri No. 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa, yang berbunyi, "Larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d adalah: a. bersikap arogan dan terpancing oleh perilaku massa, d. membawa senjata tajam dan peluru tajam, dan h. melakukan perbuatan lainnya yang melanggar peraturan perundang-undangan."

Baca juga : Yusuf Kardawi Diduga Ditembak Lebih Dulu Baru Dipukuli

Sementara itu, Kepala Divisi Pembelaan Hak Asasi Manusia KontraS Raden Arif Nur Fikri menyayangkan pihak kepolisian yang hanya terfokus pada penindakan anggotanya yang membawa senjata api,

"Tapi tidak fokus pada siapa yang melakukan penembakan terhadap Almarhum Yusuf dan La Randi."

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulawesi Tenggara AKBP Harry Golden Hart menolak menyebut keenam anggota polisi Polres Kendari sebagai terduga penembak.

"Mereka [statusnya] adalah terperiksa karena pelanggaran disiplin karena tidak mematuhi perintah pimpinan dan melanggar SOP pengamanan unjuk rasa," ucapnya saat dihubungi Media Indonesia.

Menurut Harry, pihak Bareskrim Polri masih melakukan proses penyidikan guna mengungkap kematian dua mahasiswa itu.

"Saat ini sudah memeriksa beberpa saksi sebanyak 21 orang. Kemudian dilakukan rangkaian uji balistik untuk mendapatkan pembuktian materil secara ilmiah atau scientific investigation," pungkasnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More