Senin 14 Oktober 2019, 10:05 WIB

Santri Diminta Terus Mencegah Radikalisme

Dhika Winata | Politik dan Hukum
Santri Diminta Terus Mencegah Radikalisme

MI/PIUS ERLANGGA
Parade Santri cinta damai di Hari Bebas Kendaraan Bermotor kawasan Bundaran HI, Jakarta, kemarin

 

MENTERI Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut santri memiliki tanggung jawab menangkal radikalisme. Mereka pun diminta tak lelah untuk melawan radikalisme.

“Ini kan proses yang tidak berkesudahan, never ending proses karena perubahan masyarakat itu sangat dinamis,” kata Lukman saat membuka parade santri di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin.

Lukman menyebut masalah bangsa tak sederhana. Maka dari itu, santri diminta ikut mengawal peradaban dan perubahan Tanah Air.

“Tanggung jawab santri tentu akan lebih besar dalam peradaban bersama, tugas santri dalam melawan radi­kalisme tidak boleh berhenti,” ujar dia.

Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini pun mengajak para santri untuk cinta dan menjaga perdamai­an. Mereka harus menyebar nilai-nilai Islam yang substantif.

“Cara kita mengatasi berbagai persoalan ialah bagaimana nilai Islam yang subtantif, yang esensial menjadi inti pokok ajaran agama islam, yaitu memanusiakan manusia itu menjadi roh jiwa santri dalam menyebarkan nilai agama,” ujar dia.

Lukman meminta para santri untuk menyebarkan pesan perdamaian melalui identitas diri yang selama ini ditampilkannya untuk menjaga persatuan bangsa Indonesia. Selama ini santri telah berperan dengan baik menjaga pagar persatuan Indonesia. Maka dari itu, santri merupakan duta perdamaian yang menebarkannya kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.
Lukman mengatakan, santri ialah pribadi yang mendalami agama Islam dari akar kata salam yang artinya kedamaian dan menjadi inti jiwa santri.   

Menag mengingatkan agar santri tetap menjaga identitas yang harus selalu ditampilkan dalam kehidupan beragama dan bernegara.    

“Sejak hari pertama mondok, santri sudah berhadap­an dengan kemajemukan. Menghargai dan menghormati itu tidak tidak berarti membenarkan, apalagi mendukung.”          

Islam moderat

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menambahkan, peringatan hari santri bukan ditujukan untuk diri santri, melainkan untuk menebalkan prinsip Islam moderat.    

“Santri tidak hanya kuat dalam religiositas, tetapi juga hebat dalam rasa nasionalisme. Untuk menjaga hal itu, negara perlu hadir, menjaga, dan memupuknya,” kata Kamaruddin.    

Dalam acara tersebut, dilakukan pembentangan bendera merah putih sepanjang 740 meter oleh ratusan santri dari Pesantren Asshidiqiyah Jakarta. Acara parade santri juga diisi tausiah keagamaan dari LH Miftah Maulana Habiburahman dan panggung musik selawat oleh Veve Zulfikar.  

Parade santri yang digelar di arena car free day (CFD) itu untuk menyambut Hari Santri pada 22 Oktober mendatang. Tema parade ialah Santri cinta damai. Tema itu dipilih lantaran santri memiliki peran besar dan penting terhadap persatuan dan kerukunan masyarakat Indonesia.

Hari Santri ditetapkan Presiden Joko Widodo melalui Keppres No 22 Tahun 2015. Parade hari santri diinisiasi Kementerian Agama untuk meneguhkan posisi kaum santri di garda terdepan menyuarakan perdamaian di tengah maraknya pertikai­an, konflik, dan peperangan di berbagai belahan dunia. (P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More