Senin 14 Oktober 2019, 20:45 WIB

Polisi Sebut Jaringan Terorisme Manfaatkan Grup Medsos

Ferdian Ananda Majni | Megapolitan
Polisi Sebut Jaringan Terorisme Manfaatkan Grup Medsos

MI/Susanto
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

 

KEPALA Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan pihaknya mengungkapkan hasil penyelidikan diketahui jaringan terorisme mengunakan grup media sosial Telegram untuk melakukan pendekatan komunikasi dan informasi dengan sesama anggota antar wilayah.

"Mereka melakukan amaliyah, kelompok ini tidak terstruktur dilapangan tetapi terstruktur sistematis dan intens di medsos," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (14/10).

Dedi menjelaskan, kelompok ini melakukan amaliyah secara independen sesuai kemampuan masing-masing anggota.

"Bebas. Tidak harus melakukan amaliyah di tempat, bisa melakukan amaliyah di Papua, memberikan info di Telegram, saya akan melakukan amaliyah di Papua mennggunakan senjata tajam," sebutnya

Dedi menambahkan, pemberitahuan mengenai rencana aksi juga diberitahukan di media sosial kelompok tersebut. Sehingga dipastikan kelompok itu aktif menggunakan media sosial.

"Apa pun yang mereka akan lakukan, sebagai contoh misalnya, akan melakukan amaliyah, dia selalu akan menyampaikan, mengkomunikasikan, di struktur medsos dia," lanjutnya.

Karo Penmas Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan pihaknya telah menangkap sebanyak 22 terduga tersangka teroris di sejumlah wilayah. Sebab, pihaknya tidak menginginkan aksi serupa yang menimpa Wiranto terulang kembali.

"Sampai hari ini ada 22 tersangka teror yang berhasil dilakukan preventive strike. Densus 88 masih melakukan kerja keras mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (14/10)

Menurutnya, penangkapan ke-22 terduga teroris itu dimulai sejak Kamis, (10/10) hingga hari ini Senin (14/10). Masing-masing SA alias Abu Rara, FA, WB alias Budi, AP, ZA, S alias Jack Sparrow, R alias Putra, TH, NAS, A, RF, JF, WA, ABS alias Arif Hidayat, PH, M, AJ, JJ, AAS, MRM alias Rivki, dan UD.

Mereka ditangkap di enam wilayah berbeda yakni kota Jakarta, wilayah Banten, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, hingga Sumatra. Dedi menegaskan Densus 88 Antiteror tidak akan berhenti melakukan penangkapan terhadap para terduga teroris. Pihaknya akan bekerja keras memitigasi aksi teror bahkan hingga pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober mendatang.


Baca juga: Rahmat tidak Terima Bekasi Disebut Sarang Teroris


Dedi menjelaskan, penangkapan diawali dari dua terduga teroris yang menyerang Menko Polhukam, Wiranto yakni SA alias Abu Rara dan istrinya FA di Menes Kabupaten Pandeglang Banten.

Kemudian Kamis (10/10) Densus 88 menangkap terduga teroris di Jawa Barat berinisial WB alias Budi merupakan simpatisan dari kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) sejak tahub 2015. Dia juga sudah membaiat (mengucapkan sumpah setia) terhadap IS.

WB memiliki peran melakukan perekrutan terhadap orang yang digabungkan AS ditangkap 30 September lalu atau kelompok AL yang ditangkap 14 Oktober 2019.

Densus 88 menyita barang bukti berupa serbuk yang diduga bahan membuat bom, airsoft gun, pisau, buku jihad, konsep rencana amaliyah secara tertulis dan dokumen pribadi.

Kemudian pada Jumat (11/10), Densus 88 menangkap terduga teroris berinisial AP di Bali. Dia ditangkap sekitar pukul 02.45 WIB dan ada kaitannya dengan Abu Rara.

AP diketahui aktif melakukan tutorial cara membuat bom. Bahka AP turut mengajak putranya yang berinisial ZA, 14, untuk melakukan aksi amaliyah.

Densus 88 turut menyita barang bukti berupa busur panah, bom rakitan, serta komponen-komponen yang dipersiapkan untuk membuat bom.

Selanjutnya, dihari yang sama Densus 88 menangkap terduga teroris di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Terduga yang berinisial S alias Jack Sparrow, merupakan bagian dari kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Densus 88 kembali menciduk terduga teroris berinisial TH di kawasan Cengkareng Timur, Jakarta Barat. TH merupakan pendukung IS dan berbaiat dengan kelompok teroris pimpinan Abu Zee.

Penangkapan berlanjut ke Jambi, terduga teroris berinisial R alias Putra ini yang berafiliasi dengan kelompok teroris JAD dan IS itu merupakan mastermind (aktor intelektual) dari seluruh 22 teroris yang ditangkap oleh Tim Densus. R memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris pimpinan Abu Zee, da FAI teroris yang ditangkap di Magetan Sabtu, 24 Agustus 2018 lalu.

Tim Densus kembali menangkap terduga teroris lainnya berinisial NAS itu ditangkap di wilayah Lampung Selatan Minggu (13/10) kemarin. NAS juga berbaiat kepada ISIS, dan kelompok teroris pimpinan Abu Zee.

Di hari yang sama, di wilayah berbeda, Densus 88 menciduk terduga teroris berinisal A di Poso, Sulawesi Tenggara. A terlibat dalam pembuatan bom bunuh diri atas perintah teroris yang berstatus daftar pencarian orang (DPO), Ali Kalora dan juga membantu aksi kelompok teroris MIT.

Selanjutnya terduga teroris berinisial RF ditangkap di wilayah Karanganyar, Jawa Barat. Dia tergabung dalam kelompok teroris JAD Cirebon. Tak lama, terduga teroris berinsial JF ditangkap di wilayah Cirebon.

"Dia merupakan Amir atau pimpinan JAD Cirebon. Densus juga menangkap terduga berinisial WA yang berada di wilayah yang sama," lanjutnya Dedi.

Terakhir terduga teroris lainnya berinisial ABS alias Arif Hidayat, PH, AJ alias Yudistira, MRM alias Rivki dan UD ditangkap di Lampung. Sedangkan JJ, AAS ditangkap di wilayah Jawa Barat. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More