Selasa 15 Oktober 2019, 00:20 WIB

Dedikasi Mbah Kuru dan Nasib Tenun Tradisional

*/H-1 | Humaniora
Dedikasi Mbah Kuru dan Nasib Tenun Tradisional

MONIKA BR PERANGIN-ANGIN
Mbah Kuru meski berusia 78 tahun tetap cekatan menenun.

 

ADA pemandangan istimewa di antara banyak stan yang tampil di Pameran Kebudayaan Nasional di Jakarta, akhir minggu lalu. Di antara stan makanan, kesenian, sampai pakaian khas daerah, ada stan tenun yang cukup menyedot perhatian pengunjung.

Di stan itu terlihat seorang perempuan berusia 78 tahun yang menenun. Aksi Mbah Kuru, yang merupakan satu-satunya penenun di pameran itu berlangsung se­minggu penuh. Tampak Mbah Kuru cekat­an menggerakkan mesin pintal manual tradisional. Sesekali dia menjelaskan jenis kain tenun khas Yogyakarta kepada kaum milenial yang iseng bertanya.

Sudah setengah abad lebih menenun, Mbah Kuru sepertinya sangat berharap kain tenun tidak dilupakan anak-anak muda. Dalam pameran kali ini, Mbah Kuru membawa alat tenun miliknya dari Yogyakarta. Dia merasa nyaman saat menenun dan mengajarkan ke pengunjung di stan Atas Nama Daun.

Mbah Kuru mengaku bersedih jika mendengar kabar saat ini penenun sudah langka. “Yang memesan (kain tenun) banyak, tapi yang menenun sudah dikit, jadi Mbah bingung,” ujar Mbah Kuru. Satu lagi yang hebat pada Mbah Kuru, dia masih cekatan dan bisa setengah hari menenun di pameran itu. Namun, di acara itu Mbah Kuru mengaku kelelahan.

“Beliau kecapaian karena dari hari pertama dari pukul 11.00 WIB sudah mulai menenun. Istirahatnya sebentar,” ujar Sita, salah satu pemilik stan. Meski lelah, ditanyai seputar tenun, Mbah Kuru sangat antusias dan senang menceritakan bagaimana proses menenun. Dia pun menuturkan perbedaan benang yang digunakan saat dulu dia menenun dengan benang yang sekarang digunakan, sedikit berbeda.

Rupanya benang yang dulu digunakan Mbah Kuru untuk menenun ialah benang murni melalui proses pewarnaan hingga penjemuran sebelum digunakan untuk menenun. Berbeda dengan benang yang sekarang, Mbah Kuru tidak perlu mewarnai dan menjemurnya karena sudah siap dan tinggal pakai.

Yang cukup ironis dari kain hasil tenunan Mbah Kuru, dijual dengan sangat murah. Kain tenun berbentuk setagen dijual dengan kisaran harga Rp25 ribu sampai Rp35 ribu. Bahkan, setagen polos berukuran 8 meter dibanderol dengan harga Rp35 ribu. (*/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More