Senin 14 Oktober 2019, 13:06 WIB

Untid Kecolongan Dengan Nyinyiran Dosen Terkait Wiranto

Tosiani | Nusantara
Untid Kecolongan Dengan Nyinyiran Dosen Terkait Wiranto

Tosiani
Komentar yang ditulis Hendrarto, dosen Universitas Tidar Magelang terkait penusukan yang menimpa Menkopolhukam Wiranto

 

UNIVERSITAS Negeri Tidar (Untid) Magelang, mengaku kecolongan terkait komentar nyinyir salah seorang dosennya bernama Hendrarto di media sosial terhadap peristiwa penusukan yang dialami Menkopolhukam Wiranto di Pandeglang, Banten beberapa waktu lalu. Saat ini Hendrarto masih menjalani pemeriksaan di universitas.

Kepala Biro Umum dan Keuangan, Untidar Magelang, Among Wiwoho, mengatakan, pihaknya telah menerima teguran dan peringatan secara lisan dari Kemenristekdikti yang disampaikan melalui telepon pada Minggu (13/10) lalu terkait viralnya komentar nyinyir Hendrarto. Kementerian mengarahkan agar dosen tetap jurusan administrasi negara itu segera diproses.

"Kami terus terang merasa tidak nyaman dan kecolongan untuk kasus ini. Yang bersangkutan sudah dipanggil dan masih diperiksa di fakultas. Kami belum menerima hasilnya," ujar Among dalam keterangan persnya di ruang multimedia Untid, Senin (14/10).

Proses penindakan terhadap Hendrarto diakui Among makan waktu lama karena pihak pimpinan Untid tidak ada di tempat. Rektor Untid masih dalam perjalanan dari Jakarta, Wakil Rektor masih ada kegiatan di tempat lain.

"Kita punya dewan kode etik dan tim pembinaan aparatur. Kita melalui proses di kita. Kita serahkan ke dewan kode etik, bagaimana sikap pimpinan terhadap kasus itu," kata Among.

Dari hasil pemeriksaan itu, katanya, akan disimpulkan dan ditindaklanjuti, apakah yang bersangkutan melanggar kode etik. Setelah dilakukan rangkaian pemeriksaan-pemeriksaan, barulah ada sangsi disiplin yang dijatuhkan. Sementara ini sebelum ada sanksi, yang bersangkutan masih dibiarkan melakukan aktivitas mengajar seperti biasa.

Dijelaskan, sanksi disiplin ringan dapat berupa teguran ringan, tertulis dan pernyataan tidak puas secara tertulis. Sanksi sedang berupa penundaan kenaikan gaji berkala dan penundaan kenaikan pangkat. Sanksi berat berupa penurunan pangkat hingga pemberhentian baik secara hormat dari permintaan yang bersangkutan, maupun tidak hormat.

"Fakultas sudah memanggil yang bersangkutan, tapi belum tahu hasilnya apa. Menurut kami ini pelanggaran disiplin," katanya.

Hendrarto selama ini bekerja sebagai dosen tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sejak 1992. Ketika itu Untid masih perguruan tinggi swasta. Tahun 2014 Untid sudah perguruan tinggi negeri, Hendrarto masih mengabdi di jurusan Administrasi Negara. Sekarang dalam proses dari pegawai yayasan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Arahnya akan menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Hendrarto juga pernah menjabat sebagai Ketua KPU Kota Magelang tahun 2008.

baca juga: Kabut Asap Terekstrem di Sumsel, Seluruh Sekolah Diliburkan

Sebelumnya, di media sosial Hendrarto menyatakan sejumlah pernyataan nyinyir terkait penusukan Wiranto. Antara lain habis ditusuk obati pakai betadine aja, terus suruh pulang. Jangan cengeng dan jangan jadi beban negara! Gag malu sama anak STM apah?". Komentar itu menjadi viral. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More