Minggu 13 Oktober 2019, 15:00 WIB

Festival 7 Sungai, Masyarakat Diharap Lebih Cinta Lingkungan

Reza Sunarya | Nusantara
Festival 7 Sungai, Masyarakat Diharap Lebih Cinta Lingkungan

MI/Reza Sunarya
Masyarakat memeriahkan festival 7 sungai di Subang

 

FESTIVAL 7 Sungai digelar di Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Sabtu (12/10). Kemeriahan menandai kegiatan tahunan yang sudah menjadi agenda tingkat nasional tersebut.

Dalam festival tersebut ditampilkan gelaran seni budaya, di antaranya kesenian Pencak Silat, Jaipongan dan Gemyung. Namun yang penting adalah makna yang terkandung seperti gotong royong dan pendekatan diri kepada Sang Pencipta.

Acara bertema Hurip Cai ini mendapat sambutan antusias warga berbagai daerah. Sejak pagi, warga sudah memadati area sekitar muara pertemuan sungai, padahal acara baru akan dimulai pukul 10.00 WIB.

Aksi teatrikal yang mengawali acara cukup menyedot perhatian warga. Teatrikal persembahan tujuh sungai dikemas untuk menggambarkan kebiasaan warga memanfaatkan sungai seperti bermain, mencuci hingga menangkap ikan.

Tampak sekelompok anak-anak dan remaja berkumpul, mereka bermain di antara bebatuan sungai sambil bersenda gurau. Kemudian rombongan ibu-ibu datang melakukan aktivitas mencuci. Disusul para bapak membawa jaring menggambarkan aktivita menangkap ikan.

"Teatrikal persembahan tujuh sungai dikemas untuk menggambarkan kebiasaan warga memanfaatkan sungai. Dulu berbagai aktivitas keseharian mulai bermain, mencuci hingga menangkap ikan, ada di sini. Sekarang kebiasaan itu sudah jarang terlihat. Sebab sungai dangkal serta terlihat kotor, jadi tempat buang sampah. Melalui festival ini kami berharap bisa mengembalikan fungsi sungai seperti dulu," kata Kadis Pariwisata Pemuda dan olah Raga Kabupaten Subang, Ahmad Sobari.

Festival 7 sungai ini masuk ke dalam 100 wonder event festival, masuk level nasional bahkan internasional. Festival ini juga merupakan perwujudan kearifan lokal masyarakat Cibuluh untuk menjaga alam, dalam hal ini sungai.

"Festival 7 Sungai adalah kearifan lokal yang menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Subang, khususnya Subang selatan. Dengan festival ini masyarakat harus lebih mencintai dan bisa menjaga sungai," imbuhnya.

Ketujuh sungai itu yakni sungai Cipunagara, sungai Cileat, sungai Cikembang, sungai Cikaruncang, sungai Cilandesan, sungai Citeureup dan sungai Cidarko. Kampung Ciseupan, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, merupakan tempat pertemuan ketujuh sungai tersebut.

Baca juga: Jambi Gelar Festival Sungai Batanghari

Ahmad Sobari berharap kegiatan ini bisa menggerakkan perekonomian, pelestarian lingkungan dan menampilkan potensi-potensi seni dan budaya yang ada di masyarakat.

Harapan senada diungkapkan Lilis, salah seorang pengunjung festival 7 sungai. Lilis berharap festival yang sudah digelar keempat kali ini bisa meningkatkan perkembangan pariwisata budaya sekaligus momentum pemeliharaan sungai.

Namun sayang, untuk menuju lokasi Desa Cibuluh selain jarak dari Kota Subang cukup jauh hingga menghabiskan waktu 1,5 jam, kondisi jalan juga tidak memadai karena infrastruktur masih belum menunjang.

Diakui Bupati Subang, Ruhimat, infrastruktur di Kabupaten Subang masih jauh dari harapan masyarakat. Namun Rohimat berjanji perbaikan jalan menuju lokasi pariwisata akan segera diperbaiki pada anggaran tahun 2020.

"Infrastruktur menjadi prioritas dan tahun 2020 akan segera dilakukan pembenahan," ujar Ruhimat.

Tidak hanya perbaikan jalan yang rusak, pembukaan akses-akses baru serta jalur lingkar di Kota Subang segera dibangun dengan kekuatan dana Rp400 miliar.

"Dengan anggaran Rp400 miliar dan tambahan dana lainnya kami optimistis infrastruktur di Kabupaten Subang akan lebih baik," tukasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More