Senin 14 Oktober 2019, 17:07 WIB

Perluasan Ganjil-Genap Berlaku, Pencemaran Udara Turun 34,5%

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Perluasan Ganjil-Genap Berlaku, Pencemaran Udara Turun 34,5%

MI/SASKIA ANINDYA PUTRI
Kebijakan ganjil-genap untuk kendaraan pribadi

 

PENCEMARAN udara Jakarta disebut berkurang sampai 34,5%. Berkurangnya pencemaran udara disebut sebagai dampak dari perluasan pembatasan lalu lintas kendaraan pribadi ganjil dan genap.

Perluasan ganjil genap telah berjalan resmi pada 9 Oktober lalu. Dari hasil pantauan stasiun pengukuran udara di Kelapa Gading didapati terjadi penurunan pencemaran udara tertinggi pada 4 Oktober sebesar 34,5%.

Saat itu angka pencemaran udara dari penilaian PM2,5 adalah sebesar 42,11 mikrogram permeter kubik. Sebelumnya saat perluasan ganjil genap belum berjalan, indeks pencemaran udara mencapai 64,38 mikrogram permeter kubik.

"Alhamdulillah kualitas udara membaik setelah gage. Turunnya sampai lebih dari 20%," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih di Balai Kota, Senin (14/10).

Sementara itu, penurunan terendah pada stasiun yang sama terjadi di pekan kedua resmi berlakunya perluasan ganjil genap yakni hanya menurun 11,8% dari semula 56,75 mikrogram permeter kubik menjadi 50,05 mikrogram permeter kubik.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di stasiun pengukuran di Bundaran HI. Pada titik itu penurunan pencemaran udara terjadi lebih rendah dibandingkan dengan di Kelapa Gading.

Pada 4 Oktober penurunan pencemaran udara hanya mencapai 6,31% dari 65,98 mikrogram permeter kubik menjadi 62,34 mikrogram permeter kubik. Angka ini sekaligus menjadi titik penurunan pencemaran udara terendah di Stasiun Bundaran HI.

Sementara penurunan pencemaran udara tertinggi sebesar 13,66% terjadi pada pekan kedua diberlakukannya perluasan ganjil genap. Skor pengukuran udara PM2,5 di Bundaran HI saat itu menurun dari 66,17 mikrogram permeter kubik ke 58,13 mikrogram permeter kubik.

Andono mengatakan penurunan pencemaran udara tidak siginifikan di Bundaran HI terjadi karena adanya aksi demonstrasi di depan Gedung MPR/DPR yang berimbas pada ditiadakannya gage pada pekan tersebut.

"Ada aksi demonstrasi yang terus berlanjut dengan intensitas gas air mata yang cukup masif. Juga pada saat itu gage ditiadakan. Selain itu, di kawasan itu juga tengah dibangun trotoar. Sehingga penurunan pencemaran udara tidak signifikan di pekan tersebut," ungkapnya.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta memperluas gage dari semula hanya berlaku di sembilan ruas jalan menjadi berlaku di 25 ruas jalan. Hal ini ditujukan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang bisa mengurangi pencemaran udara.

Langkah ini dilakukan berdasarkan Instruksi Gubernur No 66 tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.(OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More