Minggu 13 Oktober 2019, 20:30 WIB

Negara Harus Tegas terhadap Terorisme

Mathias Brahmana | Politik dan Hukum
Negara Harus Tegas terhadap Terorisme

ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Pemerintah harus bersikap tegas terhadap aksi terorisme yang meresahkan masyarakat, ujar Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj.

 

NEGARA tidak boleh kalah dengan radikalisme dan terorisme yang terjadi di Tanah Air sekarang ini. Pemerintah harus bersikap tegas terhadap aksi terorisme yang meresahkan masyarakat seperti kasus penyerangan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Serang, Banten, belum lama ini.

"Aparat kepolisian harus mampu mengungkap dan menindak aktor intelektual di balik aksi-aksi teror yang terjadi di Tanah Air. Kami Nahdlatul Ulama (NU) meminta aparat kepolisian harus mampu bertindak tegas terhadap radikalisme dan tidak boleh ada kesan negara kalah dalam menghadapi terorisme," ujar Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj, Minggu (13/10).

Dikatakan, saat ini radikalisme sudah ada di mana-mana. Ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumbawa, Bima, Sulawesi Tengah, dan lain-lain.

"Saat ini, Indonesia sudah darurat terorisme dan radikalisme, karena selama ini kita bersikap terlalu ramah kepada mereka. Maka demi menyelamatkan NKRI, menyelamatkan seluruh bangsa Indonesia, maka sekecil apa pun yang mereka lakukan (terorisme) harus ditindak tegas," kata Said.

Ia menuturkan bahwa tindakan terorisme adalah tindakan biadab yang jauh dari norma, agama, dan akhlakul karimah.

"Apa yang mereka lakukan adalah tindakan biadab dan tidak sesuai dengan agama apa pun. Jadi kita harus lawan bersama. Apalagi mereka sudah berani terang-terangan," katanya.

Sementara Staf Khusus Badan Pembina Ideologi PAncasila (BPIP), Romo Antonius Benny Susetyo, dalam dialog 'Pancasila di Tengah Radikalisme' yang digelar Minggu (13/10) mengingatkan kembali bahwa radikalisme sudah mengancam keutuhan bangsa dan negara.

"Saat ini radikalisme sudah sangat mengancam keutuhan bangsa. Karena paham-paham radikalisme ingin mengubah pancasila yang telah menjadi kesepakatan bangsa ini. Maka ke depan tantangan kita adalah bagaimana memperkuat ideology pancasila dalam praktek kehidupan berbagsa dan ber-Tanah Air," katanya.
 


Baca juga: Ma'ruf Amin Minta Penanganan Radikalisasi tidak Represif


Maka, tambahnya, bangsa ini perlu membumikan pancasila agar mampu menyentuh kaum milenial.

"Membumikan pancasila di kalangan anak muda penting dalam menangkal paham radikalisme. Hal ini agar para kaum milenial tak mendapat masukan tentang agama dari sisi yang sempit sehingga kemudian menciptakan radikalisme tadi," tandasnya.

Benny menambahkan bahwa radikalisme harus dilawan dengan gerakan kebudayaan.

"Radikalisme itu tidak berdiri sendiri. Radikalisme itu akibat dari tata dunia yang tidak beradab, tidak adil, tata dunia yang dipenuhi permusuhan, tata dunia yang dipenuhi marjinalisme, dan cara melihat agama hanya dalam bahasa satu kebenaran," ujarnya.

Menurut Benny, kebudayaan menjadi salah alat dan benteng untuk melawan radikalisme. Karena itu, gerakan kebudayaan harus diperkuat. Tradisi-tradisi yang telah ada di masyarakat, misalnya bersih desa, selamatan, larung, dan tradisi-tradisi lain, harus dihidupkan kembali.

"Itulah benteng kekuatan menghadapi radikalisme. Mereka takut kalau tradisi itu kuat," lanjutnya.

Benny menambahkan, budaya-budaya lokal harus ditampilkan kembali dengan cara memberi kemasan baru agar tidak terkesan kuno dan menarik bagi anak-anak muda. Kreativitas seni budaya anak-anak muda yang bersifat masal harus ditampilkan.

"Pusat-pusat kebudayaan juga perlu dibangun," pungkasnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More